
...Happy Reading...
......................
Diandra melebarkan matanya, melihat benda di tangan suaminya itu. Ya, itu adalah pakaian dalamnya yang tidak boleh dilihat oleh sembarang orang, apalagi itu adalah laki-laki.
Astaga, kenapa aku ceroboh sekali! batin Diandra.
Senyum Gio semakin lebar, saat melihat wajah panik istrinya, dia sedikit menggoyangkan benda di tangannya itu, hingga membuat istrinya semakin merasa kesal.
Diandra melangkah cepat ke arah Gio, wajah yang sejak tadi sudah berwarna merah, kini terlihat semakin kelam, begitu melihat senyum penuh godaan dari suaminya.
Dengan gerakan cepat, dia langsung berusaha mengambil benda terlarang itu. Akan tetapai, ternyata gerakannya kalah cepat dari Gio.
"Tidak semudah itu, sayang," ujar Gio, sambil menjauhkan benda itu dari jangkauan istrinya.
Diandra melihat penuh permusuhan wajah tengil dan jahil suaminnya.
"Kembalikan, dasar tidak sopan!" ujar Diandra masih mencoba mengambil benda itu di tangan Gio.
Gio menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya, dengan senyum penuh maksud di wajahnya.
__ADS_1
"Ambil saja kalau bisa," ujarnya.
Diandra semakin dibuat kesal, dia menaruh baju di tangannya lalu mencondongkan tubuhnya, untuk mengambil pakaian yang berupa sebuah kain kecil itu.
Gio tersenyum senang, saat tanpa sadar kini tubuh keduanya semakin merapat, karena dorongan dari Diandra.
"Ayo ambil kalau bisa," ujar Gio lagi, diiringi dengan tawanya.
Laki-laki itu semakin senang mempermainkan perempuan yang kini sudah duduk di pangkuannya. Dia kini mengangkat tangannya agak ke belakang tubuhnya, membuat Diandra semakin menekan tubuh miliknya.
"Kembalikan, brengsek! Dasar lali-laki mesum, cabul!" umpat Diandra, sambil terus berusaha meraih benda di tangan suminya.
Tubuh Diandra kembali menegang, dengan pikiran yang tiba-tiba saja terasa kosong. Dia sama sekali tidak terbiasa berada terlalu dekat dengan seorang laki-laki.
Cup.
Gio mencuri sebuah ciuman di bibir merah ceri istrinya. Dia sedikit lama, menempelkan bibirnya di sana, hingga dirinya dapat merasakan aroma segar bercampur dengan rasa manis di bibir istrinya.
Diandra mengerjapkan matanya, saat merasakan sensasi hangat dan kenyal yang menempel di bibirnya, dia langsung berusaha menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Gio, saat sadar akan posisinya.
Namun, tangan Gio terlebih dulu mencekal tubuhnya, hingga dirinya tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Lepaskan, Brengsek! Dasar laki-laki, kurang ajar!" Diandra mengumpat penuh amrah, dia memukul keras dada suaminya.
"Arrgh!" Gio mengerang, menahan rasa yang lumayan berdenyut di dadanya, walaupun itu bukanlah sesuatu yang menyakitkan menurutnya.
Diandra pun akhirnya bebas dan berhasil mengambil pakaian dalamnya di tangan sang suami. Dia berdiri di depan Gio yang masih terbaring di atas ranjang.
Ada sedikit rasa bersalah, saat melihat wajah kesakitan yang dibuat-buat oleh Gio, walau akhirnya dia memilih menepis semua rasa itu, berbalik cepat dan kembali masuk ke kamar mandi dengan napas yang memburu.
Gio melihat punggung sang istri yang semakin menjauh darinya.
Aku akan terus berusaha membuatmu menyadari perasaan kamu padaku, juga membuatmu terbiasa dengan kehadiranku di sampingmu.
Diandra menutup pintu kamar mandi dengan gerakan kasar, hingga menimbulkan suara nyaring yang cukup menggema.
Dia menyandarkan dirinya di balik pintu, dengan tangan dia letakkan di depan dada, berusaha menahan degub jantung yang kian bertalu.
Tidak Diandra, dia hanyalah laki-laki yang sama saja seperti Eric. Mereka hanya menganggap perempuan adalah sebuah permainan yang bisa disakiti setelah didapatkan.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
__ADS_1