Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kopi


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


Diandra menatap kedatangan suaminya, dia bisa melihat kalau Gio memakai baju yang dia siapkan.


Namun, ada yang berbeda dari penampilan Gio bisanya, dia tampak lebih santai dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku, juga tiga kencing bagian atasnya terbuka.


"Wah, Kak Gio, keren banget ... udah kayak anak kampus aja," kelakar Gita, menatap Gio dengan mata berbinar.


"Iya, kamu beda banget hari ini, Gio," imbuh Hana, memperhatikan penampilan anak laki-lakinya.


"Iya, Mah ... kebetulan hari ini aku gak ke hotel, jadi santai aja," jawab Gio.


Santai atau mau jadi pusat perhatian cewek-cewek di bandara?! decak Diandra di dalam hati.


Aku kan pilihin baju formal buat ke hotel, lagian bukannya biasanya dia juga suka pakai kemeja? Tapi, kenapa sekarang gayanya jadi beda gini?


Diandra kesal sendiri, karena baju yang sudah disiapkan oleh dirinya, tidak dipakai sesuai kehendaknya.


Dasar playboy cap kodok! umpat Diandra lagi.


Gio tersenyum, dia kemudian duduk di samping Diandra, yang refleks langsung berdiri canggung, demi mengindari suaminya.


Gio memang bisa melihat, kalau piring Diandra masih kosong, sedangkan Gita malah sudah mulai memakan sarapannya.


"Mau sarapan apa?" tanya Diandra, dengan suara yang terdengar kaku.


Dia memang belum mengetahui kebiasaan Gio yang sesungguhnya, apa lagi ini di depan mertua dan adik iparnya.


Gio ingin sekali terkekeh, melihat sikap canggung dan kaku istrinya itu, walau akhirnya dia hanya tersenyum.


"Roti aja, pake selain kacang," jawab Gio.


Diandra pun mengambil roti tawar gandum yang sudah tersedia, kemudian mengoleskan selai kacang di atasnya.


Sedangkan Gio yang melihat ada kopi di depannya, mulai mengangkat cangkir kopi itu, lalu menghirup aroma kopi seduh yang masih mengepulkan sedikit asap.


Walaupun begitu, pandangannya tidak pernah terlepas dari semua gerak gerik sang istri, yang selalu membuatnya tertarik.


Gio menutup matanya sebentar, saat menikmati kopi yang dia seruput sebelumnya. Akan tetapi, kemudian ada kerutan halus yang tercipta di keningnya.


Tunggu, ini bukan kopi buatan mamah ataupun Bi Jui. Rasanya sangat berbeda, dan terasa lebih nikmat.


Gio bergumam di dalam hati, memuji rasa kopi yang masih terasa di dalam rongga mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa, Gio?" tanya Hana, saat melihat Gio yang mengernyit.


Gio membuka mata, lalu melihat Hana yang sedang memperhatikannya.


Tangan Diandra yang sedang mengoleskan selai pada roti pun terhenti, saat Hana bertanya pada suaminya. Dia melihat Gio sekilas, lalu kembali fokus pada roti di tangannya.


Diandra berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, saat melihat Gio sedang memegang cangkir kopi yang dirinya buat beberapa saat yang lalu.


Semoga saja dia suka dengan kopi buatanku, atau setidaknya pura-pura suka di depan ibu dan adiknya, agar aku tidak malu. Diandra berdoa dalam hati.


"Kopinya buatan siapa, Mah?" tanya Gio, pada Hana, yang membuat jantung Diandra semakin bertalu.


"Oh, itu buatan Dian. Memang kenapa? Jangan bilang kamu belum pernah tahu kopi bikinan istri kamu sendiri," jawab Hana, sekaligus bertanya.


"Ah, bukan gitu, Mah. Aku pasti tau lah, kopi buatan istriku. Tadi, aku cuman ngetes aja kok, hehe." Gio memberi alasan, sambil melirik wajah Diandra sekilas.


Gio mengerlingkan salah satu matanya, begitu tatapan keduanya bertabrakan.


"Uhuk, uhuk!" Diandra yang terkejut oleh ulah Gio, malah tersedak oleh salivanya sendiri.


"Eh, kamu kenapa, sayang?" tanya Gio, langsung beranjak berdiri sambil merangkul pundak istrinya.


