
......Happy Reading ......
......................
Gio masuk ke kamar setelah malam sudah lumayan larut, dia melihat Diandra yang sudah tertidur lelah di atas ranjang.
Duduk di samping tubuh sang istri, Gio mengulurkan tangannya menyingkirkan anak rambut yang terlihat menutupi kening Diandra.
Dia terdiam sejenak, dengan pandangan tak lepas dari wajah tenang Diandra yang mungkin hanya bisa dia lihat saat sedang tertidur.
Ya, hanya saat tertidur seperti ini, dia bisa melihat wajah polos tanpa ada keangkuhan dan kebencian yang terpancar dari sorot matanya.
"Kamu cantik, sangat cantik. Tak heran kalau banyak orang yang terpesona oleh kecantikan kamu, Diandra," gumamnya, berbicara seakan Diandra bisa mendengar perkataannya.
Cukup lama dia bertahan di tempat yang sama, hingga akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping istrinya, dengan pelukan erat.
.
Pagi hari menjelang, seperti biasa Diandra terbangun di pagi buta, dia sempat terkejut dengan keberadaan Gio di sampingnya.
"Astaga!" ujarnya, sambil sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Gio.
Namun, dengan cepat dia bisa mengendalikan dirinya. Dengan gerakan kasar dia memindahkan tangan Gio yang menindih perutnya.
"Dasar laki-laki brengsek!" umpatnya.
Diandra menjatuhkan kakinya, membuat dirinya duduk di sisi ranjang. Dia meminum air yang selalu tersedia di atas nakas dengan meneguk cepat hingga tandas.
Rasa kesal membuatnya melampiaskannya pada segelas air putih di tangannya.
Berdiri dan melangkah menuju almari, mengambil sebuah cardigan panjang lalu melangkah keluar kamar, dengan langkah senyap, sambil memakainya.
"Dian, kamu mau ke mana?" tanya Lisna yang baru saja keluar dari kamarnya.
Diandra menghentikan langkahnya, dia menatap wajah bingung ibunya, lalu tersenyum tipis.
"Aku mau ke pantai sebentar, Bun," jawab Diandra, lalu berbalik dan berjalan ke luar dari rumah.
"Dian!" panggil Lisna berjalan cepat menyusul anak sulungnya itu.
"Ya, Bun?" Diandra menghentikan langkahnya lagi, dan menatap wajah ibunya penuh tanya.
"Tidak bisakah, kamu duduk dulu, dan bicara dengan Bunda, Nak?" tanya Lisna sendu.
Diandra melihat wajah sendu ibunya, ada rasa sakit yang merambat di dalam hatinya. Akan tetapi, sekuat tenaga dia berusaha menahannya.
Tak ingin memperlihatkan semua itu, Diandra memilih membuang muka.
"Maaf, Bun," lirihnya, sedikit melirik ibunya di ujung mata.
__ADS_1
"Aku sudah melakukan apa yang, Bunda, mau. Bunda dan Ayah sudah bahagia kan?" tanya Diandra, dengan kepala sedikit menunduk, menyembunyikan mata yang sudah memerah.
Perempuan itu memilih pergi meninggalkan Lisna, tanpa mau menoleh lagi, walaupun suara panggilan dari ibunya itu terdengar di telinga.
"Dian ... Diandra! Maafkan Bunda, Nak," ujar Lisna, menatap kepergian anak sulungnya itu.
Diandra berjalan cepat dengan tangan mengepal kuat, menahan berbagai gejolak rasa yang tertahan di dalam dada.
"Heuh!" Menghela napas kasar dengan mata memandang jauh laut lepas di depannya.
Suasana pagi yang masih temaram, membuat dia bebas dari para pengunjung yang kebanyakan masih bergelung dengan selimut mereka.
Diandra mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Pandangannya jatuh, melihat pasir halus di depan kakinya.
Napas memburu dengan seklera mata yang mulai memerah, menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk.
Rasa rindu yang ia pendam begitu besar, hingga membuat harapannya pun semakin bertumbuh.
Namun, semua itu seakan tertelan oleh rasa kecewa, saat kedua orang tuanya masih saja tak bisa mempercayai dirinya.
Dengan mudah mereka menikahkannya pada seseorang yang baru saja dia kenal.
Bahkan sekarang ia bisa melihat kalau mereka lebih percaya pada Gio, dibandingkan dengan dirinya sendiri, anak kandungnya.
"Bagaimana kejutan dariku? Apa kamu terkejut?"
Diandra menghirup napas dalam, dengan mata tertutup, berusaha menormalkan kembali raut wajahnya.
Menegakkan tubuh sambil sedikit memutarnya, agar bisa berhadapan dengan seseorang itu.
"Kejutan?" tanyanya dengan nada dingin.
