
...Happy Reading...
...................
Gio masih berada di ruang kerjanya, saat malam sudah semakin larut, sedangkan Diandra juga tengah sibuk mengevaluasi laporan dari pembangunan proyek hotel, yang tadi siang dia kunjungi.
Suara gertar ponsel mengalihkan perhatian Gio yang tengah fokus pada layar komputer di depannya. Nama anak buah yang dia tugaskan untuk mengawasi Rani terlihat di layar, membuat laki-laki itu mengernyitkan keningnya.
"Hal–" Belum sempat Gio meneruskan ucapannya, anak buahnya langsung memotong begitu saja.
"Pak, Rani diculik ...." Hanya itu kata yang terdengar di ponsel Gio, hingga akhirnya tidak ada lagi suara.
Gio berulang kali mencoba memanggil nama anak buahnya itu. Akan tetapi, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apa pun.
Dengan langkah panik dia langsung menemui anak buahnya untuk segera menyusul ke lokasi, dan mencari tahu apa yang terjadi di sana. Sedangkan dia akan menyusul setelah berpamitan dengan istrinya.
Malam itu Gio mencoba berpikir cepat untuk mencari alasan agar dirinya bisa pergi tanpa membuat khawatir istrinya.
Namun, karena dirinya terlalu panik, Gio selalu menemukan jalan buntu. Hingga akhirnya dia memiliki ide gila yang bisa membuat Diandra tertidur dalam waktu dekat.
Ya, malam itu dia meminta jatah kepada sang istri, sebagia kamuflase, agar dirinya tidak perlu memberikan alasan palsu, ataupun berbohong pada istrinya.
Dirinya tidak mungkin memberitahu Diandra kalau saat ini Rani telah menghilang, karena diculik oleh orang yang dirinya sendiri belum bisa memastikannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku terpaksa melakukan ini, agar kamu tidak khawatir," gumam Gio sebelum masuk ke kamar.
Gio bisa melihat kalau istrinya itu masih duduk di sofa dengan beberapa berkas yang berserakan di meja. Laptopnya pun masih mneyala, menandakan istrinya pun masih belum selesai bekerja.
Gio menghembuskan napasnya perlahan, sebelum melangkahkan kakinya menuju wanita kesayangannya itu.
"Udah selesai?" Diandra melihat sekilas pada suaminya, sambil bertanya.
"Udah. Kamu, masih kerja, sayang?" ujar Gio, sambil duduk di samping istrinya, kemudian menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.
"Ada beberapa berkas yang masih harus aku baca," jawab Diandra, salah satu tangannya mengusap lembut rambut Gio.
"Masih lama?" tanya Gio lagi, sambil menyusupkan wajahnya pada ceruk leher sang istri. Tangannya memeluk erat pinggang Diandra.
"Kenapa?" Diandra menghentikan pekerjaannya, konsentrasinya buyar, karena ulah Gio.
"Aku lelah," ujar Gio manja.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Diandra.
"Butuh asupan tenaga," jawab Gio.
"Itu berarti, kamu, harus istirahat." Diandra mengalihkan, padahal dia sendiri tahu apa arti dari perkataan suaminya.
"Aku gak bisa istirahat kalau belum diberi vitamin sama kamu, sayang." Gio berucap lirih.
"Ya udah, aku ambilkan vitamin dulu buat kamu, ya." Diandra hendak beranjak.
Namun, tangan GIo langsung mencekalnya. "Sayang, bukan vitamin itu yang aku maksud."
"Lalu apa dong?" Diandra masih berpura-pura tidak mengerti.
Gio menaikan salah satu tangannya, pada gunung kembar yang dimiliki oleh istrinya, dia memberikan sedikit remasan di sana.
"Mau ini," ujarnya.
"Gio?" Diandra berdecak sambil menoleh, menatap wajah suaminya, saat Gio malah meneruskan aksinya.
"Iya, sayang," jawab Gio, seakan sedang dipanggil oleh istrinya.
Lagi-lagi, Diandra hanya bisa pasrah menerima sentuhan Gio yang selalu membuatnya melayang. Hingga akhirnya pergulatan penuh cinta itu kembali terjadi, tanpa bisa dia hindari.
Gio langsung turun dari ranjang setelah memastikan kalau Diandra sudah terlelap di dalam pelukannya. Membersihkan diri sebentar, lalu segera pergi untuk menyusul anak buahnya.
...***...
Randi baru saja sampai di tangga terakhir, saat dirinya melihat Diandra ke luar dari kamar dengan langkah tergesa-gesa. Mata keduanya tampak bertemu, hingga untuk beberapa saat keduanya tetap berdiri mematung di tempatnya masing-masing.
"Di mana, Gio?" Diandra sadar lebih dulu, dan langsung bertanya keberadaan suaminya.
"Dian, sebaiknya kita duduk dulu. Aku akan jelaskan semuanya," jawab Randi, lebih memilih menenangkan Diandra.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ran. Gio gak ada kabar dari tadi pagi, dia juga gak pamit sama aku. Aku mencoba menghubunginya berulang kali, tapi gak pernah tersambung!" sentak Diandra. Matanya nyalang menatap Randi penuh amarah.
