
Mereka kini duduk disebuah bangku taman dengan gibey berada dipangkuan gibran. Ia menatap kearah perempuan itu dengan tatapan tidak suka.
"Ekhem.." Vita mencoba menghilangkan rasa canggung. Dia a tidak tahu harus memulai pembicaraan nya dari mana.
"Ehm,, maaf soal kemarin?" Ucap Vita basa basi.
"Soal kemarin apa?" tanya gibran binggung ia tidak tahu arah pembicaraan Vita sekretaris nya itu termasuk mantan patner ranjang nya yang selalu menemaninya disaat kala kehilangan sosok Abbey.
"Soal aku ngak tahu kalau kamu sudah menikah,, gara - gara aku kamu jadi suami yang ngak baik untuk istri mu..." Ucap Vita.
"Oh soal itu,, ngak usah dipikirkan aku sudah melupakan nya anggap saja kita tidak pernah melakukan nya. kau tidak usah merasa bersalah..." Ucap gibran.
"Aku juga kesini mau meminta resign dari kantor... aku mau kerja keluar negri, papa nyuruh aku pulang ke negara ku." Ucap Vita.
"Kalau itu memang keputusan mu,, aku bisa apa.." Jawab gibran.
Beberapa hari ini setelah pulang dari barr dengan keadaan mabuk, Vita selalu mengurung dirinya dirumah, ia begitu sedih saat tahu gibran telah memiliki istri. Sebetulnya ia ingin sekali melakukan hal gila membuat gibran menjadi milik nya. Tetapi dalam pikiran nya terbayang kata - kata lelaki yang selalu menghantuinya.
__ADS_1
"Jangan menjadi orang jahat, itu tidak baik. apa lagi jika kita mencintai seseorang jika ia memiliki seseorang dihatinya ikhlaskan kepergian nya itu lebih baik. jangan jadi orang yang egois."
Hanya itu bayang - bayang yang ada dipikiran nya, itu sebab nya Vita memulai berusaha menghilaskan gibran entah kenapa ia mau menuruti kata - kata pria itu. Sehingga ia memutuskan akan kembali ke negara nya Jerman.
••
3 bulan kedepan.
Perut Abbey mulai semakin membuncit karena ada dua buah hati disana, tidak seperti biasanya Abbey yang terlihat dari raut wajah nya begitu bahagia.
Wajah nya yang sekarang terlihat begitu pucat, dan gibran selama 1 bulan ini ada pekerjaan diluar kota membuat nya harus meninggalkan istri nya dan menghubungi nya lewat video call saja mengetahui tentang keadaan nya dan baby twins.
Ponsel itu bergetar dan Abbey segera mengangkat ia tahu itu siapa.
Disana mereka melakukan video call, Abbey mengarahkan ponselnya agar terlihat pada wajah nya.
"Ada apa gib?" tanya abbey dengan lesu.
__ADS_1
"Abbey kamu sakit? wajah mu begitu sangat pucat? atau aku pulang saja." pertanyaan itu terlontar dari bibir gibran melihat wajah Abbey terlihat semakin pucat.
"tidak aku baik - baik saja. itu mungkin karena efek kameranya saja." Abbey memaksakan untuk tersenyum.
"Apa bisa begitu.." Gibran menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, tetapi ia tidak pusingkan.
"Bagaimana dengan baby twins, mereka baik - baik saja kan? kamu makan yang banyak kan? kamu rutin minum susu ibu hamil yang ku belikan kan? atau mau apa biar aku order kan?" pertanyaan yang banyak terlontar dari balik ponsel membuat Abbey kewalahan dengan sikap suaminya itu.
"Sudah - sudah gib, aku masih kenyang. aku rutin makan ataupun minum susu mama merawat nya dengan baik. Clarissa juga sering kesini, setiap Minggu ia menemaniku periksa baby twins." Ucap Abbey.
"Oh syukurlah kalau begitu."
"Maaf aku tidak bisa menemanimu,, ada banyak pekerjaan disini."
"tidak apa - apa."
"Kalau begitu aku tutup telpon nya ada pekerjaan yang lainnya aku harus selesaikan jaga kesehatan,, i love you."
__ADS_1
"I love Yo too."
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️