Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 21


__ADS_3

Seperti hari - hari biasanya gibran menyendiri di atap sekolah, meruntuki kesedihan nya kesetiap harinya disana. Karena baginya diatap sekolah itu paling aman, tidak ada siapapun yang akan mengganggunya selain Ryan.


"gib, Lo sebenarnya terpaksa menikah dengan Abe kan?" tanya Ryan.


"untuk apa Lo menanyakan pertanyaan yang ngak penting ke gue," jawab gibran kesal dengan pertanyaan Ryan.


"karena gue itu peduli dengan Abe, seharusnya kalau Lo sudah memiliki kekasih sebelum nikah jelaskan baik - baik dulu ke orang tua Lo, bukan mengambil keputusan secara tiba - tiba... yang membuat orang lain hancur karena Lo" jelas ryan.


"sejak kapan Lo ngurusin masalah keluarga gue? lebih baik Lo urusin diri Lo sendiri, mengerti!" ucap gibran kesal.


"sudahlah, gue ngak mau berdebat lagi dengan Lo... percuma" ucap Ryan berlalu pergi meninggalkan gibran sendirian di atas atap sekolah.


Malam harinya, dikediaman tuan Bima Satria putra.



"halo, varrel ini ayah..." ucap tuan Bima dari balik ponsel.


"eh, ayah ada apa? kok tumben ada kabarnya nih, biasanya ngak pernah nelpon sama sekali semenjak ayah hidup sederhana?" ucap varrel datar.


"maafkan ayah nak, ayah ngak pernah telpon kamu selama ini... apa lagi menanyakan kabar kamu," ucap tuan Bima.


"ayah ngak usah meminta maaf sama varrel, lagi pula varrel bukan anak ayah lagi..." ucap varrel.


"nak, dengerin ayah dulu" ucap tuan Bima.


"ngak perlu lagi yah, jelaskan segala? ayah juga ngak pernah tuh memberikan varrel ketemu sama adek perempuan varrel" ucap varrel langsung mematikan ponsel nya.


"halo? halo varrel!" panggil tuan bima.


"bagaimana?" tanya mama ratna.


"varrel marah sama ayah," ucap tuan bima prustasi, ia begitu menyesali perbuatan nya.


mama Ratna mengusap - usap punggung suaminya, "kita harus bersabar saja dulu, lebih baik kita tidur saja ini sudah malam besok kita bicarakan lagi" ucap mama Ratna.


"oh ya, Momo sudah tidur?" tanya tuan bima.


"dia sudah tertidur dari tadi sore," ucap mama Ratna.

__ADS_1


"oh, syukurlah"


Abe memilih tidur diruang tamu dari pada di kamar, ia tidak ingin dulu bertemu dengan gibran.


nenek Ayse yang baru muncul menghampirinya, ia mendekati Abe dan duduk disamping nya.


"Abe," panggil nenek Ayse.


abe yang mendengar suara neneknya memanggil nya ia langsung bangun dari tidur nya.


"eh, nenek" ucap Abe.


"kenapa nenek belum tidur?" tanya Abe.


"nenek ngak bisa tidur, ngak tahu nih kenapa?" ucap nenek Ayse.


"kalau kamu ngapain sampai tengah malam begini disini? bukannya ini waktu orang tidur?" tanya nenek ayse balik.


"oh, itu sebenarnya tadi itu Abe lagi nonton tv jadi ketiduran disini deh..." ucap Abe berbohong.


nenek Ayse melihat raut wajah Abe begitu sedih, "seperti nya kamu ada masalah? apa kamu bertengkar sama gibran?" tanya nenek ayse.


"baiklah kalau kamu tidak ingin cerita, lebih baik kamu masuk aja kekamar... pasti gibran sudah lelah menunggu dikamar" ucap nenek ayse.


abe hanya menganggukkan kepalanya, "ya udah kalau gitu Abe keatas dulu... selamat malam nek" ucap Abe.


"malam,"


Abe begitu ragu untuk masuk kedalam kamar, ia takut akan berhadapan dengan gibran. sementara gibran tidak bisa tidur dikamarnya ia masih saja mengingat perkataan ryan barusan membuat nya benar - benar malu dan tidak enak hati dengan abe. saat gibran mendengar suara pintu terbuka ia begitu uring-uringan.


"waduh bagaimana nih? Abe masuk lagi? " ucapnya membolak - balikan tubuhnya.


matanya tertuju kepada kamar mandi, ia langsung saja berlari kekamar mandi dan menguncinya.


saat Abe masuk kedalam kamar ia tidak melihat keberadaan gibran begitu lega, ia langsung mendudukkan tubuhnya di ranjang tempat tidur.


Gibran mengintip - intip keberadaan Abe dari balik pintu. Ia mengatur nafasnya sebentar dan memberanikan dirinya untuk mendekati Abe dan berbicara baik - baik dengan nya.


"Abe," panggil gibran dengan menarik lengannya.

__ADS_1


"maafkan aku, itu cuma salah paham kok.." ucap gibran lalu memeluknya.


Ia begitu merasa bersalah dengan semua ini, Abe masih saja terdiam dan mendorong tubuh gibran dari pelukan nya.


"Abe, kamu marah sama aku... maafkan aku, plissss" ucapnya dengan mengeluarkan wajah imutnya.


Abe yang memandangnya sebentar ingin tertawa dengan wajah gibran yang menggemaskan itu tetapi ia tetap pendam. Ia tidak ingin dianggap gadis yang mudah terbujuk oleh rayuan seorang gibran.


"Abe, kenapa sih kamu ngak mau maafin aku..." ucap gibran dengan memoyongkan bibirnya.


Abe memutar bola matanya malas, "sungguh ni orang bisa aja dia ngerayu aku pakai wajah imutnya segala padahal sifatnya itu benar - benar ngeselin, dingin" gumam Abe.


Abe masih saja terdiam, "mendingan aku diamin. aja dia semalam ini biar dia kapok," batin Abe.


Gibran yang dicuekin dengan Abe begitu membuat nya kesal, ia mengatur nafasnya sebenarnya ia sedari tadi sudah tidak bisa menahan nafasnya entah kenapa selama satu hari ini ia saat dekat dengan Abe jantungnya selalu berdetak kencang terus kayak orang habis lari maraton.


Gibran tidak mendapatkan Jawaban Abe semakin kesal dibuatnya.


"Abe," panggil gibran lagi.


tetap saja Abe masih terdiam tanpa menjawab sepatah katapun, "baiklah kalau kamu ngak mau memaafkan ku," ucapnya membalikkan badannya tetapi ia kembali terhenti dan menarik lengan abe dan memojokkan nya ke dinding tembok tanpa memberikan nya celah untuk kabur dan menatap nya sangat begitu dekat.


Abe yang melihat kelakuan gibran membulatkan matanya, "apa yang akan kamu lakukan gibran?" tanya Abe dengan takut.


"kalau kamu ngak mau memaafkan ku, aku- aku" ucap gibran terbata- bata.


cuppp


langsung saja gibran mencium bibir Abe yang mungil itu dengan lembut. Abe yang dicium dirinya tidak bisa bergerak dan ia benar - benar kaget dengan perlakuan gibran. Memang pertamanya ia membulatkan matanya karena kaget tiba - tiba saja gibran mencium nya dan ia benar-benar menikmati sensasi ciuman gibran. Ini adalah ciuman pertama nya.






__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️


__ADS_2