Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bertemu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Hari ini, hari di mana Diandra dan Rani akan menjalani tes DNA di salah satu rumah sakit besar di pusat kota bandung.


Mereka berangkat dengan mobil yang sama, Rani duduk di kursi depan dengan Randi yang menyetir, sedangkan Diandra bersama dengan Gio di kursi belakang.


Sepanjang jalan yang ditempuh lebih dari satu jam itu, hanya diisi dengan keheningan, mereka semua terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Diandra terus menatap Rani yang duduk tepat di depannya, sorot matanya tampak menggambarkan semua rasa yang hanya terpendam di dalam dada.


Sedangkan perhatian Gio hanya terus tertuju pada Diandra yang berada di sampingnya. Tangan keduanya tampak terus bertaut, seakan tak ingin lagi terpisah.


Gio tahu saat ini Diandra sangat membutuhkan dukungan darinya sebagai suaminya, dia terus mencoba melakukan itu, walau dirinya juga tidak tahu itu benar atau salah.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Keempat orang itu langsung masuk ke dalam bersama-sama, Randi menjadi menunjuk jalan mengingat dia memang sudah membuat janji dengan dokter yang merupakan salah satu kenalannya.


Beberapa waktu kemudian waktunya untuk mengambil darah pun tiba, Diandra yang takut dengan jarum suntik sudah merasa tegang, dia bahkan tidak mau jauh dari suaminya.


"Tenang, sayang, ini gak sakit kok, cuman kayak digigit semut," ujar Gio, saat Diandra sudah duduk di ruang pengambilan darah.


"Emang aku anka kecil, bisa kamu bohongin kayak gitu?" Diandra menatap wajah Gio dengan kesal.


Gio terkekeh, saat sedang takut seperti ini, kenapa wajah istrinya malah semakin lucu.


"Gak akan sakit, kan ada aku di sini," jawab Gio, sambil mengusap gemas puncak kepala Diandra.


"Ck!" Diandra hanya berdecak malas, menanggapi suami terlalu percaya diri itu.


Diandra memeluk tangan Gio dengan wajah yang dia sembunyikan di pinggang suaminya, ketika sudah saatnya pengambilan darah.


Memang terlihat berlebihan jika dilihat oleh orang lain, Diandra bahkan terlihat lebih manja dibandingkan dengan anak kecil. Akan tetapi, itu tidak membuat Gio merasa sungkan, menghadapi ketakutan Diandra pada jarum suntik.


Dengan sabar Gio terus mengusap punggung Diandra, berusaha menenangkan istrinya dari rasa takutnya.


Rania yang berada di ruangan yang sama, tampak melihat sepasang suami istri itu, dia tampak tersenyum tipis, dan itu tertangkap oleh mata Gio.


Setelah semua prosedur tes DNA selesai, mereka langsung berpamitan kepada dokter dan kembali ke luar dari rumah sakit.


.


.


Dua orang dengan wajah serupa itu kini duduk berdua di sebuah gubuk kecil di ladang jagung salah satu warga yang cukup jauh dari perkampungan.

__ADS_1


Ya, tadi pagi saat Diandra sedang membantu Bi Minah menyiram tanaman, dia menyampaikan pesan dari Rani untuknya.


Flash back.


"Apa, Neng Dian, mau bertemu dengan Rani?" tanya Bi Minah dengan suara yang rendah.


Diandra langsung menoleh pada wanita paruh baya itu, dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bi Minah padanya. Mengingat selama ini Rani seolah terus menghindar darinya, saat dirinya berusaha bertemu.


Bahkan setelah menjalankan tes DNA dua hari yang lalu, mereka belum bertemu lagi sampai saat ini.


"Tentu saja aku mau, Bi," jawab Diandra penuh semangat.


Bi Minah tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sana.


"Datanglah ke ladang di sebelah timur kampung," ujar Bi Minah.


"Di mana itu, Bi? Aku tidak tau." Diandra mengernyit bingung.


"Neng Dian, cukup ikuti jalan kecil pertama yang ada di sebelah kanan, setelah ke luar dari gerbang utama, nanti ada ladang jagung, di sana ada gubuk kecil, Rani menunggu, Neng Dian, di sana," jawab Bi Minah, sekaligus menjelaskan jalan kepada Diandra.


Diandra mengangguk. "Jam berapa?"


