Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Extra Part


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Diandra membuka matanya lebar dengan jantung yang berdetak kencang, napasnya pun tampak tidak beraturan, matanya mengedar melihat orang yang kini sedang berada di depannya.


Bunda, Mama Hana, Ayah Eros, Gita, bahkan Ares dan Ana pun ada di sana, mereka menatapnya dengan wajah bingung bercampur lega.


"Dian, kamu sudah sadar, Nak?" tanya Bunda sambil mengelus kepala Diandra lembut.


Air mata Diandra kembali berderai begitu melihat wajah-wajah yang ada di sana dan tidak ada keberadaan Gio di depannya.


"Loh, kenapa nangis, sayang? Kondisi kamu baik-baik aja kok, kehamilan kamu juga tidak ada masalah walau sempat mengalami pendarahan," ujar Mama Hana, menatap Diandra bingung.


"Mama, Gioโ€“" Diandra kembali terisak dia menatap Mama Hana sedih.


"Kenapa dengan Gio, sayang? Dia sedang pergi, nanti juga pasti kembali lagi," ujar Mama Hana malah membuat tangis Diandra semakin menjadi, walau dia juga menatap bingung mertuanya itu.


"Mama, Gio sudah pergi." Diandra menyangka kalau Mama Hana salah bicara.


"Iya, Gio memang sudah pergi, baru lima menit yang lalu, dia pasti sekarang sedang menuju ke sini lagi karena mengetahui kalau kamu sudah sadar." Mama Hana tampak terlihat bingung.


"Gak usah lebay deh, Teh. Ditinggal pergi A' Gio makan aja udah kayak ditinggal mati," desah Ares, memutar bola matanya, kemudian memilih duduk di sofa.


"Iya, nih. Sekarang kenapa Kak Dian juga ikut-ikutan bucin, kayak Kak Gio. Gak asik ah!" Gita tampak ikut menimpali perkataan Ares kemudian duduk di samping Ares.


"Hush, kalian ini, jangan suka ngomong sembarangan." Ayah Eros terlihat menegur dua anak muda itu.


"Eh, apa? Gio pergi ke mana?" Tangis Diandra terhenti seketika, dia merasa sudah mendengar sesuatu yang ganjil dari omongan kedua adiknya itu, dan kini malah tertarik untuk memperjelas pendengarannya.


"Gio cuman sedang makan di kantin rumah sakit dengan Randi, sayang. Maaf, tadi Mama menyuruhnya makan dulu, soalnya Mama gak tau kalau kamu akan sadar sekarang," ujar Mama Hana yang membuat Diandra langsung duduk di brankar dengan mata melebar.


"Mah! Gio di mana?!" tanya Diandra dengan mata yang berubah penuh semangat.


"Dia tadi Mama suruh makan sama Randi, sayang," jawab Mama Hana lagi.


"Gio sedang makan? Dia gak meninggal?" tanya Diandra menatap bingung bercampur senang orang-orang yang ada di sana.


Berbeda dengan Diandra, semua orang yang ada di sana malah tampak menahan senyum melihat Diandra yang kebingungan.


"Gak ada yang meninggal, sayang. Gio masih hidup." Bunda ikut menimpali, sambil mengusap halus rambut Diandra.


Diandra menatap penuh selidik satu per satu wajah yang kini berada di ruangan rawatnya, seolah sedang memastikan sesuatu dari raut wajah mereka semua.

__ADS_1


"Kalian pasti bohong, kan? Kalian pasti cuman mau bikin aku tenang aja, kan?" tanya Diandra masih merasa curiga dengan pernyataan keluarganya tentang Gio.


Dokter pun datang dan menyela perbincangan antara keluarga besar itu, dia pun memeriksa Diandra dengan seksama. Diandra dan semuanya pun terdiam sambil memperhatikan dokter memeriksa.


"Dok, boleh aku bertanya?" ujar Diandra tiba-tiba di saat dokter itu masih memeriksanya.


"Tentu boleh, memanggnya mau tanya apa?" tanya Dokter itu sambil masih berkonsultasi memeriksa pasiennya.


"Bagaimana kondisi suami saya yang kecelakaan mobil dengan saya?" tanya Diandra, yang membuat semua keluarganya menghembuskan napas kasar bersamaan.


Dokter tampak tersenyum, dia kemudian berdiri tegak kembali, kemudian memasukkan tangannya pada kantong jubah dokternya.


"Suami Anda baik-baik saja, dia hanya mengalami cedera ringan dan sekarang sudah bisa beraktifitas seperti biasanya," jawab Dokter itu yang membuat Diandra juga ikut tersenyum.


"Lalu bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Ayah Eros, menyela perbincangan antara dokter dan Diandra.


"Semuanya baik-baik saja, kondisi pasien sudah tidak mengkhawatirkan, dan kehamilannya pun sudah baik-baik saja," jelas dokter yang membuat semua orang menghembuskan napas lega.


"Terima kasih, Dok," ujar Ayah Eros setelah dokter selesai memberikan penjelasan.


Ketika dokter ke luar dari ruangan seorang laki-laki tampak berpapasan di pintu masuk, hingga membuat Diandra yang melihat itu tampak menajamkan matanya.


Diandra semakin dibuat terkejut dengan sosok laki-laki yang kini sudah terlihat jelas di matanya. Itu adalah Gio, suami yang dia sangka telah meninggal.


Gio yang melihat istrinya sudah membuka mata, bahkan kini berada dalam keadaan duduk bersandar, langsung tersenyum dan menghampiri Diandra.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga, hem? Kenapa kamu lama sekali bangunnya? Aku sangat khawatir sama kamu," cercar Gio sambil langsung memeluk tubuh istrinya.


