
...Happy Reading ...
......................
Diandra sedang berada di toilet untuk membenarkan make up yang sudah sedikit luntur karena keringat, saat tiba-tiba ada orang yang masuk ke dalam. Dengan cepat Diandra langsung membereskan peralatan make up miliknya lalu masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Sepertinya memang sudah mulai waktu istirahat, atau memang para perempuan itu sedang janjian untuk berkumpul di toilet, hingga semakin lama toilet itu semakin ramai.
Ngapain sih, mereka pada ngerumpi di toilet, udah kayak gak ada tempat lain aja? batin Diandra, sambil duduk santai di atas toilet.
"Eh, kamu dengar gak gosip yang sedang beredar tentang masalah Pak Giovano dan cewek murahan yang dulu pernah datang ke kantor? Katanya hubungan mereka udah putus, makanya cewek itu sekarang gak pernah datang lagi ke kantor," ujar salah satu permpuan, yang Diandra tahu sekali siapa orangnya.
Emang dasar sialan kamu Mely, awas saja nanti! batin Diandra mengepalkan tangannya erat.
Ternyata selama ini Mely menyebarkan gosip di dalam toilet perempuan, yang tentunya tidak akan ada CCTV yang merekam perbuatan gibah itu.
"Beneran, mereka udah putus? Wah, bagus dong, berarti sekarang status Pak Giovano sendiri lagi dong ... jadi kita masih punya kesempatan buat deketin dia!" Salah satu wanita terdengar menimpali ucapan Mely.
Heh, dalam mimpimu saja sana! Dasar perempuan gatel! Dada Diandra terasa panas saat mendengar Gio dipuja wanita lain.
Diandra tidak habis pikir dengan Mely, padahal dia sendiri yang tahu kalau Diandra adalah istri dari Gio. Akan tetapi, ternyata wanita bikini itu yang menyebarkan fitnah kalau dirinya adalah simpanan Gio pada karyawan lainnya.
"Enak saja kami bilang! Pak Giovano itu adalah miliku, jangan ada yang berani mendekatinya kalau tidak mau berurusan denganku. Kalian mengerti?!" ujar Mely tidak terima.
Dasar wanita licik, tukang fitnah, pelakor! Kalau saja aku sedang tidak menjadi Dian, kamu pasti sudah habis ditanganku! Diandra meremas benda yang ada di tangannya, merasa sangat kesal dengan perkataan Mely.
Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kita perang melalui belakang, kamu dengan menyebar gosip, dan aku yang akan mencari kebenaran, batin Diandra, sambil terus mengatur napasnya yang memburu, akibat emosi yang meledak di dalam dirinya.
Setelah memastikan kalau tampilannya tampak sempurna, Diandra kemudian membereskan make up–nya lagi lalu ke luar dari bilik toilet, dan bergabung dengan yang lainnya.
Mely yang melihat Diandra ke luar dari bilik toilet tampak terkejut dan langsung menutup mulutnya. Dengan polosnya Diandra menatap satu per satu orang itu, sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, memperlihatkan earphone yang terpasang.
Mely yang melihat itu pun mengembuskan napas lega. Begitu juga para perempuan lainnya yang tahu kalau Diandra adalah saudara Gio. Mereka mengira kalau Diandra tidak mendengar apa yang barusan mereka semua katakan.
Padahal, Diandra hanya memakai earphone tanpa suara, untuk mengelabui para permpuan tukang rumpi itu.
"Wah, sedang apa kalian semua di sini? Apa semuanya kebelet berjamaah?" tanya Diandra dengan wajah polosnya, seakan itu adalah pertanyaan biasa.
"Permisi," ujar Diandra lagi sambil berjalan melewati mereka, kemudian berdiri di depan washtafel untuk mencuci tangan.
Dasar para perempuan bodoh! hardik Diandra di dalam hati, diiringi seringai tipis di wajahnya.
Diandra ke luar dari toilet, dengan informasi baru dan bukti di dalam ponsel. Ternyata benar kata orang yang bilang kalau tempat yang tepat untuk mencari informasi tentang perempuan maka cari di toilet, karena biasanya mereka mengobrol di sana.
"Aku baru tau kalau fungsi toilet wanita bukan hanya untuk membuang hajat saja. Tapi, banyak juga hal kotor yang dibicarakan di sana," gumam Diandra sambil berjalan menuju meja kerjanya lagi.
__ADS_1
"Berarti sekarang aku harus lebih dekat lagi dengan wanita bikini itu, biar aku bisa mendapatkan banyak informasi darinya," sambungnya lagi, dengan wajah sumringah.
Notifikasi dari ponsel miliknya membuat Diandra menghentikan langkahnya.
Suami Nebelin: [Sayang, masuk ke ruanganku sekarang, kita makan siang bareng]
Diandra mencebikkan bibirnya saat melihat pesan dari Gio, yang sudah menunggunya di ruangan.
"Baru juga telat sebentar udah nyariin aja dia," ujarnya, bergumam sendiri.
"Dian, mau makan siang bareng?" tanya Tia yang hendak berjalan menuju ke pintu lift.
"Hah? Eum, gimana ya?" ujar Diandra bingung, sekaligus terkejut melihat wanita itu sudah ada di depannya.
"Ayolah, ikut makan siang bareng, di bawah juga sudah ada temen-temen yang lain." Tia mencoba merayu Diandra.
"Eum, ya udah deh aku ikut," jawab Diandra, kemudian dia kembali beralih pada ponselnya.