"Aku tidak akan pernah memberi tahumu kalau kamu tidak bisa menenangkan diri dulu." Ranid tidak merasa takut ataupun terintimidasi oleh kemarahan Diandra, dia tetap dalam pendiriannya.
Diandra terdiam, tatapan tajamnya begitu menusuk, menyorot wajah sang asisten suaminya. Akan tetapi, Randi sudah kebal dengan semua itu, dia sama sekali tidak terpengaruh. Laki-laki itu tetap diam tanpa mau membuka mulut prihal keberadaan Gio.
Padahal, Randi juga memang belum mengetahui keberadaan Gio saat ini.
__ADS_1
"Aku tanya sekali lagi, di mana suamiku, Randi?!" ujar Diandra, dengan nada suara lebih rendah.
Walau begitu, Randi tahu kalau Diandra sangat marah padanya. Akan tetapi, dia tidak memiliki cara lain supaya Diadra bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Diandra juga bingung kenapa dirinya begitu sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri, padahal bisanya dia akan tetap terlihat tenang walau seberat apa pun masalahnya.
Namun, sepertinya kehilangan Gio membuat otak pintarnya bergeser sedikit, apa mungkin itu yang dikatakan Cing''
Melihat Randi yang tetap diam, akhirnya Diandra mundur beberapa langkah kemudian menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali. Dia melakukan itu berulang kali, agar hatinya terasa lebih dingin.
"Oke, sekarang aku sudah bisa tenang. Jelaskan, ke mana suamiku? Kenapa dia tidak ada kabar sampai sekarang?" tanya Diandra bertubi-tubi pada Randi.
"Duduk dulu," ujar Randi membawa Diandra ke kursi yang berada di dekat sana.
Diandra tidak menolak, dia akan berusaha untuk terlihat tenang, walau di dalam hatinya dirinya sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya.
Mereka duduk di kursi, dengan Diandra yang terus terdiam dengan tatapan penuh tanya pada Randi. Randi tampak salah tingkah, terus ditatap oleh istri dari bosnya itu. Bukan karena dirinya mempunyai perasaan lain. Akan tetapi, dia bingung mau berkata apa sekarang.
"Sebenarnya–" Diandra menajamkan pendengarannya saat Randi mulai berbicara.
"Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu di mana keberadaan Gio. Anak buahku sedang mencoba mencarinya, ke tempat yang kami curigai Gio berada di sana," ujar Randi dengan nada ragu.
"Maksud kamu apa, Ran? Bagaimana bisa kamu tidak tahu keberadaan Gio? Kamu kan asistennya!" ujar Diandra dengan kening bertaut dalam.
"Kamu sendiri sebagai istrinya tidak tahu, apalagi aku yang tidak ada di sisinya, Dian!" Randi sudah pusing sejak tadi pagi, sekarang dia malah disalahkan, sebagai seorang laki-laki egonya terluka oleh kata-kata Diandra.
Selama ini Gio baik-baik saja, sebelum bertemu dan jatuh cinta pada Diandra. Ini semua terjadi karena Gio berusaha menolong masalah Ana, agar Diandra bahagia. Tapi, sekarang Diandra seolah menjadi wanita tidak tahu diri, yang malah menyalahkan sesuatu pada orang lain.
"Aku memang istrinya, Ran. Tapi, dia bahkan tidak pernah mendiskusikan apa pun denganku, sedangkan selama ini dia tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu! Bahkan dia lebih suka mengobrol denganmu daripada denganmu daripada aku, istrinya sendiri!" jawab Diandra sendu.
Sungguh, sebenarnya dia cemburu dengan kedekatan antara Gio dan Randi. Bukan cemburu karena takut Randi merebut Gio darinya. Akan tetapi, dia cemburu karena Gio belum bisa jujur dan mengungkapkan keluh kesah dia padanya.
Selama ini dirinya hanya merasa menjadi istri yang hanya bisa menjadi beban untuk Gio, maka dari itu dia berusaha untuk terus memperbaiki diri dan menerima Gio di dalam hidupnya. Entah itu karena untuk membalas budi atas kebaikan Gio, atau dirinya memang sudah mencintai laki-laki itu? Diandra pun tak pernah tahu jawabannya.
Semuanya masih terasa abu-abu baginya. Dirinya yang pernah terluka oleh kata cinta, kini seakan takut untuk menyerahkan hatinya, atau mungkin mengartikan perasaan yang sebenarnya sudah ada.
Randi terdiam, dia tidak bisa lagi membalas perkataan Diandra. Keduanya tampak terdiam tanpa tahu apa yang akan mereka katakan selanjutnya.
......................
Hai-hai semuanya👐 masih ada kah yang nungguin cerita Gio dan Diandra? Mana atuh komennya, kok sepi begini? kayak kuburan aja😂🤭
__ADS_1