Diandra mengedipkan matanya pelan, bayangan kejadian saat dia menyaksikan Gio koma dan akhirnya menyerah masih jelas di ingatan. Akan tetapi, kenapa sekarang dia melihat Gio yang sehat bahkan bisa memeluknya.


"Gio?" Diandra mendorong tubuh suaminya perlahan membuat Gio mengurai pelukannya.


"Ada apa, sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Gio menatap khawatir istrinya.


Diandra tampak menatap wajah Gio dengan seksama, tangannya terulur menangkup wajah Gio, kemudian perlahan mengelusnya. Terasa sedikit kasar di area jambang dan dagunya, mungkin karena Gio tidak sempat mencukurnya.


"Gio, kamu masih hidup? Kamu beneran ada di sini, di depanku?" lirih Diandra dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, ini aku, sayang," angguk Gio, dengan senyum merekah.


Diandra melepaskan tangannya di wajah Gio kemudian memeluk suaminya erat, dia sangat bahagia hingga tidak terasa air mata jatuh begitu saja, karena semua yang dia lihat sebelumnya hanya sebuah ilusi atau mungkin mimpi saat dirinya belum sadarkan diri.


"Aku kira kamu susah ninggalin aku, aku kira aku gak akan ketemu sama kamu lagi, Gio," lirih Diandra di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Aku gak akan pergi ninggalin kamu, sayang. Gak akan pernah," jawab Gio sambil tersenyum senang.


Berbeda dengan pasangan suami istri yang sedang memamerkan kemesraan tanpa menyadari keberadaan orang lain di sana. Mama Hana, Bunda Lisna, dan Ayah Eros, mengajak yang lainnya untuk ke luar dari ruangan, dan memberikan waktu berdua bagi Gio dan Diandra.


"Tunggu, berarti sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" tanya Diandra sambil mengurai pelukannya.


"Kamu sudah dua hari tidak sadarkan diri, sayang. Kata dokter itu karena pendarahan dan trauma pasca kecelakaan," jawab Gio.


"Jadi semua yang aku alami itu hanya mimpi selama dua hari?" tanya Diandra.


Gio mengernyikan keningnya saat mendengar pertanyaan Diandra yang membuatnya bingung.


"Memang apa yang kamu alami selama dua hari ini, hem? Kamu pasti mimpi indah ya, sampai gak mau bangun," tanya Gio menatap wajah istrinya dengan gemas.


Bagaimana bisa istrinya itu malah asik bermimpi, sedangkan di sini, semua orang sibuk mengkhawatirkannya yang tidak kunjung terbangun.


"Enggak, itu mimpi yang sangat buruk, dan sepertinya kamu gak usah tau," geleng Diandra.


"Baiklah, aku gak akan memaksa kalau memang kamu gak mau cerita," ujar Gio sambil kembali memeluk istrinya.


"Aku cinta sama kamu, Gio. Jangan pernah tinggalin aku," ujar Diandra tiba-tiba, hingga membuat Gio menautkan keningnya, walau akhirnya dia tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku juga cinta sama kamu, sayang. Gak akan pernah aku meninggalkan kamu, hingga akhir hidupku. Itu janjiku," jawab Gio diakhiri dengan ciuman di kening sang istri.


"Kamu miliku, kamu gak boleh pergi tanpa izin dariku," ujar Diandra lagi mengeratkan pelukannya.


Gio terkekeh pelan, dia merasa kali ini Diandra cukup berlebihan. Walau sebenarnya kadang dia juga mengatakan itu pada istrinya.


"Aku serius! Kamu gak boleh ninggalin aku, sebelum aku mengizinkan kamu!" Diandra melepaskan pelukannya kemudian menatap Gio dengan wajah serius.


Gio tertawa karena merasa kini Diandra sudah mirip sepertinya, dan itu membuatnya senang, walau dia tidak tahu apa penyebabnya.


"Iya, aku janji, aku gak akan pernah pergi dan ninggalin kamu, sebelum kamu memberikan izin," angguk Gio menatap istrinya gemas.


Diandra tersenyum dia kemudian memeluk kembali suaminya dengan perasaan yang sudah lebih tenang dan juga bahagia. Mimpinya kemarin membuatnya lebih bisa mengungkapkan perasaannya, karena memang kita tidak pernah tau kapan waktu kita di dunia akan berakhir, begitupun dengan orang-orang di sekitar kita.


Ungkapkanlah rasa sayang kalian kepada orang yang kalian sayangi, sebelum itu hanya akan menjadi kata yang akan tersimpan di dalam hati.


Penyesalan memang selalu ada di belakang, dan terlambat akan selalu menjadi jalan dari sebuah penyesalan, jika kita tidak bersiap untuk sebuah perpisahan dan sadar akan waktu perpisahan yang akan datang.


......................


Siapa yang kena prank?๐Ÿคญ Maafkan ya, author gabut nih gara-gara gak ada yang komen๐Ÿ˜โœŒ๏ธ Sebenarnya author juga gak tega bikin sad endingnya, kasihan lah apa lagi visual mereka itu termasuk pasangan favorit.

__ADS_1


Terima kasih atas semua dukungannya, baik itu yang kasih gift, like, komen, dan vote. Semuanya sangat berarti buat aku. Ohya jangan pada kabur dulu ya, karena masih ada satu ekstra part lagi, dan sekaligus ada sedikit tanda terima kasih dari aku bagi reader pilihan๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2