Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Suara perut


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Diandra terbangun ketika matahari sudah mulai meninggi, pelukan hangat Gio benar-benar membuatnya tertidur sangat lelap, hingga sekarang tubuhnya terasa lebih segar, karena merasa sudah cukup beristirahat.


Diandra memegang tangan Gio yang masih melingkar di perutnya, terasa nyaman dan hangat, membuatnya merasa selalu dicintai oleh suaminya.


Apa bayiku juga bisa merasakan kehangatan tangan ayahnya? Dia juga pasti sangat senang bila bisa mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari ayahnya, batin Diandra.


Tiba-tiba dia membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga kecilnya yang pasti akan lebih berwarna dengan kehadiran tawa seorang anak di dalamnya. Apa lagi melihat kasih sayang Gio padanya, yang pasti juga akan lebih besar dalam menyayangi anaknya.


Kecupan hangat di pipinya, tiba-tiba membuyarkan lamuanan Diandra, membuatnya menoleh ke arah samping, sambil merebahkan tubuhnya menjadi terlentang.


Ternyata di sana sudah ada Gio yang tengah melihatnya dengan senyum hangatnya.


"Lagi bayangin apa, hem? Bangun tidur udah senyum-senyum sendiri saja," tanya Gio yang sedang berbaring miring dengan salah satu tangan menumpu kepalanya.


"Gak ada," geleng Diandra, mencoba berbohong.


"Benarkah? Lalu, kenapa kamu senyum-senyum begitu, hem?" Gio menoel puncak hidung mancung istrinya.


"Aku gak apa-apa, hanya sedang bersyukur aja, karena akhirnya kita bisa bersama lagi, setelah tadi malam aku sudah hampir putus asa, karena turbulensi pesawat," jawab Diandra membayangkan betapa menenggangkannya kejadian kemarin malam.


"Makannya, kalau aku bilang harus ditemani anak buahku, kamu nurut dong, sayang. Setidaknya kamu akan merasa lebih aman, dan aku juga kan lebih tenang," ujar Gio, menatap gemas wajah istrinya.


Ya, Gio sudah menyuruh Diandra untuk terbang ditemani oleh salah satu anak buah Gio, agar Gio juga merasa tenang. Akan tetapi Diandra bersikeras untuk pergi sendiri, karena dia merasa tidak nyaman saat harus pergi berdua dengan seorang laki-laki, selain suaminya.


"Maaf," jawab Diandra sambil mencebikkan bibirnya.


Gio tersenyum, dia kemudian melingkarkan tangannya di perut Diandra sambil sesekali memberikan ciuman kilas di pipi sang istri.


"Pokoknya nanti kalau kita mau pergi, harus pergi bersama. Gak ada lagi alasan untuk menolak!" ujar Gio, dengan nada terdengar tegas, walau masih terasa kelembutan di dalamnya.


"Iya-iya, gak usah dibahas terus, ih," jawab Diandra menatap kesal Gio.


"Iya, sayang." Gio terkekeh, melihat wajah kesal Diandra.


"Kamu senang bisa bertemu lagi denganku?" tanya Gio bagaikan seorang anak yang sedang menahan rasa senangnya.


"Mana ada seorang istri yang tidak bahagia saat bertemu dengan suaminya," jawab Diandra menatap malas Gio.


"Bukannya dulu–" Gio terlihat menjeda perkataannya.


"Jadi kamu mau aku masih seperti dulu?" tanya Diandra menyela.

__ADS_1


"Eh? Bukan begitu, sayang. Aku hanya terkejut  karena ternyata kamu juga merindukan aku." Gio terlihat menatap gemas istrinya, tangannya dia biarkan bertengger di perut bagian atas Diandra, sambil mengelusnya perlahan. Entah itu naluri seorang Ayah, atau memang Gio sudah menantikan keberadaan calon anak-anaknya di dalam sana.


"Heem, baiklah. Aku percaya," angguk Diandra sambil mengalihkan tangan Gio ke atas perut bagian bawah.


Gio tidak terlalu memperhatikan, dia hanya asik menikmati wajah cantik istrinya, hingga suara perut Diandra mengalihkan perhatiannya.


"Kamu lapar, sayang?" tanya Gio, menatap wajah Diandra yang terlihat meringis sambil menyusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Ya ampun, kenapa perutku bisa berbunyi seperti ini? Bikin malu saja, batin Diandra, mengumpat tubuhnya sendiri.


"Astaga, sayang. maafkan aku, karena terlalu lelap aku sampai lupa waktu dan lupa menyiapkan kamu makan," ujar Gio saat sadar kalau saat ini hari sudah siang.


"T–tidak, siapa bilang aku lapar," bantah Diandra,


Namun, semua itu malah membuat Diandra semakin malu saat perutnya kembali berbunyi.


Astaga, apa-apaan ini? batin Diandra kesal sendiri.