"Setelah makan siang," jawab Bi Minah.


"Kamu masih takut jarum suntik?" Rani tiba-tiba saja membuka suara.


Diandra tersenyum kemudian menoleh pada perempuan di sampingnya, lalu mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya. Keduanya tampak langsung berpelukan dengan air mata mengalir begitu saja.


Melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam di dalam dada, tanpa tahu kapan akan terobati.


"Benarkan, kamu Ana. Aku tau, hatiku tidak pernah salah, sejak pertama aku melihatmu aku tau kamu adalah adikku," cerocos Diandra, masih memeluk erat tubuh Rani.


"Aku kangen banget sama kamu, Ana. Kenapa kamu pergi? Aku mencarimu ke mana-mana, tapi tidak pernah sekalipun aku mendapatkan informasi tentang kamu," imbuh Diandra lagi.


Sepertinya sejak kejadian beberapa tahun lalu, ini adalah kata terpanjang yang Diandra ucapkan, kecuali dalam keadaan rapat yang mengharuskannya menjelaskan.


"Dasar, kutu buku! Kenapa kamu gak berubah setelah hampir empat tahun tidak bertemu?" tanya Rani, di sela isak tangisnya.


"Sedangkan kamu sudah sangat banyak berubah. Aku bahkan hampir tidak bisa lagi mengenali kamu, Ana," jawab Diandra sambil mengurai pelukan di antara mereka.


Rani tampak terdiam, kemudian tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh Diandra.


"Bagaimana rumah, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Rani.


Diandra menatap Rani atau Diana, dia sudah sangat berubah. Bukan hanya penampilannya, akan tetapi, juga dengan cara bicara dan pemikirannya.

__ADS_1


Rani terlihat lebih dewasa, dan tidak lagi terlihat seperti seorang perempuan ceroboh dan sedikit manja, seperti sebelumnya.


"Semuanya tidak baik-baik saja, Ana. Kita semua tersiksa karena kamu pergi meninggalkan kami," jawab Diandra.


Rani terdiam, dia tampak menatap jauh hamparan pohon jagung yang sudah hampir berbunga, ada gejolak rasa di dalam dada yang belum bisa dia katakan kepada Diandra.


"Pulanglah, Rani. Bunda, Ayah, dan Ares menunggu kamu, mereka tidak pernah melupakan kamu selama ini," sambung Diandra lagi.


Rani menggeleng, membuat Diandra mengernyit. "Aku tidak bisa, Dian. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sebelum aku bisa pulang."


"Ada apa, Ana? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Diandra.


Sebenarnya dia memendam sangat banyak pertanyaan di dalam kepalanya, untuk Diana. Akan tetapi, rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


Rani tampak terdiam, menatap wajah Diandra dengan senyumnya, tanpa menjawab pertanyaan dari Diandra.


"Aku senang, sekarang kamu sudah bahagia. Ada laki-laki yang sangat mencintai kamu dan pasti bisa menjaga kamu dengan baik," ujar Rani.


Diandra tersenyum dia mengangguk walau dia juga tidak mau menimpali ucapan Rani, di dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Rani.


"Dian, sebenarnya aku menemui kamu di sini, untuk meminta bantuan," ujar Rani, yang membuat Diandra langsung menatap Rani penuh tanya.


"Bantuan apa? Bila aku bisa membantunya aku pasti akan berusaha untuk membantu kamu sebisaku," jawab Diandra cepat.


"Aku mau, kamu membuat hasil tes DNA palsu, dengan hasil kalau kita bukan saudara kembar," ujar Rani.


Kerutan di kening Diandra semakin dalam. Ini terlalu membingungkan hingga dia sendiri tidak bisa menerka apa sebenarnya yang diinginkan oleh Rani.


"Maksud kamu apa?" tanya Diana.


Rani tampak menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar, matanya kembali berkaca-kaca dengan ingatan yang berkelana entah ke mana.


"Tidak boleh ada yang tahu kalau aku masih hidup, Dian. Ini demi seseorang yang sangat penting untuk hidupku," ujar Diana, tanpa memberikan kejelasan.


"Seseorang yang penting? Maksud kamu siapa? Hary?" tanya Diandra lagi.


Nah makin pusing kan? Mulai main tebak-tebakan yuk🤭


.................


Ada karya bagus nih, yuk mampir😊



..................

__ADS_1


__ADS_2