Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Mantan Casanova


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Diandra berdiri di depan cermin full body, gaun A-line dengan warna abu-abu muda, ditambah manik-manik di sekitar dada hingga ke pinggang dan semakin ke bawah akan semakin jarang, membuatnya terlihat berbeda, walau masih bisa mempertahankan gaya yang sederhana.


Rambutnya hanya dibiarkan terurai di bagian belakang, dengan menjepit bagian sampingnya agar lebih rapih.


Para make up artis yang meriasnya sudah ke luar, hingga kini hanya ada dirinya di kamar hotel itu, menunggu Gio yang akan menjemputnya untuk langsung pergi ke acara di area ballroom hotel itu.


Gio memang sengaja memilih menginap di hotel yang sama, agar lebih mempersingkat waktu, mengingat besok pagi mereka harus kembali lagi ke Jakarta.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Diandra, dia menoleh ke arah pintu, di mana ada Gio yang baru saja masuk ke dalam. Laki-laki itu tampak terdiam beberapa detik saat pandangan keduanya beradu, kemudian tersenyum sambil melanjutkan langkahnya.


Diandra menatap tampilan suaminya dari bawah sampai ke atas, stelan tuxedo yang terlihat formal dengan jas bertabur manik-manik, tidak kalah dari baju yang dirinya pakai. Sepertinya gaun dan jas milik Gio memang sudah di desain untuk dipakai bersama.


Ketampanan Gio seolah naik beberapa kali lipat, bertambah dengan kesan mewah dan mahal dari pakaian yang dia kenakan.


"Kamu cantik sekali, sayang," ujar Gio sambil melingkarkan tangannya di pinggang Diandra. Keduanya tampak melihat tampilan mereka dari pantulan cermin di depannya.


"Terima kasih," jawab Diandra, tersenyum manis.


"Ayo, kita berangkat sekarang, pestanya pasti sudah mulai," ujar Gio yang langsung diangguki oleh Diandra.


Keduanya tampak ke luar bersama-sama dari dalam kamar hotel, sedangkan di depan pintu sudah ada Randi yang menunggu keduanya untuk berangkat menuju pesta bersama.


Beberapa saat kemudian Gio, Diandra dan Randi pun sudah sampai, di pesta perayaan pernikahan dari salah seorang pengusaha besar di negara S, yang juga merupakan relasi bisnis Gio.


Diandra melingkarkan tangannya di lengan suaminya, berjalan beriringan dengan sangat serasi. Diandra yang terlihat anggun dan Gio yang tampak gagah dan berkarisma.


Beberapa orang tampak menyapa, yang ditanggapi langsung oleh Gio. Dia sempat berhenti beberapa kali sebelum akhirnya sampai di pelaminan.


Suasana pesta yang ramai membuat Gio sangat menjaga Diandra, seperti saat ini, ketika mereka berdua sedang mengambil makanan.


Diandra yang tidak berselera dengan makanan yang ada di sana, hanya mengambil potongan buah, sedangkan Gio mengambil beberapa makanan di piringnya.

__ADS_1


Namun, saat keduanya baru saja duduk di salah satu kursi, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang menyapa.


"Hai, Gio, apa kabar?" tanya perempuan itu sambil duduk di samping Gio dan bergelayut manja di lengannya.


Diandra yang melihat itu mengerutkan keningnya dia masih mencoba hanya memperhatikannya saja, walau raut wajah Diandra sudah terlihat berubah.


Gio yang merasa risih langsung melepaskan tangan perempuan itu dari lengannya.


"Jane," sapa Gio sambil menjauhkan tubuhnya dari perempuan itu.


Diandra menatap selidik wanita di samping suaminya, pakaian seksi yang mempelihatkan hampir semua lekuk tubuhnya, sudah membuat Diandra berdecak.


Riasan tebal yang tampak tegas dan mneonjolkan kecantikan wanita itu pun semakin membuat Diandra kesal.


"Sepertinya selera kamu sudah berubah sekarang, wanita itu terlihat seperti wanita baik-baik," ujar perempuan di samping Gio sambil melirik Diandra yang duduk di depan Gio.


