
Clarissa berusaha menenangkan gibey yang menangis sedari tadi. Sehingga ia tertidur dipelukan Clarissa dan Clarissa yang tadinya keluar dari restoran untuk menenangkan bocah itu segera masuk.
"Dia sudah tertidur?" tanya Ryan.
"Hmmm..." Clarissa menganggukkan kepalanya. "Amira seperti nya kami harus segera pulang, takut nya nanti gibey akan menangis lagi." ucap Clarissa dan diberikan anggukan kepala oleh Amira.
"Ayo kak," Ucap Clarissa, akhirnya mereka pun pergi dari sana hanya tinggal Amira sendirian Disana.
"Huh, (Menghela nafas) sendiri lagi, memang sudah nasib" Amira menyeruput teh hangat yang ia pesan hampir telah mendingin.
Tiba - tiba.
"Hay cantik," Sapa seseorang itu. Ia duduk di kursi ditempati Amira saling berhadapan.
Amira begitu kaget mendapati pria yang ia temui beberapa hari itu. "kau lagi!" Seru Amira.
"Aku boleh kenalan ngak?" tanya Luffy dengan menaik turunkan alisnya menggoda nya.
"Ngak boleh," Ketus Amira ia mengambil tas selempang nya dan beranjak berdiri dari tempat duduknya meninggalkan restoran itu.
"Hey kamu mau kemana aku belum kenalan sama kamu!" teriaknya, Luffy berusaha mengejar Amira.
"Hey jangan pergi dulu." Luffy menahan lengan Amira.
__ADS_1
"Ihhhh jangan sentuh - sentuh ataupun ikutin aku lagi, mau aku teriakin kamu maling hah," seru Amira.
Ia pun melepaskan lengan Amira agak menjauh dari nya. "Tapi aku ingin kenalan sama kamu."
"Huh (menghela nafas) baiklah, namaku panggil saja amira... ya udah biarin aku pergi," ketus Amira ia membuka kedua sandalnya siap - siap berlari agar tidak dikejar oleh pria yang ia anggap gila itu.
"Amira..?" Luffy sedikit tersenyum.
"Heyyyy tunggu!" teriak nya ia mendapati Amira telah pergi dengan tergesa - gesa.
"Ia sangat menarik, aku harus memperjuangkan nya." Luffy tersenyum smirk menatap kepergian Amira yang kini telah menaiki taksi diseberang jalan. Ia tidak naik mobilnya karena, mobilnya sedang rusak berada di bengkel.
••
"Eh bibi?"
"Nona sudah pulang." ucap bibi.
"Iya bi, kalau begitu aku ke kamar dulu."
"Iya non." Jawab bibi ia menuju ke dapur.
Abbey pun masuk kedalam kamar nya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang tempat tidur menatap kearah langit - langit kamar nya.
__ADS_1
"Huh(Menghela nafas) semoga aja Clarissa bisa menenangkan gibey." Ucap Abbey.
tiba - tiba
Pintu kamar nya berbunyi seseorang membuka nya.
Ceklek.
Abbey pun mengubah posisi nya menjadi duduk, ia begitu kaget mendapati Gibran berdiri disana. Wajah nya terlihat begitu sayu, dan Abbey mendekati pria itu.
"Kamu sakit?" tanyanya punggung tangannya menyentuh kening gibran.
Wajah dan telinga nya hampir memerah tetapi tidak panas. Abbey mengerutkan keningnya binggung ada apa dengan gibran.
"Ohhh jangan.. jangan..." Abbey mengerti sekarang. Ia pernah mengalami ini beberapa bulan yang lalu saat kejadian di Inggris saat itu.
Gibran menarik kedua lengan Abbey, ia menatap wanita nya itu dengan seksama meski sedikit kesadaran nya pulih.
"Abbey tolong aku." Ucapnya dengan lemah. Gibran menenggelamkan wajahnya diceruk leher Abbey dan hembusan nafas nya terasa begitu terdengar. Itu semua membuat Abbey yang merasakan nya, bulu kuduknya berdiri. Ia begitu sangat sensitif jika tubuhnya disentuh.
"Gib.. Gibran lepaskan dulu." Ia mendorong tubuh lelaki itu tetapi tenaga gibran lebih kuat ketimbang dirinya.
"engak mau, tolong aku kumohon.." Ucap gibran dengan nafas nya semakin memburu menahan rasa gejolak pada tubuh nya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️