Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Mencari


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


Gio mulai mengerjapkan matanya, tangannya mencari keberadaan Diandra di sampingnya. Akan tetapi, dia tidak bisa meraskan keberadaan istrinya.


"Sayang?" Gio memanggil sambil membuka matanya.


Laki-laki itu langsung membuka lebar matanya saat melihat di sisinya sudah kosong, bahkan sprei di tempat biasa Diandra tidur sudah terasa dingin.


"Sayang?" panggil Gio lagi, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar.


Tidak ada, dia tidak melihat keberadaan istrinya di sekitar sana.


"Sayang?" Gio langsung beranjak lalu mencari ke kamar mandi.


Namun, ternyata kosong, tidak ada siapa pun di dalam sana.


"Sayang?" Gio terus memanggil sambil menuju ke balkon.


Namun, lagi-lagi tidak ada Diandra di sana. Melihat ke halaman belakang, tempat kesukaan Diandra untuk bermain kelinci, atau melihat berbagai macam tanaman.


Matanya tidak menemukan keberadaan istrinya di mana pun.


"Kemana kamu, sayang?" gumam Gio sambil ke luar berjalan cepat ke luar dari kamar.


"Sayang ... sayang!" panggil Gio sambil berlarian ke sana ke mari, mencari keberadaan sang istri.


"Ada apa sih, ganggu orang tidur aja?" Randi menggerutu dengan wajah yang terlihat acak-acakkan karena baru bangun tidur.


Ya, dirinya menyempatkan untuk tidur siang, setelah satu minggu lebih tidur malamnya sangat kacau. Kini dia merasa tubuhnya sedikit meriang, sejak pagi.


Wajahnya tampak sangat kacau dengan lingkaran hitam di area mata, menandakan kalau dirinya tidak cukup tidur selama beberapa hari.


"Kamu, lihat Dian?" tanya Gio, menghentikan langkahnya di depan asistennya.


Randi mengernyit. "Bukankah tadi kalian masuk ke kamar berdua?"


"Iya, tadi dia tidur bersamaku. Tapi, saat aku bangun, dia sudah tidak ada," jawab Gio.


"Mungkin di luar," ujar Randi santai.


"Bantu aku mencarinya," perintah Gio.


"A–aduh, kepalaku!" Randi langsung mengaduh sambil memegang kepalanya, mencari alasan untuk tidak ikut membantu bos bucinnya itu.


Baru gak ngeliat istrinya bentar aja udah heboh banget, udah kayak ilang seminggu aja. Dasar bucin! batin Randi.

__ADS_1


Gio hanya berdecak melihat Randi yang berbalik dan masuk lagi ke kamarnya.


"Dasar asisten kampret! Berani dia ngelawan perintahku? Awas aja nanti, aku potong gaji kamu," gerutu Gio, sambil kembali mencari keberadaan istrinya.


Dia sibuk mencari ke sana ke mari, hingga tanpa terasa hampir semua bagian vila sudah dia sambangi. Hingga salah satu anak buahnya mengetahui kalau Diandra berjalan ke luar dari vila, sekitar empat puluh lima menit yang lalu.


"Ke luar? Kenapa kamu gak ngikutin dia, heh?!" sentak Gio pada salah satu anak buahnya.


"Sekarang kamu tau di mana istriku?" sambung Gio lagi.


"Maaf, Pak. Saya pikir Bu Dian sudah izin pada, Bapak," jawab anak buah Gio dengan kepala menunduk dalam.


"Ck, dasar bodoh! Sekarang cari istriku sampai ketemu!" perintah Gio dengan wajah yang tampak mengeras, menahan amarah.


"B–baik, Pak." Laki-laki itu langsung berjalan mundur lalu berbalik pergi meninggalkan Gio dengan amarahnya.


"Kalian juga, cepat cari istriku sampai ketemu!" perintah Gio pada anak buahnya yang lain.


Sepeninggal semua anak buahnya, Gio berbalik dan berlari cepat menuju kamarnya untuk mengganti baju.


Beberapa saat kemudian Gia sudah tampak kembali ke luar dengan langkah lebarnya, dia juga berusaha untuk menghubungi ponsel Diandra, walau nomornya terus tidak aktif.


"Kamu ke mana, sayang? Kenapa ke luar gak izin dulu sama aku," gumam Gio sambil terus menekan nomor Diandra di layar ponselnya.


