
"Hallo?" setelah menunggu lama Abbey mendengar suara seseorang dari balik ponsel.
"Clar," Sapa Abbey .
"Bagaimana Abbey kau sudah berada di Indonesia?" Ucap Clarissa dari seberang ponsel.
"iya," Jawab Abbey dengan lemah.
"Abbey kau sakit?" Clarissa melontarkan pertanyaan itu membuat Abbey gugup.
"ti...dak. ak...u cuma pusing saja akibat naik pesawat kemarin, kamu tahu kan aku ngak bisa naik pesawat." Ucap abbey berbohong dengan terbata - bata.
"Oh ya tunggu sebentar." Clarissa menjauhkan ponselnya dari tangan nya ia membisikkan sesuatu kepada gibey dan diakhiri dengan anggukan.
Gibey yang tidak mendapatkan suara Clarissa lagi hanya mengerutkan keningnya.
" Clar..?" panggil Abbey.
belum mendapatkan jawaban.
"Clar kamu mendengar ku kan...?" Abbey semakin panik.
"iya ini aku. maaf aku tinggal sebentar." Jawab nya dan itu membuat Abbey merasa lega.
"Mom," sahut dari seberang ponsel. Ia begitu sangat ceria memanggil momnya dari balik ponsel.
__ADS_1
"Gibey! kamu ada disitu sayang." Abbey begitu senang mendengar suara putranya tetapi membuatnya lebih senang lagi bocah itu tidak memanggil nya dengan Isakan tangisan.
Berarti Clarissa sudah berhasil membujuknya pikirnya.
"Iya mom. gibey kangen sama mom, kata Tante Isa mom pelgi kelja." gibey mengekspresikan wajah sedihnya tetapi masih terlihat sangat imut. Andai saja sang momy ada disana pasti dia akan menciumi wajah nya tidak henti - hentinya Karena saking imutnya.
"maafkan mom ya sayang. mom belum bisa pulang tapi nanti kalau mom sudah selesai kerja, mom akan belikan gibey makanan yang enak dan mainan juga." Ucap abbey.
"Oke mom. ibey akan nunggu momy pulang." Ucap gibey penuh semangat.
Sedangkan disisi lain.
Gibran baru sampai diapartemen nya, ia melihat pengawalnya tertidur dilantai dengan punggung nya bersender di tembok dan kaki diterlentangkan.
Gibran melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. "Ckckck." Gibran berdecak.
"eh tuan sudah datang. maaf tuan saya ketiduran." Ucap pengawal itu bangun dari lantai dengan gelagapan.
"Apa perempuan didalam tidak keluar?" tanya gibran menaik turunkan kedua alisnya menunggu jawaban dari pengawalnya.
"ti...dak tuan. nona didalam sedari tadi."
"Baiklah kalau begitu ini bayaranmu." Mengambil beberapa uang di dalam dompet nya. "dan kau boleh pulang dan kembali besok lagi."
"Terima kasih tuan, iya saya akan datang besok." Ucap pengawal itu mengambil beberapa lembar uang yang disodorkan gibran kepada nya.
__ADS_1
Setelah kepergian gibran dari sana dan masuk kedalam mencari keberadaan Abbey. Kini pengawal itu juga pergi dari apartemen itu.
"Dimana Abbey kok sepi..?" Gibran melangkahkan kakinya menuju ke kamar nya. Tetapi disaat ia membuka pintu kamar tidak ada Abbey disana dan tatapan nya kini mengarah ke balkon kamar nya yang ditutupi oleh tirai.
"ternyata dia ada disana," Gibran tersenyum ingin melangkahkan kakinya mendekati Abbey.
"I Miss sayang." Tutup Abbey. Mereka kini saling mengakhiri percakapan diponsel nya bersama putranya.
Sedangkan gibran yang mendengar kata 'Sayang' menghentikan langkahnya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Abbey berbicara dengan siapa? kata sayang..? Jangan - jangan itu kekasih barunya..? atau suaminya?" Darah gibran kini hampir mendidih. Ia keluar dari kamar nya dan mengurungkan niatnya untuk mendekati Abbey dan pergi menuju keruang kerjanya.
Ia menelpon seseorang.
"Hallo tuan." Panggil seseorang dari balik ponsel nya.
"Apakah kau bisa cari identitas perempuan bernama nona abbey Elizabeth Taylor secepatnya." Titah gibran dengan penuh penekanan.
"Tapi tuan---"
"tidak ada tapi - tapian mau saya pecat? sudahlah cepat kau cari tahu jika sampai tidak saya akan beneran memecatmu." ancam gibran dengan suara dinginnya.
"Ba..ik tuan." Ucap nya terpaksa.
gibran pun mengakhiri percakapan nya bersama sekretaris pribadinya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️