Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Ikatan sebelum lahir


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Hari berlalu begitu saja, kini Diandra dan Gio sudah dalam perjalanan menuju rumah  besar keluarga Purnomo. Selama di Jakarta Diandra dan Gio akan tinggal di rumah itu, bersama dengan semua keluarga Gio.


"Sayang, kamu gak keberatan kan kalau kita tinggal di rumah Mama dulu selama di sini?" tanya Gio, saat malam tadi mereka membicarakan tentang kelanjutan tempat tinggal mereka selama di Jakarta.


"Gak apa-apa," jawab Diandra singkat.


"Beneran? Kalau kamu ngerasa gak nyaman bilang aja, biar nanti aku ngomong sama Mama." Gio berusaha berada di tengah-tengah.


Permintaan untuk tinggal di rumah besar, memang datang dari Mama, sedangkan di sisi lain Gio juga tahu kalau Diandra tidak suka terlalu banyak orang di rumahnya.


Awalnya Gio dan Diandra akan tinggal di apartemen, selama mereka di Jakarta. Akan tetapi, Mama Hana melarangnya, dia tidak mau Diandra ditinggalkan sendiri di apartemen, sementara Gio akan sibuk mengurus kantor.


Lagi pula Mama Hana juga akan merasa mendapatkan seorang teman, setelah selama ini dia sering ditinggal sendirian di rumah, karena anak-anaknya sibuk kuliah dan bekerja.


"Iya, aku gak apa-apa, lagian sepertinya Mama bukan termasuk ibu mertua yang jahat, terus kenapa kamu harus khawatir gitu," jawab Diandra santai, sambil duduk di atas ranjang, kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Gio.


Gio langsung merangkul tubuh istrinya, sambil memberikan ciuman kilas di kening Diandra.


"Aku rasa juga bukan. Tapi, aku gak tau juga sih, kan selama ini dia belum pernah mempunyai menantu perempuan," ujar Gio, seperti sedang berpikir dan menerka sikap Mama Hana pada Diandra sebagai seorang mertua.


Diandra sedikit mengangkat kepalanya sambil melirik sinis pada Gio. "Ck, kok malah ditakutin sih! Nanti kalau Mama beneran mertua yang jahat gimana?" cebik Diandr.


Gio terkekeh, mendengar perkataan istrinya itu, dia tahu sekali bahwa Diandra adalah menantu perempuan yang Mama Hana inginkan, jadi untuk apa dirinya harus takut meninggalkan istrinya di rumah.


"Enggak lah, Mama gak akan kayak gitu," ujar Gio.


Ya, sebenarnya Diandra tidak terlalu nyaman tinggal di rumah besar keluarga Purnomo, dirinya yang terbiasa sendiri pasti akan sangat canggung jika harus tinggal bersama seluruh keluarga Gio. Akan tetapi, sebagai menantu baru, dia juga tidak bisa menolak keinginan mertuanya.


"Ayo, sayang." Diandra terperanjat dari lamunannya saat suara Gio terdengar.


"Kamu, melamun?" tanya Gio lagi, yang ternyata sudah berada di kiri Diandra, dengan pintu mobil terbuka.


Diandra mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari kalau saat ini dirinya dan Gio sudah sampai di depan rumah keluarga Purnomo.


"E–enggak kok, aku cuma gak denger aja tadi," elak Diandra.

__ADS_1


Gio tersenyum kemudian mengangguk, dia memilih mengalah dibandingkan harus memperpanjang perdebatan kecil diantara mereka.


"Iya, aku percaya. Yuk, kita masuk. Pagi ini aku harus ke kantor. Gak apa kan, kamu aku tinggalin di sini, sama Mama?" ujar Gio sambil memberikan jalan untuk membantu Diandrake luar dari mobil.


"Gak apa. Kamu kerja saja yang benar," jawab Diandra, santai.


"Oke." Gio tersenyum mendapati jawaban santai dari istrinya.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, Diandra sempat berpapasan dengan Erika dan suaminya yang mau berangkat bekerja.


"Kalian baru datang? Maaf, ya, kita lagi buru-buru, jadi gak sempat nemenin kalian dulu," ujar Erika, sambil bercipika-cipiki sekilas dengan Diandra.


"Gak apa, Kak. Aku ngerti kok." jawab Diandra.


"Semoga betah, ya, di rumah ini. Kakak pergi dulu," ujar Erika lagi, dengan langkah terburu-buru menyusul suaminya yang sudah bersiap di dalam mobil.


Pekerjaan mereka sebagai dokter sekaligus staf rumah sakit, membuat pasangan suami istri itu memang selalu sibuk. Apa lagi jika sedang musim wabah, atau musim libur panjang, yang menyebabkan meningkatnya angka kecelakaan. Maka mereka berdua selalu sigap untuk menolong para pasiennya.


Sebagai seorang dokter, Erika dan suaminya, termasuk dokter yang profesional dan mau untuk ditugaskan di mana saja. Walau akhirnya mereka harus tetap diam di rumah sakit, karena dipilih menjadi kepala dokter bedah dan kepala rumah sakit yang dibangun Papah itu.


"Ck! Adiknya sendiri gak disapa, loh." Gio hanya menggelengkan kepala miris, melihat Erika yang malah memilih untuk menyapa Diandra dibandingkan dengan dirinya sendiri sebagai adik kandungnya.


"Eh? Kok gitu sih?" Gio hendak protes pada istrinya.


"Katanya harus ke kantor, ayo cepetan siap-siap, nanti terlambat, malu sama karyawan," ujar Diandra malah berjalan masuk lebih dulu, meninggalkan Gio dengan wajah terkejutnya.


