Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Menyambut


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Kita ke mana sekarang?" tanya Randi, begitu dia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


"Pulang saja," gumam Gio masih dengan memejamkan mata.


Randi menatap wajah Gio.


"Tapi, kamu harus melakukan pemeriksaan," bantah Randi.


"Aku mau pulang, Ran," ujar Gio masih menolak saran dari asistennya.


"Tapi–"


"Randi!" Gio menekan perkataannya sambil mengangkat kepala, kerutan di kening pun terlihat jelas, sebagai tanda kalau dia sudah merasa terganggu.


"Aku ngantuk ... diam dan jalankan mobilnya ke rumah," sambung Gio lagi, dengan nada suara yang lebih rendah, sambil kembali merebahkan kepalanya.


Randi yang terkejut dengan reaksi Gio, hanya mengangguk dan mulai mengendarai mobil menjauh dari tempat itu.


Sepanjang jalan, Gio terus memejamkan matanya, dirinya bahkan sempat merasa tertidur beberapa waktu, hingga tanpa dia sadari mobil yang dikendarai Randi sudah mulai memasuki pelataran rumah.


.


.


"Bibi, sudah lama bekerja sama Gio?" tanya Diandra.


Kini mereka berdua sedang merawat bunga yang ditanam oleh bi Jui, di belakang rumah.


"Kalau mengurus rumah ini mah, udah lama banget, Neng. Tapi, kalau ketemu sama A' Gio mah belum lama. Pas A' Gio pindah ke sini untuk mengurus hotel milik mendiang kakeknya beberapa bulan yang lalu," jawab Bi Jui.


Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau menurut, Bibi, Gio seperti apa?" tanya Diandra lagi.


Bi Jui tampak terdiam sebentar, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Menurut Bibi sih, A' Gio termasuk orang yang baik. Selama Bibi kerja sama A' Gio, Bibi, gak pernah tuh lihat A' Gio berbuat sesuatu yang gak baik," jawab Bi jui.


"Beneran, Bi? Bibi, gak bohong kan?" tanya Diandra memastikan.


"Untuk apa Bibi bohong, Neng? Gak ada untungnya juga buat Bibi," ujar Bi Jui.


"Ya, mungkin aja ... Bibi, kan asisten rumahtangganya Gio," jawab Diandra.


"Ish, Bibi gak kayak gitu, Neng," ujar Bi Jui.


"Oh iya, Bibi, pernah lihat Gio bawa perempuan lain ke rumah ini gak?" tanya Diandra lagi, dia mengingat dirinya yang beberapa kali melihat Gio bersama seorang perempuan.


Kerutan di kening Bi Jui tampak terlihat jelas, dia kemudian menggeleng. "Enggak, Neng. Hanya, Neng, yang dibawa A' Gio ke sini."


"Oh, gitu ya, Bi?"


Bi Jui mengangguk pasti.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan aktivitasnya, sambil berbincang ringan. Hingga terdengar suara mobil yang berhenti di pelataran rumah.


"Bi, itu kayaknya suara mobil Gio, deh?" ujar Diandra.


"Iya, Neng. Sepertinya A' Gio sudah pulang," jawab Bi Jui.


Diandra beranjak lalu mencuci tangannya, dan berjalan menuju ke depan, untuk menyambut kedatangan suaminya.


Rasanya dia ingin melihat suaminya yang baru datang ke rumah. Selama ini dia tidak pernah menyambut kedatangan suaminya, karena Diandra yang selalu pulang lebih malam dari Gio.


Oleh karena itu, kali ini Diandra merasa antusias saat untuk pertama kalinya menyambut kedatangan Gio.


.


.


Randi melepas sabuk pengaman di tubuhnya, setelah menghentikan mobil yang dikendarainya.


"Kita sudah sampai," ujarnya, memberitahu pada Gio.


Randi mengernyit saat dia melihat tidak ada reaksi dari Gio. Ada rasa takut di dalam hatinya, yang mulai menguasai alam bawah sadarnya.


Wajah Gio yang tampak pucat, membuat pikiran buruk mulai mengintimidasi dirinya.


"Gio ...." Randi sedikit mengguncang lengan Gio.


Tidak ada reaksi yang diberikan oleh Gio. Pikiran Randi sudah bercampur aduk, antara khawatir dan gelisah.


"Gio?!" Randi kembali memanggil dengan suara yang lebih keras.


Randi bernapas lega, saat melihat Gio memberikan reaksi.


"Kita sudah sampai," ujar Randi lagi.


"Heem." Gio kembali bergumam sambil mulai menegakkan tubuhnya.