"Ya, kejutan yang sangat spesial. Bagimana? Kau terkejut?" ujar lelaki itu, dengan senyum mengejek pada wajahnya.
Diandra menautkan alisnya, berfikir tentang maksud yang tersirat dari ucapan lelaki tadi.
"Ah, kamu sudah lupa? Atau memang itu terlalu sulit untukmu?" Lelaki itu melangkah mendekati Diandra.
"Ternyata kamu tidak sepintar apa yang aku bayangkan. Baiklah-baiklah, aku akan katakan sesuatu agar kamu mengerti."
Diandra semakin menatap dalam wajah lelaki itu, dengan tubuh yang mulai waspada.
"Ares," ujarnya dengan suara lirih
Diandra melebarkan matanya mendengar nama adiknya disebut oleh orang itu. Melihat wajah lelaki itu dengan tatapan tajam dan tangan mengepal kuat.
Lelaki itu tersenyum miring dengan langkah yang semakin dekat dengan Diandra.
"Apa maumu?" tanya Diandra, dengan wajah yang mengeras.
__ADS_1
Kekehan samar dengan irama sedikit menyeramkan terdengar, membuat Diandra berlaku semakin waspada.
"Jonas, aku bertanya! Apa maumu?" tanya Diandra lagi, dengan nada dingin dan tatapan menghunus tajam.
Suaranya bahkan sudah mirip seperti geraman penuh emosi di dalamnya.
Jonas, lelaki itu berputar mengelilingi Diandra, wanita yang telah membuatnya rela menjatuhkan harga dirinya demi mendekatinya.
Namun, jangankan untuk bisa mendapakannya, menyentuhnya saja dia tidak pernah bisa. Pertahanan Diandra yang cukup kuat, membuat dia kesulitan dalam mendapatkan wanita yang penuh dengan rumor miring itu.
Penolakan yang diucapkan Diandra beberapa bulan lalu menjadi puncak kesabarannya, untuk mendapatkan hati wanita itu. Dia menyerah, dengan rasa cintanya.
Akan tetapi, entah sejak kapan rasa suka itu perlahan berubah menjadi rasa benci, seiring merasa jatuhnya harga diri yang ia miliki, sebagai seorang laki-laki.
"Hahaha! Kau sudah tau mau aku apa, Diandra!" geram Jonas dengan mata yang memerah, dia berdiri tepat di depan Diandra.
Diandra tersenyum miris, mendengar pernyataan Jonas.
"Heh ... jadi kamu mengorbankan begitu banyak orang, hanya kerena aku menolakmu?" gumam Diandra, tersenyum miring.
"Ya, dan itu bukan hanya satu kali. Kamu ingat itu?!' tunjuk Jonas pada Diandra.
Diandra menatap Jonas, dia tak habis pikir dengan pemikiran lelaki itu. Kenapa semua lelaki seakan hanya mementingkan perasaannya sendiri, tanpa mau mendengarkan perasaan perempuan sepertinya.
"Kamu egois, Jonas!"
"Bukan aku yang egois, tapi kamu, Diandra! Kamu yang egois!" potong Jonas dengan nada berapi-api.
"Bagaimana bisa kamu memaksakan cinta, itu semua diluar kendaliku. Aku sama sekali tidak mencintaimu, Jonas!" Diandra masih mampu berdiri tegak untuk melawan setiap kata yang terucap dari lelaki di depannya.
"Kamu bukan tidak mencintaiku. Tapi, hatimu itu terlalu keras dan bahkan tak pernah mencoba kamu buka untuk memberikan aku kesempatan!"
Diandra menatap nyalang mata Jonas, dengan dagu terangkat tinggi dan dada membusung, seakan bersiap untuk bertarung.
"Lalu apa bedanya aku dan kamu sekarang, hah?!" ujarnya dengan hebusan napas kasar.
"Kamu bahkan berani mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah, hanya karena urusan kita berdua. Apa namanya bila bukan egois, hah?!" sentak Diandra, tanpa merasa takut sama sekali.
"Itu semua karena aku mau melihat keangkuhanmu itu hancur. Aku mau melihat harga diri dan semua kebanggaanmu jatuh. Aku mau melihatmu hancur, hingga tak bisa lagi mengangkat kepala di depanku,," ujar Jonas dengan mata yang memerah, menahan emosi dan kebencian.
Diandra menutup mulutnya, dia sedikit goyah dengan ucapan Jonas kali ini. Hatinya sedikit meragu dengan kekuatannya sendiri.
Pandangannya sedikit jatuh, dengan tangan yang semakin menggenggam erat, menahan kesetabilan tubuhnya agar masih terlihat berdiri tegap.
"Dian!"
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung ...
__ADS_1