Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Alat sadap


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Benar saja siang itu Mely benar-benar harus mengeluarkan uang yang cukup banyak, hanya untuk mentraktir para staf sekretaris di restoran yang dirinya pilih. Dia sudah terjebak oleh permainan yang dimainkan oleh Diandra.


Itu semua karena Diandra yang dengan sengaja memesan banyak makanan, hingga dua meja itu penuh dengan tumpukan piring.


Tidak tanggung-tanggung, Mely sampai harus menghabiskan hampir 10jt rupiah, hanya untuk satu kali makan saja. Itu hampir setara dengan gajinya sebagai ketua sekretaris di perusahaan itu.


Diandra yang melihat itu hanya tersenyum tipis sambil berpura-pura menunduk.


Ini baru permulaan saja, wanita bikini, sebagai kompensasi untuk sikap kamu yang kecentilan pada suamiku, juga menyebarkan rumor buruk tentang aku di kantor, batin Diandra.


Saat semuanya sudah pulang, tangan Diandra tiba-tiba saja dicekal oleh Mely.


"Kamu sengaja kan, mau membuatku mengeluarkan uang banyak?" tanya Mely, dengan tatapan tajam.


Dengan sekejap Diandra langsung merubah raut wajahnya menjadi ketakutan, ditambah sorot mata polos tanpa dosa.


"M–maksud, Mba Mely, apa?" ujar Diandra, seolah tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Mely.


Kepala Diandra menunduk dalam, seolah takut untuk bertahap muka dengan Mely, tubuhnya dibuat sedikit bergetar, untuk menambah maksimal peran yang dia sedang mainkan.


"Kamu sengaja memesan banyak makanan, untuk mengerjai aku, kan?" Mely tampak menatap wajah menunduk Diandra dengan tatapan tajam.


"B–bukannya tadi, Mba Mely, sendiri yang bilang mau mengajak kami makan di sini? Aku hanya mengikuti apa yang Mba mau," jawab Diandra, masih dengan menundukkan kepalanya.


Mely memandang kesal pada wajah polos Diandra, dia benar-benar kesal karena lebih dari setengah gajinya harus habis hanya untuk mentraktir para staf sekretaris, siang ini.


"Heh! Untung saja kamu saudara Pak Giovano, kalau bukan sudah aku buat kamu menyesal karena semua ini," gumam Mely, yang masih terdengar oleh Diandra.


"Ya, sudah, sekarang aku mau tanya sesuatu sama kamu," ujar Mely, mencoba meredam kekesalannya.


"A–apa itu, Mba?" tanya Diandra, tampak ragu.


Tuh kan, ujung-ujungnya pasti ada maunya, batin Diandra merasa Mely sudah bisa dia tebak.


"Aku mau tau apa makanan yang disukai oleh Pak Giovano?" tanya Mely pada Diandra.


"Makanan yang disukai?" gumam Diandra.

__ADS_1


"Iya, aku mau tau makanan yang disukai sama Pak Giovano," ujar Mely, mengulang perkataannya.


Oh iya, kenapa aku sampai tidak tau makanan kesukaan suami sendiri? batin Diandra, baru ingat sesuatu.


"Eum, sebenarnya aku tidak tahu pasti sih, apa makanan yang disukai sama Pak Giovano. Tapi, aku dengar Pak Giovano suka dengan makanan yang bercita rasa pedas," ujar Diandra mengarang cerita.


Dia memang tidak tahu apa yang disukai oleh Gio. Akan tetapi  Diandra tahu kalau Gio sangat tidak suka dengan makanan pedas.


"Jangan bohong kamu, bukannya Pak Giovano lama di luar negeri, masa dia suka makanan pedas?" tanya Mely, menatap Diandra penuh curiga.


"Ya sudah kalau gak percaya, aku juga gak maksa. Aku kan cuman menjawab apa yang Mba Mely tanya," ujar Diandra tampak acuh.


Mely tampak terdiam, dia menatap gerak tubuh Diandra, seolah mencari kebohongan dari semua tingkah perempuan di depannya. Walau akhirnya di memilih mengangguk dan mempercayai Diandra, saat melihat tidak ada keraguan dari sorot mata Diandra.


"Baiklah, aku percaya. Tapi, awas saja kalau sampai kamu berani berbohong kepadaku, kamu akan tau akibatnya!" ujar Mely sedikit mengancam.


"Iya, Mba. Mana berani sih, aku berbohong pada, Mba Mely," jawab Diandra, bersikap lebih akrab dengan Mely.


Tangannya kembali membenarkan kacamata yang dia pakai. Tanpa sepengetahuan Mely Diandra memutar bola matanya, merasa jijik mendengar ucapannya sendiri.


.


.


Diandra yang sedang berjalan berasama dengan Mely, ikut menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang begitu dia kenal.


"Ada apa, Sin?" tanya Mely, begitu Sintia sampai di depannya.


