
Abbey sibuk menyapu halaman di depan halaman rumahnya dan menyanyi dengan suara cempreng nya. Seorang pemuda tiba - tiba berdiri di hadapan nya dengan secepat mungkin Abbey langsung membelakangi nya.
"aduh Abbey apa - apaan yang aku lakukan sih? bodoh banget! ditaruh dimana muka aku sekarang?!" batinnya sembari menepuk - nepuk jidatnya berkali - kali.
Tanpa disadari Abbey membalikkan badannya kembali mengahadap seorang itu. Disana gibran berada tepat dihadapan nya, wajah nya begitu datar.
"ngapain kamu disini?" tanya abbey penasaran dengan mengerutkan keningnya.
"lah, gue yang seharusnya nanya sama Lo... ngapain Lo ada disini?" tanya nya balik dengan tampang begitu kesal.
"terserah aku lah, mau ngapain ini kan rumah aku..." jawab Abbey berlalu meninggalkan gibran sendirian Disana.
"oh," membulatkan bibirnya, berlalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Abbey kembali berbalik lagi dan kesal dengan sikap Gibran yang tiba - tiba datang.
"dasar cowok ngeselin tampang nya aja yang berlagak sok ramah, baik padahal dirinya aja belum tahu gimana sifat aslinya" kesal Abbey dengan melemparkan batu kerikil itu tepat mengarah kepada Gibran membuat kepalanya kena dengan batu kerikil itu.
Gibran membalikkan badannya, ia begitu sangat marah kepadanya " eh, mbak - mbak tukang ngomel... nanti kalau bocor kepala gue gimana? Lo mau tanggung jawab" protes Gibran menahan emosi nya.
Abbey hanya terdiam tanpa berkata apa-apa dan Gibran pergi berlalu menaiki motor besar miliknya.
Gibran telah pergi dengan cepat, Abbey menginjak - injak sapu lidi yang ia pakai untuk menyapu halaman tadi meluapkan kemarahannya terhadap Gibran. Ia benar - benar sangat membenci Gibran.
"dasar laki - laki sombong,"
__ADS_1
Dari kejauhan mobil mewah didalam seseorang melihat kelakuan mereka barusan membuat nya tertawa dengan tingkah mereka yang begitu saling musuhan.
Dikediaman keluarga Zafano
Nenek Ayse tertawa mendengarkan cerita dari pak Hamid, tahu kalau cucunya itu sudah mengenalnya.
Mama Adelia yang mendengarnya begitu khawatir, "tapi, apakah dia bisa dipercaya?" gumamnya.
tuan Zafano yang meliriknya "jangan berpikiran negatif ah, jika memang keluarga nya bukan orang baik - baik pasti aku akan melakukan sesuatu," ucap tuan Zafano, ia begitu tahu jelas apa yang dipikirkan istri nya.
Mama adelia menganggukkan kepalanya, "tetapi apakah pak Hamid bisa menjelaskan gimana latar belakang keluarga?" tanya mama Adelia.
Flashback...
abbey yang mendengar teriakan seseorang dari depan rumahnya segera berlari membantu seseorang itu.
"bapak tidak apa - apa?" tanya abbey.
"saya tidak apa - apa," jawab pak Hamid.
"kaki bapak berdarah, biar saya obati" pandangan nya tertuju kearah kaki pak Hamid.
"ya, udah kalau gitu bapak istirahat aja dulu di rumah saya..." membantu pak Hamid berjalan dan membawanya masuk kedalam.
__ADS_1
"ngak usah, nanti ngerepotin lagi" tolak pak Hamid.
"ngak apa - apa, masuk aja... kedua orang tua saya lagi keluar kota jadi saya sendirian dirumah" ucap nya.
pak Hamid tersenyum dengan kebaikan seorang Abbey Elizabeth Taylor, "kamu begitu sangat sopan dan baik, terima kasih atas kebaikan mu nak" ucapnya.
"sama - sama, bapak istirahat aja dulu di sini... saya ambilkan obat luka dulu" ucapnya dan berjalan mengambil obat luka itu dikamar nya.
pak Hamid mencegah nya, "tidak usah nanti sembuh sendiri, lagi pula ini cuma luka kecil"
"tidak pak, nanti infeksi kalau tidak diobati"
ucapnya sambil tersenyum.
"baiklah," ucapnya terpaksa.
sebenarnya pak Hamid hanya sengaja menjatuhkan dirinya dan terluka agar ia bisa masuk kedalam rumah Abbey dan mencari tahu tentang identitas keluarga nya, selain itu sebenarnya ia ingin secepatnya memberitahukan kepada kedua orang tua abbey tentang perjodohan itu.
•
•
•
•
__ADS_1
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak 🤍💜