"Apa sekarang kamu beralih, pada perempuan polos dan merusaknya perlahan? Dasar laki-laki brengsek! Kamu sudah bosan dengan wanita malam yang biasa kamu pakai, heh?" cerocos wanita itu, membuat hati Diandra semakin memanas.


Tangan Diandra yang sedang memegang garpu tampak menggenggam semakin erat, sepertinya wanita yang tengah hamil muda itu sedang melampiaskan rasa marah dan kesalnya pada garpu di tangannya.


"Aku gak nyangka kamu ada di negara ini, Gio. Kenapa enggak bilang aku, hah? Pokoknya sebelum kamu pulang kita harus pergi ke club biasa, biar nanti aku hubungi teman-teman kita yang lainya."


"Jane! Ini istriku!" tekan Gio, tanpa memberi jeda pada perkataan Jane yang sudah melebar ke mana-mana.


Jane tampak langsung terdiam sambil menutup mulutnya dengan tangan, raut wajahnya terlihat sangat terkejut mendengar pernyataan Gio.


"Kamu sudah menikah? Waw, ini berita yang sangat mengejutkan!" ujar wanita itu dengan wajah terkejutnya.


Diandra berdecak sambil menusuk buah di piringnya dengan gerakan kasar, salah satu ujung bibirnya pun tampak tertarik ke atas tipis, wajah yang sejak tadi ramah kini berganti dingin.


"Maaf, Gio. Aku tidak tau," lirih Jane, saat melihat raut wajah Diandra.


Gio menatap kesal wanita di sampingnya itu, kemudian beralih pada Diandra.


"Sayang, kenalkan ini Jane, dia adalah temanku waktu kuliah di sini," jelas Gio, pada isrinya.

__ADS_1


"Jane, ini Diandra, istriku," sambungnya lagi.


"Hai, aku jane, temannya Gio. Masalah omongan aku yang tadi, gak usah dimasukkan ke hati ya, aku tidak bermaksud begitu." Jane tampak mengulurkan tangannya pada Diandra sekaligus menjelaskan.


"Sudahlah, tidak apa-apa, aku juga tidak perduli," jawab Diandra acuh.


"Hehe, baguslah kalau begitu, berarti kamu sudah tau kan, kalau Gio itu seorang casanova, dia tidak bisa hidup dengan hanya satu orang perempuan," ujar Jane, kembali menyulut emosi.


"Jane!" Gio hampir saja menggebrak meja, saat dia sudah merasa geram dengan perkataan teman lamanya itu.


Mereka memang sempat berteman karena Jane adalah salah satu kekasih teman laki-laki Gio. Akan tetapi, mereka tidak terlalu dekat, karena Gio sendiri tidak pernah mau menyentuh perempuan yang sudah dekat dengan para teman-temannya.


Diandra menahan tangan Gio, dia meneguk air di dalam gelas dengan gerakan anggun kemudian menatap wajah Jane dengan tatapan tajam, walau ada sunggingan tipis di bibirnya.


"Dia mungkin dulunya memang seorang casanova. Tapi, sekarang dia hanya miliku!" ujar Diandra tajam, dia kemudian berdiri diikuti oleh Gio.


"Sayang, sepertinya aku lelah, tidak apa bukan kalau kita pulang lebih dulu, sebelum acaranya selesai?" tanya Diandra sambil merangkul tangan Gio.


"Tentu, sayang. Ayo kita berpamitan dulu," jawab Gio mengelus punggung tangan Diandra yang sedang merangkul lengannya.


Walau di dalam hati Gio merasa was-was, untuk menghadapi kemarahan Diandra karena kejadian ini.


"Permisi, kami duluan," ujar Diandra kemudian melangkah pergi meninggalkan wajah terkejut Jane.


"Sayang-" Gio memanggil Diandra lirih.


"Kita selesaikan semua ini di kamar, aku tidak mau mempermalukan diriku di acara orang lain!" jawab Diandra, membuat tubuh Gio meneggang.


Tuh kan, dia pasti akan membantaiku habis-habisan di kamar, batin Gio mengasihani dirinya sendiri.


Randi yang memang memisahkan diri tidak mengetahui insiden itu, membuat dirinya bingung saat melihat Gio dan Diandra keluar dari ballroom hotel tanpa memberitahunya lebih dulu.


......................


Ish, ada apa lagi nih🤔

__ADS_1


__ADS_2