Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 106


__ADS_3

Demi tuhan Abbey sudah sekian lama menunggu didepan ruang UGD. Rasanya ia ingin sekali mendobrak pintu ruang UGD dan masuk kedalamnya, mereka benar - benar sangat lama sekali sudah Berjam - jam ia menunggu.


Sedangkan mama Ratna sedari tadi yang hanya duduk disamping putrinya berusaha menenangkan nya, "kamu tenanglah nak, kita berdoa saja agar gibran baik - baik saja didalam.." Ucap mama Ratna sembari mengecupi rambut putri berkali - kali dan mengelus nya dengan lembut.


Hanya mama Ratna dengan tuan Zafano tetap berdiri dengan gelisah tak henti menangis dan mondar - mandir.


Sampai pada akhirnya pintu dari ruang UGD itu terbuka dengan cepat tuan Zafano berlari kecil ke arahnya.


"Bagaimana dengan keadaan putra saya dok? dia baik saja kan dok? cepat katakan dok" Ucap tuan Zafano.


Tatapan dokter yang menangani nya tampak begitu pedih.


...•••••••••••...


Abbey kembali kerumah kediaman ayahnya sendiri. Abbey sampai belum berani menginjakkan kakinya di kediaman Zafano. Abbey kembali ke kamarnya sejenak, ia menyelimuti tubuhnya. hatinya begitu sakit mendengar dikatakan oleh dokter berusan.


"*Dia perlu dioperasi,"


"Jika tidak ia tidak bisa di selamatkan*,"


"Dioperasi?"


"Pasti itu sangat sakit, ah ya aku lupa dia tidak akan tahu..." Gumamnya.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu kamarnya, ia semakin meringkuk didalam selimut nya sampai ia tidak berani memperlihatkan nya bahwa dirinya sedang menangis.


"Mama masuk ya,"

__ADS_1


Mama duduk disisi ranjang, melihat sang putri nya itu yang menyelimuti seluruh tubuhnya sampai tak terlihat.


btw, ada teman - teman Abbey juga datang berkunjung, mereka kini berada tepat dikamarnya.


"Nak ayo bangun, ada yang datang tuh mencari kamu... masa kamu bakalan begini terus."


Abbey diam - diam menghapus air matanya dan membuka selimut nya tetapi ia berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"mama tinggal yah, kalian ajak Abbey mengobrol sebentar yah.." Ucap mama Ratna keluar dari kamar.


"Iya Tante..."


Setelah kepergian mama Ratna dari pintu kamar, mereka duduk didekat Abbey berada.


"Abbey kamu nangis?" Ucap Indri.


"Ya, jelas orang nangis. masih nanya lagi" Omel Alya.


"Aku tahu itu, tapi.. hiksss. aku takut kehilangan gibran.." Ucap Abbey Masih menangis dengan keras.


"Usttt.. kamu ngak boleh bicara kayak gitu. Gibran akan baik saja, jika kamu tidak menangis dia akan baik - baik saja..." Ucap citra.


"Betul tuh..." Sambung Alya.


Abbey terpaksa memaksakan dirinya untuk tersenyum. sampai akhirnya ia menggangguk kecil.


"Kenapa setiap kali aku sedang sedih, kalian selalu datang membuat aku kembali tersenyum.." Ucap Abbey Dengan raut wajah kembali mulai sedih.


Alya, Indri, citra saling menatap antara satu sama lain lalu tersenyum.

__ADS_1


"Kita itu sahabat selalu ada setiap kali diantara kita terpuruk..." Ucap Alya.


"Hm.. betul juga. tapi btw makasih sudah ada buat aku selama ini." Ucapnya ingin memeluk ketiga sahabatnya.


"Ohhhh tutu, sini peyuk..." Ucap Indri.


*Rumah sakit.


"Hmmm... dengan tuan Zafano?" tanya pak dokter yang kemarin menangani gibran.


"Ya, dok dengan saya sendiri."


"Boleh kita berbicara sebentar diruangan saya. ada yang ingin saya bicarakan."


"Oh boleh dok."


"Kalau begitu silahkan ikut saya..."


Setelah melewati lorong - lorong yang gelap dan sunyi itu menuju ke ruangan pak dokter tunjukkan. Kini sudah berada di dalam.






__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️


__ADS_2