Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Badan aja gede


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Diandra melangkah ke luar kamar, dia mencari keberadaan Gio di seluruh rumah. Akan tetapi, dia sama sekali tidak melihat keberadaan istrinya.


Perempuan itu kemudian berjalan menuju dapur, sebentar lagi adalah waktu makan siang, dia yakin Bi Minah pasti ada di sana.


Benar saja, begitu dia sampai di pintu dapur, dirinya bisa melihat Bi Minah sedang memasak di dapur.


Diandra menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, mencoba meredam rasa penasarannya dan raut wajahnya. Dia perlahan masuk dengan langkah yang senyap dan terlihat santai, seakan tidak ada kejadian apa pun pagi tadi.


Menurutnya Bi Minah sedikit mencurigakan, dia dan Rani pasti menyembunyikan sesuatu. Akan tetapi, dia belum tahu apa itu.


"Lagi masak apa, Bi?" tanya Diandra, sambil berjalan menuju lemari es, dia mengambil botol air minum kemudian menghampiri Bi Minah.


Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat kedatangan Diandra, walaupun kemudian dia juga terlihat menutupi semuanya dengan senyum.


"Bibi bikin ayam rica-rica sama cah kangkung, ada juga tempe goreng. Neng Dian mau makan sekarang?" tanya Bi Minah, sambil menatap wajah Diandra, sambil sesekali mengaduk cah kangkung di penggorengan.


Dirinya tahu, bahwa Diandra dan Gio tidak memakan sarapannya, akibat kejadian tadi pagi.


"Ah, enggak, Bi. Aku nanti saja, nunggu Gio dulu," jawab Diandra, dia duduk di kursi lalu meneguk minuman itu dari gelas yang sebelumnya dia bawa.


"Oh iya, Bi. Tau gak, Gio pergi ke mana? Aku sudah mencarinya dari tadi, tapi, gak ketemu," sambung Diandra lagi.


"Oh, Den Gio  sepertinya ada di ruang kerja, tadi bibi sempat lihat ada anak buahnya yang masuk ke sana," jawab Bi Minah.


"Sepertinya Den Gio sibuk sekali, sampai tidak sarapan tadi pagi," sambung Bi Minah, memberitahu Diandra apa yang terjadi pada Gio.


"Dia gak sarapan?" Diandra tampak melebarkan bola matanya.


Ada rasa bersalah di dalam hatinya, karena dirinya telah mengabaikan suaminya itu sejak tadi pagi.


"Iya, Neng. Tadi pagi, hanya Pak Randi yang sarapan," jawab Bi Minah lagi.


"Ya sudah, tolong siapkan makam siangnya ya, Bi. Biar aku yang panggil Gio," perintah Diandra.


"Baik, Neng," angguk Bi Minah, sambil mematikan kompor.


Diandra mengangguk mendengar jawaban dari Bi Minah, dia kemudian beranjak berdiri.

__ADS_1


"Kalau gitu aku ke sana dulu ya, Bi. Makasih," ujar Diandra.


"Iya, Neng, sama-sama," jawab Bi Minah.


Diandra pun berjalan kembali menaiki tangga, ruang kerja Gio berada di lantai atas. Diandra berjalan menyusuri lorong, melewati beberapa kamar kosong, tempat keluarga Gio menginap, menuju ke ruangan paling pojok.


Untung saja sewaktu mereka baru sampai, Gio sudah memberi tahu setiap ruangan yang ada di vila, sehingga dia tidak perlu bingung lagi mencari ke setiap sudut vila itu.


Gio yang masih membicarakan masalah perempuan  yang bernama Rani, sempat terkejut dengan ketukkan di pintu.


"Siapa?" tanya Randi dari dalam sambil melangkah menuju pintu, mengingat pintunya sengaja mereka kunci.


"Ini aku," jawab Diandra, tanpa menyebutkan namanya.


"Dian?" gumam Gio mengernyit bingung, dia mengenal suara istrinya.


"Cepat buka pintunya. Hah, akhirnya dia mau ke luar dari kamar juga," perintah Gio dengan wajah yang berubah sumringah.


Randi membuka pintu, benar saja di sana terlihat Diandra berdiri dengan pakaian rumahannya. Kaos longgar yang dipadukan dengan celana denim panjang membuatnya tampak lebih jenjang.


Raut wajahnya sudah lebih segar dari tadi pagi, sepertinya perempuan itu sudah mandi sebelum ke luar dari kamar.


