
...Happy Reading...
.....................
"Air di sini juga masih sangat segar. Kamu, mau merasakannya?" tanya Gio.
"Boleh, tapi kamu temani aku," jawab Diandra.
"Ayo, aku temani turun ke sungai." Gio melepaskan tubuh Diandra lalu bersiap untuk turun ke sungai.
Walau matahari masih terlihat terik. Akan tetapi, air sungai itu masih terasa dingin.
"Sini, pegang tanganku," ujar Gio setelah dirinya masuk ke dalam sungai lebih dulu.
Diandra memegang tangan Gio, dia kemudian masuk ke dalam sungai, merasakan betapa sejuknya air pegunungan asli.
"Dingin gak?" tanya Gio.
Diandra terkekeh saat dirinya berhasil masuk ke dalam sungai, rasanya begitu sejuk hingga dia tidak bisa lagi meraskan teriknya sinar matahari.
"Enggak," jawab Diandra sambil mulai berjalan menyusuri bebatuan yang ada di sungai.
Gio mengambil ponselnya, dia mengambil beberapa foto Diandra yang sedang menikmati sungai di depannya.
Diandra tampak menoleh lalu berdecak malas, dia tidak suka difoto. Tiba-tiba terlintas ide jahil untuk mengerjai Gio.
Diandra sedikit membungkukkan tubuhnya lalu menyipratkan air ke sembarang arah, hingga saat ada kesempatan Diandra memberikan cipratan air itu ke tubuh Gio.
"Uh!" Gio yang tengah fokus mengambil gambar istrinya itu pun terkejut dengan kejahilan istrinya.
Gio langsung menyimpan ponselnya di batu tempat mereka duduk lalu membalas cipratan air pada istrinya.
"Akh!" Diandra menjerit saat air dari Gio mengenai wajahnya.
Perempuan itu kembali membalas, hingga akhirnya sepasang suami istri itu saling mencipratkan air bagaikan anak kecil yang sedang bermain.
"Gio, stop dulu, aku basah!" teriak Diandra, begitu menyadari bahwa dirinya sudah hampir kuyup.
"Gak, sebelum kamu panggil aku sayang!" jawab Gio, memanfaatkan situasi.
Ah, ternyata niat awal Diandra yang akan mengerjai Gio, kini malah berbalik pada dirinya sendiri. Perempuan itu malah kewalahan menghadapi cipratan air dari suaminya.
"Gio!" Diandra masih memanggil nama pada Gio.
"Sayang ... panggil aku sayang!" jawab Gio lagi, dengan nada penuh penekanan, walau masih terdengar lembut.
__ADS_1
"Gio, berhenti dulu!" teriak Diandra lagi.
"Panggil sayang dulu!" Gio bersikaras, dia terus melangkah mendekati istrinya.
Hingga akhirnya Gio berhasil mendekati istrinya lalu menggendong Diandra ala bridal style.
"Mau panggil sayang, atau aku ceburin ke sana?" tanya Gio sambil bergerak seakan ingin melempar tubuh Diandra.
"Gio!" Diandra reflek mengalungkan tangannya pada leher Gio dengan erat.
"Sayang." Gio menuntut
"Satu ...." Gio mulai menghitung dengan tubuh yang terus bergerak hendak melepaskan tubuh Diandra.
"Gio!" Diandra masih belum menyerah untuk melawan suaminya, walau dia tahu kali ini posisinya sangat tidak menguntungkan.
"Dua ...." Kembali Gio menghitung.
"Akh!" Diandra menjerit, sambil mengeratkan pelukannya, matanya pun tertutup rapat, bersiap jika memang Gio akan melemparkannya.
"Ti–"
"Sayang! Sayang! Sayang!" Diandra langsung berteriak cepat sambil menempel erat pada tubuh Gio.
Gio tersenyum, selama pernikahannya ini adalah kedua kalinya Diandra memanggilnya sayang, dan itu sangat mmebuatnya bahagia.
Tanpa Diandra tahu, Gik kini bersiap untuk menjatuhkan tubuhnya pada air yang cukup dalam, bersama Diandra di pangkuannya.
"Aaah!" Diandra menjerit sambil menutup mata rapat.
Suara air yang terkena tubuh sepasang suami istri itu, terdengar nyaring, membuat semua anak buah Gio langsung ke luar dari persembunyiannya. Mereka mengira kalau Gio benar-benar tergelincir lalu jatuh ke dalam kolam sungai itu.