Pandangannya mengedar melihat suasana di sekitarnya, dia tersenyum saat matanya melihat samar, Diandra yang berdiri di depan pintu untuk menyambutnya.


"Ran, lihat ... itu istriku kan?" tanya Gio dengan wajah sumringah.


Randi mengikuti pandangan Gio, dia tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, itu istrimu."


"Kamu lihat kan, sekarang dia bahkan sudah mau menungguku pulang," ujar Gio lagi, sambil hendak turun dari mobil, saat salah satu anak buahnya membuka pintu.


Kalau dia masih keras kepala dan mengabaikanmu setelah semua pengorbanan yang kamu lakukan untuknya, mungkin aku tidak akan bisa merahasiakan semua ini lagi. batin Randi.


Diandra yang melihat Gio tidak juga turun mulai mengernyit bingung.


Kenapa dia lama sekali di dalam mobil? Apa ada seusatu? gumam hati Diandra sambil mencoba menajamkan penglihatannya.


Namun, beberapa saat kemudian Diandra melebarkan matanya sambil menutup mulutnya, ketika melihat Gio ke luar dari mobil.


"Gio?" gumam Diandra sambil berjalan cepat, menghampiri suaminya.


"Ada apa ini? Kamu, kenapa?" tanya Diandra sambil mengambil tangan Gio dan mengalungkannya ke pundak, agar Gio bisa bertumpu padanya.


"Aku gak apa-apa, sayang. Ini hanya luka kecil," jawab Gio, dengan suara parau.

__ADS_1


"Tapi, kamu kenapa? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Diandra dengan raut wajah khawatir.


"Aku gak apa-apa, sayang. Tadi hanya ada kecelakaan kecil saja," jawab Gio lagi.


Diandra menatap Randi, meminta penjelasan dari asisten suaminya itu.


Randi hanya bisa mengangguk membenarkan perkataan Gio, saat Gio melarangnya untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Diandra.


"Sebaiknya kita bawa Gio ke dalam dulu, dia harus segera diobati," ujar Randi.


Diandra mengangguk, dia memapah suaminya untuk berjalan menuju kamar mereka.


Gio tersenyum di sela langkahnya yang tertatih, dia malah menikmati raut wajah khawatir istrinya.


Aku bahagia, sangat bahagia. Terima kasih sudah menungguku pulang dan mengkhawatirkan aku, batin Gio.


Sampai di dalam, Bi Jui yang melihat Gio dalam keadaan terluka terkejut dan langsung menghampiri mereka.


"Ya ampun, A' Gio!"  ujar Bi Jui.


"Bi, tolong siapkan air hangat dan handuk kecil," ujar Diandra.


"Baik, Neng," jawab Bi Jui.


Diandra merebahkan Gio perlahan di atas tempat tidur, dengan bantuan Randi.


Bi Jui datang menyusul dengan air hangat dan handuk yang dipesan oleh Diandra sebelumnya.


"Ran, tolong bantu aku melepaskan bajunya," ujar Diandra.


"Gak usah, aku bisa sendiri," tolak Gio langsung.


"Tapi, Gio–"


"Kamu bisa membantuku kan, sayang? Untuk apa meminta bantuan pada yang lain?" ujar Gio, sambil memberi isyarat pada asistennya.


"Sebaiknya, kamu, saja yang membantu Gio. Lagipula aku juga harus membersihkan tubuhku," ujar Randi memberi alasan.


Diandra meringis, mendengar alasan Randi, dia juga tidak bisa membantah, saat melihat baju Randi juga terlihat kusut dan kotor, walaupun tidak terlalu parah, bila dibandingkan dengan Gio.


"Aku percayakan bosku padamu, Dian," ujar Randi lagi, sebelum akhirnya pergi dari kamar itu.


Sedangkan Bi Jui sudah pamit sejak beberapa saat yang lalu.


Diandra menghembuskan napas kasar, saat melihat keadaan Gio yang sangat kotor di sekujur tubuhnya.


Apa aku harus membantu dia mengganti baju? gumam Diandra di dalam hati.


Dia merasa ragu untuk melakukan semua itu, walaupun dirinya sudah sering melihat tubuh laki-laki dari Ares. Akan tetapi, itu semua terjadi saat mereka masih kecil.


Ketika mereka perlahan bertambah dewasa, dia bahkan tidak pernah lagi melihat bentuk tubuh adiknya itu, apalagi orang lain.


Siapapun tolong bantu aku ... aku rasa akan pingsan sebentar lagi jika harus membantunya mengganti baju, batin Diandra berujar penuh drama.


......................


Terkadang kita terlalu fokus pada keluhan kita, hingga menutup mata dengan apa yang orang lain lakukan untuk kita.

__ADS_1


__ADS_2