
...Happy Reading...
......................
Diandra membuka matanya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya.
"Huh, ternyata dia gak ada," ujar Diandra bernapas lega.
Perempuan itu kemudian berangsur dari tempat tidurnya, lalu duduk di ujung ranjang. Tangannya meraih gelas yang ada di nakas, lalu menenggak sedikit air, untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering.
Setelah meletakkan kembali gelas di atas nakas, pandangan Diandra kini beralih pada jendela yang menampilkan cahaya matahari.
Terlihat terang dan terik, hingga membuat mata Diandra memicing, menahan silau. Itu semua menandakan kalau hari sudah berganti siang.
Suara ketukkan di pintu mengalihkan perhatian Diandra, irama jantungnya langsung terpacu saat mengira kalau itu berasal dari suaminya.
"Teh, ini Yaya."
Diandra langsung menghembuskan napasnya saat terdengar suara Yaya dari balik pintu.
"Masuk, Ya!" jawab Diandra.
Pintu pun perlahan terbuka, menampilkan sosok Yaya, dengan nampan di tangannya.
"Sudah waktunya makan siang, Teh," ujar Yaya, dengan senyum ramah, lalu menaruh nampan di tangannya ke atas nakas.
"Mau makan sekarang?" tanya Yaya.
Diandra melihat sekilas menu makanan di atas nakas. Ada cream sup dan roti tawar gandum sebagai pelengkap.
"Tadi, Pak Gio mengirimkan ini, katanya harus dimakan sama, Teh Dian," ujar Yaya, menjelaskan.
"Memang dia ke mana?" tanya Diandra, masih dengan pandangan mengarah pada makanan yang disajikan oleh Yaya.
"Tadi, Pak Gio bilang kalau dia ada urusan sebentar," jawab Yaya.
Diandra mengangguk lemah. "Tinggalin aja makanannya di sana, nanti kalau aku mau, pasti aku makan."
Yaya menatap Diandra ragu, dia takut tuan rumahnya itu tidak memakan makanan yang sudah dia bawa.
"Nanti pasti aku makan kok," ujar Diandra lagi, berusaha meyakinkan Yaya.
"Tapi, ini susah waktunya, Teteh, minum obat–"
"Iya, aku tau. Nanti pasti aku minum, lebih baik sekarang kamu ke luar aja." Diandra langsung memotong perkataan Yaya.
__ADS_1
Yaya yang hendak berbicara langsung menutup kembali mulutnya, dan memilih mengangguk pasrah.
"Ya sudah, kalau begitu aku ke luar dulu ya, Teh. Jika, Teteh, butuh sesuatu panggil aku aja, aku ada di luar," pamit Yaya.
"Kamu pulang juga gak apa-apa, Ya. Aku udah mendingan kok," ujar Diandra.
Dia merasa tidak enak pada Yaya, yang harus tertahan di rumahnya hanya karena dirinya sakit.
"Aku gak ke mana-mana kok, Teh. Lagipula, Pak Gio berpesan, kalau aku harus menemani, Teteh, sampai dia datang," jawab Yaya.
Diandra menghembuskan napasnya. " Ya sudah, terserah kamu saja."
Yaya yang mendengar perkataan lesu dari Diandra hanya tersenyum kemudian berlalu pergi dari kamar.
Yaya tahu kalau Diandra memang tidak suka merepotkan orang lain. Selama dia bekerja dengan perempuan itu, Diandra tidak pernah mau memebebaninya, dengan pekerjaan tambahan.
Bahkan mungkin hanya beberapa kali dia berkesempatan bekerja lebih seperti sekarang ini.
Diandra beranjak dari tempat tidur dia pergi ke kamar mandi, berniat untuk mencuci muka. Walau kepalanya masih sedikit pening, Diandra terus memaksakan diri.
Perempuan itu memang tidak bisa hanya berdiam diri. Akan banyak kenangan mas lalu yang berputar di ingatannya, jika dia tidak menyibukkan diri.
Diandra tidak suka, saat dirinya kembali harus mengingat masa lalu, dia selalu berusaha melupakannya, walau kenyataan di dalam hati dan pikirannya sama sekali masih tidak bisa.
Sampai di washtafel kamar mandi, Diandra langsung membasuk mukanya beberapa kali, kemudian menatap wajahnya di cermin.