"A– aku gak apa-apa kok," jawab Diandra, dia melirik kesal suaminya, yang hanya dibalas senyuman oleh Gio.


"Ayo, kamu duduk dulu," Gio, membantu Diandra untuk duduk kembali di kursi.


Mereka pun duduk dwi kursi masing-masing.


"Makasih, sayang," bisik Gio, tepat di depan telinga Diandra.


Deg!


Bulu kuduk Diandra meremang ketika napas hangat beraromakan wangi mulut suaminya menerpa wajahnya.


Jantungnya kembali berdetak tak menentu, dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya.


Diandra hanya bisa mengangguk samar, karena terlalu sibuk mengendalikan perasaannya.


Ya ampun, kenapa sekarang jantungku sering berdetak cepat seperti ini? Apa aku terkena penyakit jantung? batin Diandra, penuh tanya.


Senyum di wajah Gio semakin lebar, saat melihat rona merah di wajah sang istri.


Kamu memang terlihat keras dan angkuh di luar. Tapi, sebenarnya kamu hanyalah gadis polos, yang bahkan tidak bisa menyembunyikan rona di pipi. batin Gio.


"Kamu juga makan dong, sayang," ujar Gio, saat melihat piring istrinya yang masih kosong.

__ADS_1


"Iya, kamu juga harus makan, Dian. Sini bias mamah ambilkan. Kamu mau apa?" Hana langsung mengambil piring Diandra.


Diandra yang sedang melamun langsung tersadar, dia pun mencegah Hana yang akan mengambilkannya nasi.


"Gak usah, Mah. Aku makan roti aja," cegah Diandra.


"Atau, kamu mau kita makan ini berdua aja?" tanya Gio, sambil hendak mengambil roti miliknya.


Gita dan Randi yang berada di depan Gio, saling menatap kemudian berekspresi seakan ingin muntah, melihat sikap bucin Gio.


Diandra semakin dibuat malu oleh tingkah Gio, dia meringis resah, sambil mengumpat suaminya di dalam hati.


Astaga, ini orang bener-bener nyebelin banget sih! Awas aja nanti kalau Mamah dan Gita udah pulang aku kerjain kamu! batin Diandra.


"Gak usah lebay deh! Kamu buat aku malu aja," lirih Diandra dengan gigi yang mengatup rapat, hingga hanya terdengar oleh Gio.


"Hehe, gak usah, aku ambil lagi aja," ujar Diandra sambil terkekeh paksa, demi menutupi rasa kesalnya.


Dia lalu mengambil satu roti tawar dan mengoleskan selai kacang di setengah bagiannya, kemudian melihatnya.


"Mana kenyang, kalau kamu makan cuman satu roti saja, Dian." ujar Hana, melihat Diandra yang hanya melipat rotinya.


"Segini sudah cukup kok, Mah. Lagian perut aku masih gak nyaman kalau makan terlalu banyak," ujar Diandra, memberi alasan.


"Oh iya, kenapa Mama sampai lupa kalau kamu masih sakit?" Hana melebarkan matanya, merasa bersalah pada menantunya.


"Ya ampun, Gio, kenapa kamu gak ingetin Mamah sih?!" kesal Hana, menatap kesal anak laki-lakinya.


"Ya udah, Mamah, bikinin kamu sop aja ya ... cuman sebentar kok," sambung Hana lagi sambil hendak beranjak berdiri.


"Gak usah, Mah. Hari ini memang aku lagi mau makan roti kok," ujar Diandra.


Hana mengangguk dia benar-benar merasa bersalah karena sudah melupakan Diandra yang baru saja sembuh dari sakit, hingga pagi ini dirinya hanya memasak nasi goreng.


"Maaf ya, Dian," ujar Hana lagi.


"Gak apa, Mah," jawab Diandra tersenyum hangat, sambil menangkup tangan ibu mertuanya itu.


Hana tersenyum, dengan tatapan sendu di matanya, dirinya terlalu khawtir dengan keadaan cucunya di Jakarta, yang masih dalam perawatan, hingga melupakan menantunya.


Akhirnya pagi itu, mereka habiskan untuk sarapan bersama, sebelum Hana dan Gita kembali ke Jakarta.


................


Senyum yang terukir di bibir, terkadang hanya sebuah tameng untuk menutupi sakit di dalam hati.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2