Mungkin karena dari sore kemarin Diandra belum makan, jadi saat ini dia merasa sangat lapar.


Gio menahan tawanya, melihat sikap Diandra yang malu hingga menyembunyikan wajah di dadanya. Dengan gemas Dia langsung memeluk tubuh sang istri.


"Sebentar, aku pesan makanan dulu," ujar Gio sambil melepaskan pelukannya.


"Gak mau!" Diandra menggeleng kepala. Karena malu, Diandra enggan melepaskan pelukannya pada sang suami.


Diandra malah memeluk Gio erat, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, hem? Bukannya kamu lapar? Biarkan aku memesan makanan dulu," ujar Gio sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah istrinya.


Diandra tidak menjawab, dia hanya kembali menggeleng.


Gio menghembuskan napas panjang, dia sebenarnya tahu kalau istrinya pasti sedang malu, karena perutnya yang berbunyi.


"Baiklah, kalau begitu longgarkan dulu pelukannya." Gio akhirnya pasrah. Dia mengambil telepon dengan susah payah, tanpa melepaskan tubuh sang istri.


Beberapa saat kemudian makanan pun datang, keduanya tampak sudah duduk di sofa sambil menikmati sarapan yang tertunda.


"Enak gak, makanannya?" tanya Gio.


"Enak, walaupun lebih enak makanan bikinan Mama dan Bunda," jawab Diandra, tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan di depannya.


Gio tersenyum, ternyata Diandra lebih senang dengan makanan rumahan dari pada makanan restoran seperti itu.


"Hari ini aku gak ada jadwal, kamu mau kita jalan-jalan ke mana, sayang?" tanya Gio, kemudian menenggak air di dalam gelas, sebagai akhir dari makannya saat itu.

__ADS_1


"Gak tau, terserah kamu aja," jawab Diandra, dia pun mengakhiri kegiatan makannya.


.


.


Karena nanti malam mereka harus menghadiri undangan pesta dari kolega bisnis Gio, Diandra dan Gio hanya memilih untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Seperti sekarang ini, keduanya tengah menikmati sore di taman yang berada tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


"Gio," panggil Diandra yang duduk sambil menyandarkan kepalanya di pundak Gio.


"Hem?" Gio hanya bergumam sebagai jawaban, kepalanya menoleh melihat wajah sang istri yang masih asik menatap ke depan.


"Kamu suka anak-anak enggak?" tanya Diandra tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Sebenarnya, kalau anak orang lain yang nakal dan berisik aku kurang suka. Tapi, kalau mereka bagian dari keluargaku, aku selalu suka," jawab Gio.


"Memang kenapa, sayang?" tanya Gio, sambil menatap wajah Diandra.


"Kamu mau punya anak?" tanya Diandra lagi, dia mengangkat kepalanya kemudian menoleh menatap sang suami, walau kemudian memilih untuk kembali mengedarkan matanya, saat mata keduanya sempat beradu tatap.


"Tentu, bukankah itu adalah penantian setiap orang yang sudah menikah? Tapi, aku tidak akan pernah meminta atau memaksa kamu untuk melakukan itu, jika memang kamu belum siap, sayang," jawab Gio, tangannya yang berada di pundak Diandra semakin menariknya untuk mendekat.


Diandra mengerutkan keningnya, dia terlihat bingung dengan jawaban Gio.


"Kenapa?" tanyanya.


"Karena hamil dan melahirkan itu bukanlah hal yang mudah, dan itu akan kamu lalui sendiri. Aku tidak bisa membantu apa-apa, selain hanya memberi semangat dan mendukung kamu. Jadi, aku akan menunggu sampai kamu siap, sayang. Bagiku, bisa tetap bersama kamu setiap waktu saja, sudah sangat membuatku bahagia," jelas Gio, sambil mengusap rambut istrinya lembut.


Diandra tersenyum, walau kemudian mencebik sambil melirik Gio kesal.


"Terserah aku katanya? Tapi, kamu selalu menebar benih di rahimku!" gerutu Diandra, mengingat selama ini mereka tidak melakukan pencegahan sama sekali.


Gio terkekeh, tangannya mengacak rambut istrinya gemas.


"Itu kan bagian dari usaha, sayang," jawab Gio masih diiringi dengan kekehannya.


"Ck!" Diandra mencebik kesal sambil melirik sinis pada Gio.


"Ish, sayangnya aku ini cantik banget sih," ujar Gio lagi, sambil mengecup kilas kening Diandra kemudian merangkulnya kembali.


"Nih," ujar Diandra sambil memegang sebuah kotak kado kecil di tangannya. Itu persis seukuran kotak sebuah kalung, yang memajang.


"Apa ini, sayang?" tanya Gio, melihat kotak kado yang diperlihatkan oleh Diandra.


......................

__ADS_1


Siap-siap buat lihat reaksi Gio saat tau tentang kehamilan Diandra🥰


__ADS_2