
...Happy Reading...
......................
"Kenapa aku merasa Kak Dian menghindari Kak Gio ya? Apa karena dia tau Kak Gio yang punya hotel ini?" ujar Gita.
Ucapan yang terujar dari mulut Gita, langsung mengalihkan perhatian Gio, Hana, dan Randi dengan pemikiran mereka masing-masing.
Kenapa nih anak pake ngomong gitu sih? batin Gio sambil berpikir cepat mencari alasan.
Ternyata Gita peka juga dengan sekitarnya, batin Randi.
"Benar juga kata kamu, Git. Kenapa Diandra sepertinya menghindari kamu, Gio?" tanya Hana yang juga berpikiran sama seperti Gita.
"Hah? Itu mungkin hanya pikiran, Gita sama Mamah, aja. Iya kan Randi?" jawab GIo, sekaligus meminta dukungan pada asistennya itu.
Randi yang namanya disebutkan secara tiba-tiba, hanya bisa mengiyakan perkataan bosnya itu.
Hadeuh! Kacau-kacau, batin Randi mengeluh sendiri.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita masuk ke ke ruang kerja Gio saja ... gak enak dilihat sama karyawan hotel," ujar Gio lagi.
Hana dan Gita pun akhirnya mengangguk, walaupun mereka masih merasa curiga dengan ekspresi Diandra dan Gio tadi.
Mereka bertiga akhirnya memilih untuk berjalan menuju ruangan kerja Gio yang berada di hotel itu.
.
.
Diandraberjalan cepat menuju hotel miliknya, jantungnya terasa terus bertalu, semenjak dirinya mengetahui kalau dua orang perempuan yang ditolongnya, adalah keluarga dari suaminya sendiri.
"Astaga, kenapa bisa begini?" gumamnya setelah dia sampai di kursi kerjanya.
Rasanya dirinya masih belum percaya dengan apa yang terjadi padanya.
"Kenapa kau harus bertemu dengan keluarga Gio dengan cara yang seperti ini? Bagaimana penilaian mereka nanti, kalau sampai tau aku adalah istrinya Gio?" Kembali Diandra berkata dengan wajah prustasinya.
"Mereka pasti akan menganggapku sebagai perempuan murahan, karena mau menikah dengan Gio, tanpa bertemu dengan keluarganya lebih dulu." Diandra mulai berpikir yang bukan-bukan.
"Apalagi, sepertinya Gio juga belum memberitahu mereka, tentang pernikahan ini. Astaga, sebenarnya apa tujuan laki-laki itu menikahi aku?" ujar Diandra, semakin jauh dengan pikirannya sendiri.
"Kamu kenapa, Dian?" tanya Romi yang baru saja datang.
Diandra yang masih larut dengan pikirannya sendiri, terperanjat saat mendengar suara Romi yang tiba-tiba.
Perempuan itu pun langsung mengalihkan perhatiannya pada asistennya itu. "Aku gak apa-apa."
Romi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban Diandra yang terlihat sangat berbeda dari raut wajahnya. Romi pun memilih duduk di depan Diandra.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi, aku melihat wajahmu mengatakan yang sebaliknya," ujar Romi, menatap Diandra penuh selidik.
Diandra melirik wajah Romi dengan raut wajah berubah kesal. "Sudahlah, tidak terjadi apa-apa dengank. Lagian kalau memang terjadi apa-apa, aku juga selalu memberitahumu kan?"
Romi sedikit memundurkan tubuhnya, dia menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, ketika Diandra menatapnya tajam.
"Baiklah, aku gak akan bertanya lagi. jangan melihatku seperti itu, oke." pinta Romi.
Dirinya memang paling tidak suka, jika Diandra sudah melihatnya seperti itu.
"Makanya jangan suka banyak bicara, apa lagi sok tau begitu. kamu itu laki-laki bukan emak-emak tukang gosip," ujar Diandra dengan wajah dibuat serius.
"Ck, kamu ini tega sekali sih. Masa saudara sendiri dikatain emak-emak," keluh Romi.
"Aku gak ngatain kamu ya. Aku cuman mengingatkan," ujar Diandra sambil menahan sneyumnya, begitu melihat wajah kesal Romi.
"Walaupun gak diingatkan, aku juga masih tau kalau aku ini laki-laki," jawab Romi.
"Ya, ya. Aku tau, kamu laki-laki tulen. kalau bukan, sudah jauh-jauh hari kamu aku keluarkan dari perusahaan ini," ujar Diandra.