"Aku tadi mau ngajak kamu makan siang bareng, kebetulan Eric juga sedang ada di sini," ujar Sintia.


Diandra mengernyit saat mendengar percakapan mereka berdua.


Sepertinya mereka bukan teman biasa. Dari cara bicara dan keakraban satu sama lain, membuat aku ragu kalau mereka berdua hanya sekedar teman biasa saja,' batin Diandra.


"Iya kah? Apa dia sudah menemui Pak Giovano lagi? Bagaimana dana laporan perusahaan dan proyek baru itu? Apa semuanya bisa dia selesaikan dengan rapi?" cerocos Mely, bertanya penuh semangat pada Sintia.


Dana perusahaan? Proyek baru? Apa mereka bekerja sama? batin Diandra, memasang telinga setajam mungkin untuk mencari tahu apa yang dibicarakan oleh Mely dan Sintia. Akan tetapi, semua itu terasa sia-sia, saat Diandra mendengar perkataan Mely selanjutnya.


"Dian, tolong kamu belikan kopi dulu untukku, aku lupa membelinya," sambung Mely lagi, beralih pada Diandra.


Mely memberikan selembar uang seratus ribu pada Diandra. Yang membuat Diandra menatapnya penuh iba.

__ADS_1


"Tapi, sebentar lagi waktu istirahat selesai, Mba,"  tolak Diandra. Dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menguping obrolan mereka.


"Gak apa, nanti bilang aja disuruh sama aku," ujar Mely, sambil memberikan uang seratus ribu pada Diandra.


"Baik, Mba," jawab Diandra, akhirnya memilih untuk mengangguk, setelah dua m3lakukan sesuatu.


Pintu lift terbuka, Sintia dan Mely masuk ke dalam, sedangkan Diandra hanya melihat mereka berlalu dari luar.


Sialan tuh wanita bikini, enak aja nyuruh-nyuruh aku beli kopi. Memangnya aku ini pembantu dia! kesal Diandra meremas uang seratus ribu dari Mely.


Heh, kalian pikir dengan begini bisa mengusir aku? sambungnya lagi, sambil mengaktifkan earphone di telinganya.


"Entah, sepertinya Pak Giovano bisa mencium kalau berkas yang kita kirimkan sedikit mencurigakan. Tapi, sejauh ini belum ada tanda-tanda kalau dia mengetahui apa yang kita lakukan," jawab Sintia, sepertinya mereka melanjutkan obrolan yang tadi, karena sudah merasa aman setelah mengusir Diandra dengan alasan kopi.


Namun, sepertinya semua itu salah. Diandra bahkan bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan oleh Sintia. Mengingat tadi dia sempat menaruh alat penyadap di tas milik Mely.


Heh, bagus juga ini alat, aku kira cuman di film aja bisa begini? batin Diandra tersenyum senang, saat bisa mendengar suara Mely dan Sintia dari jauh.


Diandra baru mendapatkan alat itu kemarin malam, setelah dirinya menemani Gita menonton film korea, kemudian meminta alat itu pada Gio. Tidak dia sangka ternyata Randi memilikinya hingga dia bisa meminta satu.


Diandra berjalan menuju kantin tempat dirinya membeli kopi untuk Mely. Akan tetapi di tengah jalan, dia mengingat sesuatu.


"Mengerjai mereka sedikit, gak apa-apa kali, ya?" gumam Diandra, sambil tersenyum misterius.


Diandra kemudian memanggil seorang pegawai cleaning servis dan menyuruhnya membeli sesuatu.


"Ini uangnya, aku tunggu di kantin, ya," ujar Diandra pada cleaning servis itu, sambil memberikan uang seratus ribu yang tadi diberikan oleh Mely padanya.


"Baik, Mba," jawab cleaning servis itu.


"Eum, bagus lah. Aku juga yakin sebentar lagi Pak Giovano pasti akan jadi milikku," ujar Mely yakin.


"Ohya, kenapa? Apa sekarang dia sudah mau membalas godaan kamu?" tanya Sintia antusias.


Mendengar itu, kini Diandra kembali fokus pada earphone di telinganya.


Awas saja kalau Gio merespon godaan wanita bikini itu! batin Diandra sudah merasakan panas di dalam dada.


"Enggak juga sih. Tapi, kamu tau tadi yang aku suruh beli kopi siapa? Dia adalah kerabat jauh Pak Giovano, dan dia sudah mau memberi aku informasi tentang Pak Giovano," jawab Mely penuh percaya diri.


"Oh, jadi tadi itu kerabat jauh Pak Giovano? Baguslah kalau begitu," jawab Sintia.

__ADS_1


"Heh, dasar para wanita tidak tahu diri, udah bagus dikasih jabatan bagus di perusahaan, malah pada ngelunjak," gumam Diandra mencibir Mely dan Sintia, sambil melanjutkan langkahnya.


......................


__ADS_2