"Dian. Ayo masuk, Gio ada di dalam," ujar Randi, sambil membuka lebar pintu ruang kerja Gio.


Gio langsung tersenyum sumringah, melihat Diandra yang terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Sayang, kamu ke luar. Ada apa? Apa yang kamu butuhkan, hem?" Gio berdiri di samping meja kerjanya, menyambut kedatangan istrinya, seolah mereka sudah terpisah begitu lama.


Tentu saja semua sikap Gio hanya mengundang decakkan malas dari Randi dan anak buahnya.


Heuh, dasar bucin akut! decak Randi di dalam hati.


Randi akhirnya mengajak anak buahnya ke luar, dia tidak mau menjadi obat nyamuk dari pasangan itu.


"Aku senang banget, kamu udah mau ke luar dari kamar," ujar Gio sambil memeluk Diandra.


"Maaf, aku gak bermaksud untuk mengabaikan kamu," jawab Diandra sambil membalas pelukan Gio.


"Gak ada yang merasa diabaikan, sayang. Aku hanya khawatir saja." Gio melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Diandra.


Dia mengambil tangan Diandra lalu mengajaknya duduk di sofa.

__ADS_1


"Kamu mau apa? Atau butuh sesuatu, hem?" tanya Gio, dia takut istrinya menginginkan sesuatu, akan tetapi, ragu untuk mengatakannya.


"Ish, memangnya aku mau menemui kamu hanya karena butuh saja? Aku gak sejahat itu ya," decak Diandra.


"Eh, enggak gitu! Aku cuman takut kamu butuh sesuatu." Gio terlihat panik saat melihat wajah Diandra kembali cemberut.


Diandra tersenyum dalam hati, melihat Gio yang selalu mengutamakannya. Semakin lama dirinya bersama dengan Gio, Diandra merasa Gio adalah laki-laki yang sempurna, hingga tidak ada celah untuknya menolak semua kasih sayangnya.


Rasa nyaman setiap kali berada di dekat Gio juga semakin besar. Kini apa lagi yang harus dia pertimbangkan untuk menerima laki-laki ini?


Namun, sepertinya dia harus sedikit menunda. Diandra tidak ingin berbahagia saat dirinya bahkan belum tahu bagaimana nasib saudara kembarnya.


Diandra yakin, Gio pasti mau menunggunya sebentar lagi, setidaknya sampai masalah di kampung ini terpecahkan. Dia hanya ingin tahu, apa benar Rani itu adalah Ana, atau mereka hanya mirip saja.


"Kamu ini kenapa gak sarapan? Aku gak suka ya, kamu mengabaikan kesehatan hanya karena aku," ujar Diandra, menatap tajam wajah Gio, seakan dirinya tengah marah.


Sesekali menggoda suaminya itu, mungkin tidak apa-apa. Sekaligus membuktikan kepada Gio kalau dirinya sudah baik-baik saja.


"Eh?" Gio tampak terkejut mendengar perkataan Diandra.


"I–itu, aku hanya gak selera makan aja," jawab Gio, sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Badan aja gede, masa makan aja harus disuapin! Ayo, kamu harus makan dulu. Mana bisa kamu kerja dalam keadaan perut kosong," cerocos Diandra, dia berdiri lalu menggandeng tangan Gio.


Gio melongo mendapati sikap Diandra yang berubah. Selama ini perempuan itu tidak pernah menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan seperti ini.


Gio mengikuti langkah Diandra ke luar dari ruang kerja menuju ke ruang makan. Di sana terlihat Bi Minah sedang menyiapkan makan siang.


"Makan siang sudah siap, Neng," ujar Bi Minah, begitu melihat sepasang suami istri itu datang.


"Ah iya, terima kasih ya, Bi," jawab Diandra.


Bi Minah pun akhirnya pamit meninggalkan sepasang suami istri itu. Diandra mendudukkan Gio di kursi, lalu mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Makan dulu, baru nanti dilanjutkan lagi kerjanya. Kamu boleh sibuk, tapi, jangan sampai lupa makan," ujar Diandra sambil menaruh piring Gio yang udah dia isi di depan suaminya.


Gio tersenyum, sepertinya ada rencana di dalam otak casnovanya.


"Aku gak selera makan, sayang," tolak Gio.


....................

__ADS_1


Jangan aneh-aneh Gio, awas nanti Diandra marah lagi🤭


__ADS_2