Gio tampak kalang kabut, dia seperti seorang anak yang kehilangan ibunya, mencari Diandra sampai tak kenal lelah, hingga hampir seluruh tempat di kampung itu dia jelajahi.


Segera Gio berlari menuju tempat di mana Diandra saat ini, hingga beberapa saat kemudian laki-laki itu tampak berhenti di bantaran sungai yang berada di belakang hutan buatan.


Pandangannya tertuju pada perempuan yang sudah membuatnya berpikir yang macam-macam dan berlari keliling kampung, selama hampir tiga puluh menit.


Diandra tampak duduk sendiri di salah satu batu yang berada di pohon waru yang tampak rindang, hingga menghalangi sinar mata hari.


Gio tampak menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali, dia melakukan itu berulang kali. Mencoba menenangkan hati yang sudah terlanjur terbakar oleh pemikirannya sendiri. Lalu, mulai melangkah pelan mendekati istrinya.


"Sayang," panggil Gio.


Diandra menoleh, melihat Gio yang tengah berdiri di sampingnya. Perempuan itu tampak terkejut saat melihat suaminya di sana.


"Kamu, kenapa ke sini sendiri, sayang?" tanya Gio, sambil ikut duduk di belakang Diandra kemudian memeluk istri dinginnya dari belakang.


"Aku khawatir banget tau, aku kira kamu ninggalin aku," sambung Gio lagi. Tangannya menyibak rambut Diandra yang berada di sisi lehernya, lalu menyusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya.


Diandra tidak menolak, dia membiarkan Gio meluapkan perasaannya.


"Maaf," jawab Diandra tanpa memberikan penjelasan pasti pada Gio.


Dia melihat sungai ini, saat perjalanan menemui Rani di saung. Pemandangannya yang sangat indah, memebuatnya seakan terdorong untuk duduk di sana sebentar.

__ADS_1


Namun, karena terbuai oleh kaindahan yang ada, Diandra malah lupa waktu dan melupakan suaminya yang ia tinggalkan dalam keadaan tertidur di vila.


"Kenapa, kamu, di sini hem?" tanya Gio.


"Aku suka suasananya," jawab Diandra.


"Apa yang kamu suka, sayang?" tanya Gio, kini dia meletakkan dagunya di pundak Diandra, dengan sesekali memberikan ciuman di pipi istrinya.


"Suasananya tenang, airnya juga jernih. Melihat semua ini membuat hati dan pikiranku terasa lebih tenang," jawab Diandra.


"Begitukah?" tanya Gio lagi yang langsung dianggukki oleh Diandra.


"Menurutku, di mana saja tempatnya asalkan itu bersama kamu, aku akan merasa bahagia," ujar Gio.


"Ck, dasar gombal!" decak Diandra, berusaha menutupi rona merah di pipinya.


Gio terkekeh, dia tahu istrinya itu hanya merasa malu saat dirinya mulai menggodanya.


"Jangan tinggalkan aku lagi," ujar Gio tiba-tiba.


"Aku hanya berjalan-jalan," sanggah Diandra.


"Tapi, aku tidak suka jika itu tanpa berpamitan padaku."


"Iya, lain kali aku akan berpamitan. Maaf, untuk kali ini." Diandra menelengkan kepalanya, melihat raut wajah kesal Gio.


"Janji?" Gio menuntut.


"Iya, aku janji. Tapi, kamu juga harus janji tidak akan pergi tanpa izin dariku," ujar Diandra memberikan sayarat.


Cup!


Gio mengecup kilas bibir Diandra kemudian mengangguk setuju.


"Tentu ... apa pun untuk istri tercintaku," jawab Gio.


Diandra tersenyum, dia kembali mengalihkan pandangannya pada sungai di hadapannya, Gio pun mengeratkan pelukan di tubuh Diandra.


Gio dan Diandra tampak sama-sama terdiam, menikmati semilir angin yang menerpa tubuh keduanya, diiringi oleh suara gesekan daun dan air yang mengalir di sungai.


Sungguh suasana ini terasa begitu romantis, walau dalam sebuah kesederhanaan. Tidak perlu membayar restoran mahal, atau membayar pemain musik terkenal.


Cukup suara alam yang terdengar merdu saat seluruh indra bekerja sama untuk menikmatinya, membuat hati dan pikiran mereka tenang begitu saja.


Iklan dulu dari konflik, ada yang gak kuat nahan ngebucin🤭😂


......................

__ADS_1


__ADS_2