
Setelah selesai darah gibran diambil oleh dokter yang menangani gibey untuk mendonorkan darah nya pada gibey.
"Sudah tuan, anda boleh keluar sekarang..." Ucap pak dokter.
"Pak boleh sebelum saya keluar, menemui pasien..." Ucap gibran bangun dari brankar itu.
"Silahkan boleh, tapi hanya sebentar jangan lama - lama karena pasien masih dalam keadaan kritis..." Ucap pak dokter.
Gibran pun dengan langkah pelan - pelan ia menuju kesebelah ruangan yang kini disana telah terbaring anak kecil masih berumur 4 tahun terbaring diatas brankar dengan bantuan oksigen melekat pada mulut dan hidung nya.
Disana hanya tinggal gibran dan gibey. Ini pertemuan pertama gibran dengan putranya, ia mendekati gibey. Jantung nya seakan berhenti berdetak, kini ia menatap putranya lekat - lekat.
"Putraku... dia putraku..." Ucapnya mata nya berkaca - kaca menahan air mata nya.
"ini Ayah sayang... ini ayah kandung mu... ayah senang bahwa tahu kamu masih hidup..." Gibran memeluk putranya itu dengan menangis disana.
Tiba - tiba detak jantung pada gibey semakin melemah dan suara monitor itu berbunyi. Dokter dan gibran semakin panik.
"Dokter cepat lakukan sesuatu!" seru gibran.
"tuan keluar terlebih dahulu... saya akan mengatasi nya.. sus tolong bantu saya."
__ADS_1
"Baik dok..."
"Tolong selamatkan anak saya dok, sus...!" teriak gibran yang begitu ia dibawa keluar oleh suster lainnya agar tidak menganggu konsentrasi dokter yang sedang menangani gibey.
Sementara Abbey diluar ia begitu terkejut menatap suaminya itu menangis dan ia menghampiri nya.
"Ada apa?" tanya Abbey.
"Apa yang terjadi?" tanya Abbey ia begitu sangat panik.
"Apa yang terjadi dengan gibey?" Tanya Clarissa juga.
"Ak..u tidak tahu... tiba - tiba saja detak jantung nya semakin melemah dan suara monitor itu-----" gibran menutup kedua telinganya, ia tidak bisa melanjutkan kata - katanya.
"Aku harus masuk,"
"Abbey kamu mau kemana jangan masuk kedalam..." Seru Clarissa menahan bahu perempuan itu.
"Ngak, aku mau menemui putraku... dia sedang membutuhkan ku... aku tidak mau kehilangan nya! aku tidak mau!" seru Abbey ia tetap memaksa ingin kedalam.
"tidak Abbey aku mohon biarkan dokter menangani nya. kumohon Abbey, gibey tidak akan kenapa - kenapa... percayalah." Clarissa memeluk temannya itu, memberikannya ketenangan.
__ADS_1
"Ak..u ngak mau kehilangan nya Clarissa... aku ngak mau kehilangan nya... tuhan kenapa engkau beginikan putraku, jangan ambil dia dari ku..." ucap Abbey sesegukan didalam pelukan Clarissa.
Beberapa jam kemudian...
Akhirnya detak jantung gibey telah kembali normal dan kini dokter dan suster yang menanganinya menghembuskan nafas lega. Karena tadi, mereka begitu frustasi merasa gibey tidak terselamatkan lagi. Sehingga kini mereka bisa melakukan pendonoran darah.
Setelah nya.
Dokter pun keluar dari ruangan UGD dan ia menghampiri keluarga dari anak kecil yang ia tangani itu.
"Bagaimana dok?" tanya gibran yang kini bangun dari duduknya sementara Abbey masih berada dipelukan Clarissa ia tidak mampu untuk berbicara sepatah kata pun.
"Keluarga tenang saja... dia sekarang telah membaik dan pendonoran darah telah selesai sekarang pasien tidak di pindahkan keruang ICU." Ucap dokter.
"Ah, syukurlah..." Ucap gibran ia begitu lega bahwa putranya baik - baik saja.
Clarissa pun ikut tersenyum lega. "Abbey itu kamu dengar gibey terselamatkan... apa aku bilang dia pasti selamat..." Ucap Clarissa.
"Aku ingin bertemu dengan putraku..."
"Iya, kalian semua boleh bertemu dengannya.. tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang ICU. Jika kalau begitu saya permisi." Ucap pak dokter berlalu pergi.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️