"Dasar perempuan kejam!" decak Romi.
Diandra malah terkekeh mendengar perkataan dari Romi yang terdengar seperti menghardiknya.
"Tapi, nyatanya kamu betah kerja sama aku," sanggah Diandra.
"Ya, karena terpaksa," jawab Romi, yang membuat tawa Diandra semakin besar.
Setelah berbicara sebentar, akhirnya mereka berdua kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.
.
.
Hari sudah menjelang malam, Diandra sedang duduk di ruang keluarga, sambil memakan mi instan yang sengaja dia buat sebelumnya.
Televisi di depannya sengaja dia nyalakan, untuk mengusir rasa sepi juga sebagai taman makannya.
Di sampingnya ponsel milik Gio yang tergeletak begitu saja, dirinya mau meminta penjelasan pada suaminya itu, begitu Gio masuk ke dalam rumah.
Namun, sampai jam menunjukan pukul delapan malam, suaminya itu belum pulang juga.
"Apa aku telpon saja ya?" gumamnya sambil melirik ponsel milik suaminya itu.
Selama sehari ini dia memegang ponsel milik Gio, belum pernah sekali pun dia membukanya.
Diandra kembali menyuapkan mie instan ke dalam mulutnya, dengan pandangan masih tertuju pada ponsel di depannya.
"Kenapa dia juga tidak menghubungi aku ya?" kembali Diandra bergumam sendiri.
__ADS_1
"Ck, dasar nyebelin! Ngapain juga sih aku pake mikirin dia segala?" Diandra berdecak kesal.
Perempuan itu bahkan tidak menghabiskan mie instan buatannya, saat suasana hatinya kembali kacau, begitu mengingat kejadian siang tadi.
"Ish, sebenarnya aku ini perempuan seperti apa sih, masa aku tidak tau dengan mertua dan adik iparku sendiri?" kembali Diandra berbicara pada dirinya sendiri.
Diandra menggeser mangkuk mie instan ke samping, dia sudah tidak bernapsu untuk melanjutkan makan malamnya.
Dia beralih mengambil remot televisi, perempuan itu terus menekan tombol yang ada di sana, berusaha menemukan acara yang bisa menemaninya menunggu suaminya pulang.
"Astaga, kenapa acara tellevisi pun tidak ada yang menarik untuk ditonton!" Diandra semakin kesal.
Perempuan itu menyandarkan kepalanya pada sofa, lalu merebahkan kepalanya, membuat dirinya sedikit mendongak.
Sesekali Diandra menoleh ke arah pintu dengan harapan Gio akan segera datang. Akan tetapi, sampai malam semakin larut laki-laki yang dia tunggu belum terlihat juga.
Diandra pun perlahan mulai menutup matanya, akibat terlalu lelah menunggu akhirnya Diandra pun tertidur di ruang kelurga, dengan tubuh berada di atas lantai.
.
.
Gio bergerak gelisah, melihat jarum jam yang terus berjalan, sedangkan dirinya masih tertahan di rumahnya bersama ibu dan adiknya.
"Gio, apa kamu sudah menemukan teman kakek dan ayahmu?" tanya Hana.
Saat ini mereka sedang berada di ruang kerja Gio, setelah sepanjang beberapa saat yang lalu baru saja pulang berjalan-jalan.
"Sebenarnya sudah, Mah. AKu bahkan sudah menemukan perempuan yang akan dijodohkan denganku," jawab Gio.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat pertemukan mama dengan mereka, agar keinginan kakek dan ayahmu cepat terwujud dan mereka bisa tenang di alam sana," ujar Hana begitu semangat.
"Eum, sebenarnya ada sedikit kendala dengan semua itu." Gio berkata ragu.
Hana mengerutkan keningnya, mendengar perkataan dari Gio.
"Masalah apa, Gio? Apa mereka tidak mau menepati janjinya, atau perempuannya tidak mau menikah dengan kamu?" tanya Hana, menatap anak laki-lakinya itu penuh tanda tanya.
"Tidak, Mah, bukan begitu."
"Lalu bagaimana, Gio? Coba kamu ceritakan yang jelas sama mama," desak Hana.
Gio semakin bingung untuk menjawab pertanyaan dari ibunya itu.
"Jangan bilang kalau kamu yang tidak mau menikahi perempuan itu?" tebak Hana.
......................
Apa lagi ini?๐คญ Komen๐
__ADS_1
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...