
Lisa menundukkan kepalanya merasa bersalah, "Maaf Bu, dia yang duluan Bu..." tunjuk Lisa kearah megy.
Megy yang merasa disalahkan, "Enak aja nuduh - nuduh gue, Lo duluan yang ngajakin gue berantem!" Seru megy.
"Siapa duluan yang mulai Lo kan?!" Ucap Lisa tak mau kalah dari megy.
Bu Baiq melihat perdebatan itu kembali lagi membuat nya pusing, "stop!" lebih baik sekarang kamu Lisa jelaskan kenapa kamu bisa bertengkar dengan megy?" Jelas Bu Baiq.
"Sebenarnya – " Lisa pun menceritakan apa yang telah terjadi dari awal megy membicarakan Abbey yang tidak - tidak dibelakang nya. Ibu Baiq begitu saja membebaskan Lisa dan menghukum megy untuk membersihkan halaman depan sekolah termasuk membersihkan toilet khusus satpam penjaga sekolah didekat gerbang.
"Bagaimana?" tanya Abbey yang sedari tadi menunggu Lisa bersama Lea didepan pintu ruang BK.
"Gue sudah ceritain semuanya, Lo tenang aja gue ngak jadi dihukum.... Bu Baiq percaya kok sama gue?" jelas Lisa.
"Ah, syukurlah" abbey bernapas dengan lega. " kalau begitu... kita kekelas aja yuk..." Ajak Abbey dengan mengandeng lengan kedua temannya itu.
•••••
🌞🌞🌞
Gibran sudah berunding dengan guru kepala sekolah tetapi tidak diizinkan kemungkinan karena sebentar lagi ada ujian akhir semester. Jadi gibran memutuskan untuk pindah sekolah ke Jakarta untuk menyusul Abbey itu caranya agar ia bisa bertemu dengan Abbey dan menyembunyikan kepergiannya dari keluarga nya. Ia langsung saja menuju bandara dibandung dan menyuruh beberapa suruhan papanya secara diam - diam untuk mencari dimana Abbey bersekolah.
"Kalian cari dimana keberadaan nona Abbey Sekarang juga" Perintah gibran.
"Tapi tuan, nanti jika tuan besar tahu bagaimana?"
"Kau tidak perlu takut jika ketahuan oleh papa, asalkan kau bisa menutup mulut saja..."
"Baik tuan," Jawab salah satu pria menggunakan pakaian serba hitam dengan setelan dasi kupu-kupu termasuk kaca mata hitam itu.
"baik kalau begitu kalian laksanakan perintah saya, saya akan segera berangkat menuju Jakarta terlebih dahulu" Gibran mendahului meraka menuju Jakarta.
__ADS_1
Dikediaman tuan Zafano
"Ma, dimana gibran?" tanya tuan Zafano mencari keberadaan putranya menuju kamarnya.
Mama Adelia kebingungan melihat suaminya dan mengikuti nya dari belakang.
"Bukannya gibran kesekolah? kan ini hari Senin.." ucap mama Adelia.
"Tadi guru kepala sekolah nya menelpon papa, katanya Gibran meminta surat pindah sekolah..." Ucap tuan Zafano membuat sang mama kaget.
"Apa?! pindah?!" teriak mama Adelia.
"Lalu sekarang gibran kemana?" tanya mama Adelia merasa khawatir.
"Itu sebabnya papa nanya mama tadi?" Kepala tuan Zafano semakin pusing dibuatnya. Papa mengambil ponselnya yang terselip dikantong bajunya itu dan menelpon seseorang.
"halo, cepat kalian kumpulkan beberapa pengawal! kalian cari gibran sampai ketemu!" perintah tuan Zafano dengan tegas lalu mematikan ponselnya setelah mendengar jawaban dari pengawal setianya.
•••••••
Ponsel milik abbey berbunyi, ia berusaha mematikan nya tetapi sedari tadi ponsel itu berbunyi terus begitu saja sehingga membuat nya kesal.
Lea yang duduk disampingnya itu sedari tadi melihat kegelisahan nya segera menanyainya.
"ada apa?" bisik Lea.
Ia tak berani berbicara keras - keras karena guru sedang sibuk menjelaskan dan mereka sedang berada dikelas.
"Ini poselku bunyi terus, seperti nya ada yang menelpon"
"Angkat saja... siapa tahu itu penting"
__ADS_1
"Tapi aku takut nanti Bu Dewi akan marah..."
"Lo bilang aja ketoilet sebentar..."
Abbey berpikir mungkin ada benarnya juga mungkin ada yang penting. Ia harus segera mengangkat telpon itu.
"Baiklah kalau begitu aku keluar sebentar," Abbey berdiri dari tempat duduknya.
Ia meminta izin kepada Bu Dewi guru matematika dan tanpa menunggu pun ia diizinkan tetapi hanya sebentar.
Saat berada didalam toilet... "Hallo?"
Abbey menjawab dari balik seberang telpon.
"Ini siapa ya?"
Karena tidak ada namanya yang tertulis dikontak ponselnya itu.
"Ini gue Amira,"
Amira memulai menjawab nya.
"A...Mira? ada apa menelponku?" abbey bertanya dengan begitu gugup.
•
•
•
•
__ADS_1
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️