Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.27 Sah


__ADS_3

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dian kini terdiam di depan meja rias, baju pengantin yang sudah membalut tubuhnya, lengkap dengan hiasan kepala yang bernama siger, juga untian bunga melati yang menghias rambutnya.


Tak ada lagi tangis yang pecah, atau air mata yang keluar, tatapan mata itu kini berubah kosong, wajah yang terlihat begitu cantik dengan riasan sempurna itu, kini tampak tak bercahaya.


Dia terdiam dengan perasaan tak karuan, marah, sedih dan tak berdaya, saat ini benar-benar membuatnya tak bisa berpikir jernih.


Kejadian ini, sudah membuatnya jatuh ke dalam jurang kekecewaan dan putus asa yang teramat besar.


Semua yang telah ia perjuangkan selama ini, terasa sia-sia. Akhirnya, sekarang dia akan menikah dengan seorang lelaki yang bahkan baru beberapa hari ini dia kenal.


Tidak pernah ia bayangkan, kalau ayahnya mau melepaskannya pada lelaki yang baru sekali bertemu, itu pun tanpa ada komunikasi sebelumnya.


"Teh?" Ares mendekat kepada kakak sulungnya yang masih termenung dengan pikirannya sendiri.


Dia merasa kasihan pada nasib kakaknya yang harus menikah demi menepati janjinya kepada sang ibu. Akan tetapi, dia juga tidak bisa ikut campur dalam masalah ini, apa lagi dengan membantah perkataan ayahnya.


"Teh?" Ares, memanggil untuk ke dua kalinya.


Dian terperanjat, dia melihat Ares dengan ujung matanya, lalu menghembuskan napas kasar. Suara kata sah yang sampai ke area kamar, bisa memastikan kalau saat ini adiknya itu sedang menjemputnya untuk keluar.


"Teh, sudah waktunya, Teteh, keluar," ujar Ares, mengusap kedua pundak Diandra, mencoba memberi kekuatan pada kakaknya.


Diandra mengangguk, dia akhirnya beranjak dengan berpegangan pada lengan Ares. Langkahnya sedikit goyah, bila saja adiknya itu tak menahannya.


"Teteh, gak apa-apa?" tanya Ares, dengan nada khawatir.


Diandra tersenyum samar, lalu menggeleng pelan, meyakinkan sang adik bahwa keadaannya memang baik-baik saja.


Ares mengangguk lalu berjalan di samping Diandra, mereka melangkah meninggalkan kamar pribadi milik Diandra, menuju ruang tamu tempat ijab kabul berlangsung.


Sampai di sana, Diandra bisa melihat orang-orang yang berada di sana, dia mengenal Beberapa, selain kedua orang tua dan Gio tentunya.

__ADS_1


Romi dan Randi juga ada di sana, juga Yaya. Mereka duduk di belakang Goi yang kini masih berada di depan penghulu dan ayahnya.


Ares membawa Diandra untuk duduk di samping Gio, Diandra duduk dengan wajah menunduk, mungkin semua orang mengira dia malu sebagai pengantin baru. Akan tetapi, yang sebenarnya dia menyembunyikan mata yang sudah terasa panas, dengan airmata yang mendesak ingin keluar.


Penghulu mengarahkan untuk Diandra mencium tangan Gio, sebagai bentuk bakti pertamanya dengan status seorang istri.


Dengan ragu Dian mengambil tangan yang disodorkan Gio di hadapannya, menciumnya sekilas lalu melepaskannya lagi, dia baru saja sedikit bernapas saat Gio menarik kepalanya dan mendaratkan ciuman di kening.


Gema tepuk tangan dari orang-orang yang berada di sana, tak membuat Diandra merasakan sedikit saja kebahagiaan. Akan tetapi, malah membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.


Beberapa saat kemudian, acara sudah selesai dilangsungkan, tak ada pesta ataupun undangan yang datang. Pernikahan itu benar-benar tersembunyi dari pihak luar.