Saat itu, dirinya juga mengalami demam, wajahnya bahkan terlihat lebih memprihatinkan dari sekarang. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang memperhatikannya.
Semua orang sibuk di rumah sakit, untuk merawat neneknya yang kondisinya semakin memburuk, sedangkan dirinya ditinggalkan di rumah sendirian.
Flash back.
"Uhuk, uhuk!" Diandra bangun dari tidurnya, dia melihat suasana sudah lumayan siang, rasa pening di kepala dan napas yang terasa sesak langsung terasa, begitu dirinya membuka mata.
"Kak, Dian, aku ke rumah sakit dulu ya, mai nganterin makanan untuk Bunda dan Ayah!"
Suara Ana di balik pintu membuat Diandra mengalihkan pandangannya.
"Iya," jawab Diandra dengan suara parau.
Ini adalah hari ke dua setelah kemarin pernikahannya batal. Diandra duduk menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Hembusan napas lelah pun terdengar berulang kali, saat ingatan hari kemarin kembali melintas di kepala.
Ada suara ramai di luar sana, Diandra perlahan menurunkan kakinya dari ranjang, lalu berjalan tertatih menuju jendela.
__ADS_1
Beberapa orang laki-laki terlihat sedang membongkar dekorasi, bekas pesta yang seharusnya dilakukan kemarin. Diandra hanya tersenyum miris lalu, memilih duduk di salah satu kursi di sana.
Air matanya kembali mengalir begitu saja, saat mengingat takdir yang menimpanya. Nama baiknya telah hancur, oleh seseorang yang diharapkan akan menjadi penopang kehidupannya.
Siang hari setelah memastikan tidak ada lagi orang lain di luar sana. Diandra ke luar dari kamar, dia mencari obat dan makanan.
Namun, di dapur tidak ada satupun makanan yang tersisa, hanya ada cucian piring yang menumpuk.
Sambil menahan rasa pening, Diandra akhirnya kembali ke kamar untuk mengambil baju hangat. Nekat, perempuan itu berjalan menuju sebuah warung untuk membeli obat dan makanan siap saji.
Namun, begitu dia ke luar rumah, semua tetangga seakan langsung menemukan bahan gunjingan, hingga mereka dengan terang-terangan membicarakan dirinya di depannya.
Lihat tuh, pengantin gagal nikah, kasihan banget ya.
Ngapain juga kasihan, itu kan karena dia sendiri hang gak bisa menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan.
Iya, gak nyangka banget ternyata di luar sana dia murahan. Padahal kalau di rumah kita lihat dia seperti anak baik-baik.
Makanya jangan suka tertipu dengan penampilan! Lihat kan sekarang, dia yang berpenampilan cupu dan selalu tertutup aja ternyata gak perawan.
Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan murahan seperti dia!
Iya, jangan sampe anak laki-laki kita ada yang tertarik sama dia.
Sakit? tentu, sangat menyakitkan. Apalagi Diandra tahu kalau semua yang dibicarakan mereka, adalah sebuah fitnah yang dibuat oleh mantan calon suami juga sahabatnya sendiri.
Rasanya ingin membantah dan menghentikan semua yang mereka katakan. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak memiliki bukti.
"Bu, beli obat meriang sama bubur siap saji," ujar Diandra begitu sampai di warung.
"Iya, bentar ya, Neng." Dengan wajah judes juga enggan, pemilik warung itu melayani Diandra.
"Ini, Neng!" Pemilik warung itu memberikan barang yang tadi Diandra sebutkan.
Setelah membayar, Diandra langsung meninggalkan warung dengan banyak ibu-ibu yang sedang duduk berkelompok.
Eh, kalian lihat gak, muka dia pucat? Jangan- jangan dia hamil anak haram lagi!
Wah, iya juga. Bisa gawat tuh kalau dia sampai hamil di kampung kita.
Diandra tersenyum miris dengan tetes air mata yang jatuh, seiring langkahnya yang semakin menjauh dari warung itu.
Flash back off.
.........................
__ADS_1
Terkadang kita terlalu mudah mempercayai apa yang kita lihat dan langsung merasa berhak mengadilinya, tanpa mau mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.
Padahal tuhan sudah memberikan mereka akal, agar bisa berpikir dulu sebelum berucap.