^^^My Love: [Maaf, siang ini aku mau makan sama karyawan yang lain]^^^
Setelah membalas pesan dari suaminya, Diandra memasukkan ponsel miliknya pada saku, kemudian berjalan masuk ke dalam lift, bersama Tia.
"Eh, tunggu!" tiba-tiba ada suara kencang yang mencegah lift untuk tertutup. Tia pun dengan sigap menekan tombol, untuk membuka pintu lift kembali.
Bukannya mereka yang tadi menggosip di toilet? Sepertinya mereka lumayan dekat, batin Diandra, memperhatikan satu per satu wanita yang ada di depannya.
"Loh, kamu juga ada di sini, Dian?" tanya Mely terlihat terkejut.
"Iya, Mba, saya diajak makan siang bareng sama Mba Tia," jawab Diandra dengan senyum ramahnya.
"Oh iya, setelah kamu masuk kerja, kita kan belum merayakannya, ya? Gimana kalau siang ini kita rayakan saja, kita makan siang di restoran sebrang?" ujar Mely penuh semangat.
"Heuheu, gimana ya?" Diandra menatap Mba Tia dengan tatapan gusar. Dia sangat enggan untuk makan satu meja dengan perempuan bikini itu.
"Tapi, kita sudah ada janji untuk makan bersama teman-teman lainnya, Mbak." Tia ikut membantu Diandra.
"Gak apa-apa, kamu kabari saja sama teman-teman kita yang lain, kita makan bersama sebagai tanda bergabungnya Dian dengan para staf sekretaris," ujar Mely, masih tetap bersikukuh untuk mengajak Diandra makan bersama.
Aku gak boleh melewatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Dian. Ini adalah jalanku agar bisa lebih dekat dengan Pak Giovano, batin Mely.
Heuh, pasti ada udang di balik batu, makanya dia ngeyel banget, batin Diandra, sambil menghembuskan napas kasar.
"Gimana, Mba Tia?" bisik Diandra pada teman barunya itu.
"Ya udahlah, kita ikutin aja maunya, dari pada nanti dapat masalah," jawab Mba Tia, masih dengan berbisik.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita ikut Mba Mely," angguk Diandra, yang langsung disambut oleh senyuman manis Mely.
"Mba Tia, tolong kasih tau yang lainnya, kalau makan siang ini, kita pindah ke restoran seberang," ujar Diandra.
"Iya kan, Mba Mely?" sambung Diandra lagi, beralih menatap Mely.
Mely pun hanya mengangguk sambil tersenyum paksa pada Diandra.
Lift akhirnya terbuka di lobi kantor, mereka pun ke luar bersama-sama, berjalan sebentar kemudian menyerang jalan untuk mencapai restoran yang dimaksud oleh Mely.
Ternyata restoran yang dipilih Mely, adalah restoran yang lumayan mewah untuk kalangan karyawan. Mba Tia bahkan sempat ragu untuk masuk.
Hem, gayanya tinggi juga. Jadi penasaran, apa dia dari kalangan orang kaya yang sedang menyamar menjadi sekretaris untuk memikat Gio? batin Diandra.
"Ayo, Mba, temenin aku masuk," ujar Diandra merayu Mba Tia yang tampak ragu.
"Tapi, makanan di sini pasti mahal-mahal, Dian," jawab Mba Tia.
"Gak apa, Mba, sekali-kali, mumpung ditraktir sama Mba Mely. Iya kan, Mba Mely?" ujar Diandra, sambil melirik pada Mely yang sedang berjalan di depan mereka.
"Hah?!" Mely tampak terkejut mendengar ucapan Diandra.
Sedangkan Diandra tersenyum dalam hati, saat melihat wajah terkejut Mely.
Sekarang pilih mana, gengsi atau money, wanita bikini? batin Diandra.
Diandra tahu kalau wanita dengan kesombongan tinggi tidak pernah mengalah jika ditangantang seperti ini. Apa lagi ini urusannya dengan uang.
"Heuheuheu, i-iya, kalian tenang saja, hari ini biar aku yang traktir," jawab Mely sambil meringis, menahan kesal.
'Sialan juga nih cewek cupu. Berani-beraninya dia buat aku mengeluarkan uang lebih hari ini. Kalau saja dia bukan saudaranya Pak Giovano, sudah aku pastikan dia dikeluarkan dari kantor secara tidak hormat! batin Mely, menahan geram pada Diandra.
Diandra, Tia, dan Mely, yang datang lebih dulu pun menempati tempat duduk di restoran itu. Karena sekarang sedang waktu makan siang, restoran pun tampak penuh, hingga cukup sulit untuk mencari kursi dengan jumlah yang banyak.
Diandra sampai harus menggabungkan dua meja agar para staf sekretaris yang lain bisa ikut duduk bersama dengan mereka.
Benar saja, beberapa orang lainnya pun terlihat hadir dan bergabung dengan Diandra, Tia, dan Mely.
Setelah para staf sekretaris datang semua, kini mereka bersiap untuk memesan makanan di restoran yang pasti berharga mahal itu.
"Jangan sungkan, hari ini kita makan sampai puas, karena kita ditraktir sama Mba Mely! Iya kan, Mba Mely?" ujar Diandra dengan mudahnya, membuat wajah Mely semakin kelam.
Mamam tuh wanita bikini, hari ini akan aku buat isi ATM kamu terkuras habis, batin Diandra tersenyum dalam hati.
......................
__ADS_1