Diandra kini berada di kamar kembali, dia sedang membuka setiap pernak-pernik riasan pengantin dari tubuhnya.


Sementara itu, Gio masih berada di ruang tamu, dia berbincang dengan Eros dan beberapa orang lainnya yang masih bertahan di sana.


Romi dan Randi pamit terlebih dahulu karena ada pekerjaan lain yang harus mereka kerjakan, kedua asisten dari Gio dan Diandra itu, juga cukup terkejut dengan pernikahan dadakan para bosnya itu.


"Saya akan berusaha untuk membuat Diandra bahagia, Yah," jawab Gio.


Hari sudah beranjak sore, saat Gio berjalan menuju ke kamar Diandra. Gio menghentikan langkahnya di depan pintu yang tidak tertutup rapat, sedikit ragu untuk masuk.


Entah bagaimana nanti dia harus menghadapi Diandra yang sekarang sudah berubah status sebagai istri sahnya.


"Nak Gio, kok belum masuk?" tanya Lisna yang kebetulan lewat di depan kamar Diandra.


"I–iya, Bun. Ini aku mau masuk," jawab Gio dengan senyum kikuknya.


"Oh, ya sudah, kalau gitu bunda ke sana dulu," ujar Lisna, yang langsung mendapat anggukkan dari Gio.


Sepeninggal Lisna, kini tangan Gio perlahan memutar gagang pintu, tak ada yang bisa menarik perhatian mata lelaki itu, kecuali sosok perempuan yang kini sedang berdiri membelakanginya, menatap jendela dengan lengan yang bersidekap dada.


Melangkahkan kaki ke dalam ruangan asing itu, kamar pribadi sosok perempuan yang kini telah menjadi istrinya.

__ADS_1


"Dian?" panggil Gio lirih, setelah dia berdiri di belakang istrinya itu.


"Kenapa kamu menyetujui pernikahan ini?" tanpa membalikkan badan, Diandra bertanya dengan nada dingin.


"Maafkan aku," jawab GIo, tanpa memberikan kepastian atas pertanyaan Diandra.


Perempuan itu tampak menunduk dengan hembusan napas panjang. Dia tak berhak marah kepada Gio, karena di dalam pernikahan ini, lelaki itu juga korban. Begitulah mungkin pemikiran Diandra saat ini.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, terbelenggu dalam rasa canggung yang tercipta di antara sepasang pengantin baru itu.


"Bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Diandra, dia masih mengingat perempuan yang mencari masalah padanya di rumah sakit.


"Hah?" Gio tampak belum mengerti kemana pertanyaan Diandra. Entah karena tidak ada lagi perempuan di sisinya, atau mungkin karena terlalu banyak perempuan yang telah mengelilingi hidupnya.


"Sudahlah, aku juga tidak peduli dengan semua itu." Dian memutar tubuhnya, menghadap Gio.


"Kita memang sudah menikah di hadapan penghulu dan keluargaku, kita juga sudah menikah di mata hukum dan negara ini. Tapi, aku dan kamu tau atas dasar apa pernikahan ini terjadi." Diandra menjeda perkataannya.


Gio mengernyit, mendengar ucapan Diandra, walau begitu, dia masih mencoba mendengarkan.


"Bisakah kita berjalan seperti biasa? Aku dengan kebebasanku dan kamu dengan kebebasanmu?" tanya Diandra.


Walau dia ingin sekali memutuskan untuk tak meneruskan pernikahan ini, akan tetapi, dia berusaha untuk tak mengambil keputusan secara geggabah. apa lagi ini menyangkut nama baik keluarganya.


Diandra juga bisa langsung mengungkapkan permintaannya kepada Gio tanpa bertanya seperti ini, hanya saja di sadar, kalau statusnya kini adalah seorang istri.


Sekuat apa pun dia membantah, semua itu kini sudah terjadi, akan tetapi dia hanya ingin meminta waktu hingga dirinya sendiri bisa berdamai dengan dirinya sendiri, juga masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


"Apa maksudmu?" tanya Gio.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2