Namun, saat mereka hendak berlari menghampiri tempat kejadian, Gio dan Diandra tampak muncul bersamaan dengan gelak tawa dari laki-laki mantan casanova itu.
"Gio, dasar berengsek! Playboy cap kodok!" teriak Diandra melepaskan kekesalannya pada sang suami, karena kini tubuhnya benar-benar basah kuyup.
"Iya, sayang," jawab Gio di iringi dengan tawanya.
Gio kembali memeluk tubuh Diandra, dengan kebahagiaan yang membuncah di dalam dada, dia menyambar bibir Diandra yang mengerucut tanda kekesalannya.
Para anak buah Gio pun langsung berhenti lalu berbalik cepat menuju tempat persembunyian mereka masing-masing.
Suara helaan napas pun terdengar bersahutan, menandakan rasa kesal dan pasrah para orang-orang itu, atas kelakuan dua bos besarnya itu.
Ah, ternyata mereka terkena prank yang dilakukan oleh bosnya. Itu bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan sebuah ajang pamer kemesraan.
__ADS_1
Gio dan Diandra melanjutkan ciuman mereka, tanpa menghiraukan wajah kusut dari para anak buah Gio yang hanya bisa menelan salivanya.
Nasib, anak buah memang selalu begitu. Untung saja saat ini tidak ada Randi di sini, kalau tidak asiten Gio itu pasti akan uring-uringan karena merasa dikerjai oleh bosnya sendiri.
Maklum saja, kalangan para jomlo memang sering kali lebih sensitif saat diperlihatkan adegan mesra para pasangan.
.
.
Rani baru saja ke luar dari arah kebun, saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Dia sengaja mengambil jalan yang berbeda dengan Diandra, agar pertemuannya kali ini tidak diketahui oleh orang lain.
"Hemp!" Tubuh Rani didesak pada sebuah pohon, dengan seseorang di belakangnya, yang mengunci kedua tangannya.
"Jangan berani macam-macam, atau kamu tidak akan pernah melihatnya lagi," bisik laki-laki itu tepat di belakang kepala Rani.
Rani terdiam, napasnya terdengar memburu saat jantungnya bahkan sudah bertalu. Rasa takut, sakit, benci, seakan menikamnya, hingga seluruh tubuhnya terasa lemas, bahkan tidak bisa untuk sekedar bersuara.
Dia tahu kalau selama ini dirinya memang sedang diawasi, mereka sudah pasti tidak akan pernah melepaskannya, walaupun dirinya sudah mengganti identitas dirinya.
Namun, dia tidak tahu penyamarannya akan terbongkar begitu cepat seperti ini.
"A–apa maksudmu?" tanya Rani dengan suara terbata.
"Jangan berpura-pura! Kami sudah tau kalau kamu adalah Diana! Jadi jangan berani macam-macam, atau kakakmu yang sangat kami sayangi itu, akan terkena imbasnya!" ancam orang itu.
"A–aku tidak mengerti apa maksudmu? A–aku bukan orang yang kamu maksud," kilah Rani.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa tunggu hasil tes DNA," sambung Rani.
Rani terhuyung hingga hampir terjatuh saat laki-laki itu mendorong tubuhnya cukup keras.
"Awas saja kalau kamu memang terbukti Diana, bos pasti tidak akan pernah melepaskan kamu!" tunjuk laki-laki itu tepat di wajah rani, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rani.
Rani menghembuskan napas kasar berulang kali, mencoba menetralkan debar jantung yang masih bertalu hingga tubuhnya bergetar.
Matanya menatap punggung laki-laki yang berjalan cepat menuju ke hutan, dia sama sekali tidak bisa melihat wajah laki-laki yang mengancamnya, karena menggunakan masker dan penutup kepala.
Rani terduduk di pinggir jalan kecil yang jarang dilewati oleh warga, tangannya memeluk kaki hingga menempel pada dada. Kepalanya menunduk dalam, hingga keningnya menempel pada lutut.
Isak tangis pun terdengar lirih, seiring bahu yang terlihat bergetar, Rani menggigit bibir bagian bawahnya, untuk menahan tangis yang seakan semakin menyesakkan dada.
Lama dia terdiam di sana, hingga tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya. Rani langsung mengangkat kepala, dia menoleh ke belakang melihat seseorang yang ada di sana.
"Kenapa kamu di sini sendiri?"
__ADS_1
Hayo, siapa tuh yang megang bahu Rani? komen😊
...................