
Dikediaman tuan Zafano...
Pukul 12.00 malam...
Semua orang disana sudah pada tidur tidak ada siapa - siapa hanya satpam yang berjaga - jaga diluar gerbang. Mobil yang dinaiki Gibran telah sampai Abe membuka pintu nya dan membantingnya dengan keras ia berlari masuk kedalam, Abe begitu sangat kesal dengan kejadian tadi.
Gibran yang mengejar nya terus saja memanggil nya, "Abe! Abe!! tunggu sebentar!!" panggil gibran.
Tetapi Abe tidak menggubris panggilan dari gibran, ia tetap saja naik keatas menuju kamar nya. Ia membanting pintu kamarnya dengan keras dan gibran mengikuti nya dari belakang.
Abe menangis diranjang dan menutupi wajahnya dengan selimut.
"Abe, maafkan aku tadi itu cuma salah paham" ucap gibran.
"jangan ganggu aku, aku mau tidur!" teriak Abe dengan jutek.
Gibran duduk di samping Abe, ia menarik selimut Abe "Abe biar aku jelaskan ya? maafkan aku," ucap gibran.
"ngak perlu dijelaskan semuanya sudah jelas, aku mau tidur!" ucap Abe dengan kesal dengan tidur meringkuk membelakangi gibran.
gibran menghela nafasnya, "baiklah terserah kamu mau memaafkan ku," ucap gibran pergi
Gibran berlalu pergi menuju ke kamar mandi mungkin satu hari ini ia diamkan dulu Abe sampai benar - benar mau memaafkan nya.
__ADS_1
dreet dreet suara ponsel milik gibran berbunyi dan segera gibran mengangkat nya.
"halo, Amira" jawab gibran.
"gib, kamu kemana aja sih?" ucap Amira khawatir.
"aku- aku sudah pulang, tadi aku dihubungi sama papa disuruh pulang" jawabnya dengan gugup.
"padahal aku kangen banget sama kamu" ucap nya dengan cemberut.
"maaf ya, lain kali aku ajak kamu makan - makan diluar" ucap gibran.
"beneran? ya, udah deh" ucapnya dengan mengembangkan senyumannya.
Dalam beberapa menit gibran keluar dari kamar mandi ia melihat Abe sudah tertidur pulas dengan tubuh masih meringkuk. Gibran duduk disebelah Abe berada yang membelakanginya. Gibran mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Abe tapi ia mengurungkan niatnya.
Keesokan harinya, Abe dan gibran menuju kesekolah mereka menaiki satu mobil. Mereka tidak berbicara sepatah katapun ataupun memandang.
saat mereka sampai di sekolah Abe keluar dari dalam mobil dan gibran masih berada didalam mobil. Saat itu tiba - tiba saja kepala Abe begitu pusing membuatnya ingin pinsan tetapi ia tahan.
Semua orang disana menyapa Abe dengan begitu ramah, "hai, Abe" sapa salah satu murid.
Abe hanya pura - pura tersenyum didepan mereka, sebenarnya ia begitu tidak bisa menahan rasa sakit kepalanya. Entah ada apa yang terjadi kepada nya?
__ADS_1
Abe menuju ke kamar mandi tanpa berlama - lama, ia langsung saja tiba - tiba ingin muntah. Segera ia memuntahkan semua nya didalam wastafel, orang - orang yang ada didalam terkejut ia segera membantunya.
"kamu tidak apa - apa?" tanya seorang murid wanita yang berambut panjang lurus.
"ini pakaikan dia minyak kayu putih," temannya itu memberikan nya minyak kayu putih.
Ia mengoleskan nya pada tengkuk belakang Abe dan memijat nya.
"lebih baik kamu saya antar ke UKS ya, wajah mu begitu pucat" ucapnya memandang wajah Abe yang terlihat begitu pucat.
"ngak usah, mungkin saya sedang masuk angin..." ucap Abe berlalu pergi keluar dari dalam toilet.
Ketiga teman Abe datang mendekati nya dan Ia duduk disampingnya.
"Abe," sapa Alya.
Alya melihat wajah Abe tidak seperti biasanya sangat pucat, ia mengarahkan telapak tangan nya ke kening Abe.
Tubuh Abe begitu panas, "Abe kamu sakit?" tanya Alya begitu khawatir nya dia.
"tidak, aku cuma masuk angin" ucap Abe dengan lemas.
"tidak Abe, wajah mu begitu sangat pucat" ucap Alya.
__ADS_1
"lebih baik kita bawa dia ke UKS saja," ucap Indri dan mereka segera membantu Indri untuk membawa Abe ke UKS.
Jangan lupa like setelah membaca 🙏😘