"Sayang, tunggu aku!" Gio berjalan cepat menyusul langkah Diandra.


"Kan aku pemimpinnya, jadi terserah aku," jawab Gio setelah berhasil menyamai langkah istrinya.


"Justru karena kamu pemimpinnya, jadi harus menunjukan contoh yang baik bagi para keryawannya. Masa, pemimpin yang batu pertama kali masuk kerja sudah telat, nanti gimana dengan karyawannya?" jelas Diandra panjang lebar.


"Iya deh iya, yang selalu datang paling pertama ke hotel. Kamu itu emang dasar terlalu rajin, atau memang bos yang kejam sih? Kan kasihan, kalau karyawan kamu harus mengikuti cara kejamu itu," Gio malah menyinggung cara kerja Diandra.


"Aku di sana bukan sebagai bos, Gio. Tapi, aku hanya sebagai sekretaris, jadi gak ada yang akan terbebani sama jam kerja aku," jawab Diandra.


"Oh, jadi itu alasan kamu, tidak mengungkapkan status sebagai pemilik hotel?" tanya Gio. Mereka mengobrol sambil berjalan bersama.


"Enggak juga. Aku tidak suka saja mendapatkan kehormatan palsu dari para karyawan yang bermuka dua," jawab Diandra santai.

__ADS_1


Gio mengangguk, dia lupa kalau Diandra adalah orang yang tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang.


Tanpa mereka tahu, dari tadi Hana melihat semua yang dilakukan oleh anak dan menantunya itu. Dia tersenyum saat melihat Diandra bisa membuat Gio mengalah untuknya, juga menasihati anak laki-lakinya itu.


Aku tau, kamu akan menemukan cintamu bersama perempuan itu, Gio. Karena sejak kalian belum lahir, kalian bahkan sudah disatukan dengan sebuah ikatan, batin Hana, mengingat kembali saat dirinya sedang mengandung Gio.


Saat itu ayah mertua dan suaminya sangat senang, karena saat itu anak di dalam kandungannya ternyata berjenis kelamin laki-laki.


"Akhirnya cucuku laki-laki, dia akan menyatukan hubungan kita dengan sahabatku, dia akan aku jodohkan dengan anak pertama dari Eros, nanti," ujar Kakek Harsa dengan wajah berseri.


"Bukankah Eros bahkan belum menikah? Lalu bagaimana kita tau kalau anaknya akan perempuan, Pah?" Yoga sedikit keberatan dengan perkataan tidak masuk akal ayahnya.


"Tahun depan dia akan menikah, dan aku yakin anak pertama dari mereka adalah perempuan. Dia yang akan menjadi pendamping untuk anak kalian nantinya," ujar Kakek Harsa dengan sangat yakin.


Awalnya tidak ada yang percaya dengan perkataan Kakek Harsa, mengingat itu semua adalah kuasa tuhan dan tidak mungkin ada orang yang tahu urusan kelahiran, jodoh, dan kematian.


Namun, beberapa tahun kemudian, semuanya dibuat terkejut saat mereka mendengar kalau Eros dan Lisna benar-benar mempunyai anak perempuan, bahkan bukan hanya satu, akan tetapi, kembar.


Saat itu, usia Gio masih berumur lima tahun, mereka sekeluarga bahkan hadir saat keluarga Eros mengadakan acara syukuran atas kelahiran anak kembarnya.


Mama Hana masih ingat saat itu Kakek Harsa membawa Gio mendekati kedua bayi itu, lalu bertanya tentang pilihan Gio kecil.


"Kamu pilih yang mana untuk jadi istri kamu kalau sudah besar, Gio?" tanya Kakek Harsa yang hanya dianggap sebagai gurauan dan omongan angin lalu saja.


Ajaibnya saat itu Gio menunjuk Diandra, yang merupakan anak sulung, dan kini setelah bertahun-tahun berlalu, Gio pun akhirnya menikah dengan Diandra.


"Pilihan yang sangat bagus, kalau sudah besar dia pasti akan sangat cantik, iya kan?" ujar Harsa lagi, sambil terkekeh kecil, yang langsung diangguki oleh Gio kecil.


Tidak disangka pilihan yang dulu diambil Gio sewaktu kecil, yang mungkin sudah dia lupakan, bahkan sempat dibantah dengan keras, kini malah berhasil terwujud karena usahanya sendiri.


"Aku tidak mau dijodohkan, memangnya aku laki-laki tidak laku, sampai harus dicarikan jodoh begitu? Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya!" Penolakan itu terucap dari mulut Gio, saat Papa Yoga memberitahu tentang perjodohannya dengan Diandra.


Mama Hana terkekeh, mengingat perjalanan cinta dan perjodohan Gio dan Diandra yang penuh dengan lika-liku. Akan tetapi, akhirnya bisa bersama, setelah keduanya memliki jalan ceritanya masing-masing.


"Pah, Mas, sekarang kalian sudah tenang kan di sana, keinginan kalian untuk menyatukan persahabatan Papah dengan sebuah pernikahan akhirnya bisa terwujud juga," gumam Mama Hana, beralih menatap sebuah bingkai foto keluarga besar, yang tergantung di dinding.


Matanya yang berkaca-kaca akhirnya pecah juga, Mama Hana mengusap pipinya yang basah, saat satu tetes air lolos begitu saja dari pelupuk, senyum pun terlihat menghiasi wajah cantiknya.


......................

__ADS_1


__ADS_2