Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 62


__ADS_3

Setelah Mereka berada ditaman duduk dikursi melingkar itu. Abbey segera mengajukan beberapa pertanyaan terhadap ibu Merina meski sedikit ragu - ragu.


"Memangnya Tante mau berbicara apa kepadaku?" Tanya Abbey. Ia begitu penasaran dan benar - benar ingin tahu.


"Ngak ada, cuma Tante merasa binggung aja kamu ternyata sekolah Disni Tante baru tahu. Apa kamu sekolah pindahan setelah menikah dengan gibran?" Ibu Merina semenjak ia tahu bahwa gibran dan Abbey telah menikah, ia tidak tahu asal usul keluarga Abbey ataupun kekayaan kedua orang tuanya.


"Abbey sudah aslinya sekolah Disni Tante," Jawab Abbey. Ia juga begitu binggung kenapa ibu Merina menanyakan pertanyaan seperti itu.


"Memangnya dari mana kamu bisa dapat uang untuk membayar biaya sekolah setiap bulan karena Tante tahu betul ini bukan sekolah biasa." Sahut Ibu Merina.


Abbey begitu tidak suka dengan apa yang dilontarkan dengan ibu Merina seperti sedang menyidirnya.


"Ayah saya dapat dari hasil gaji pekerjaan jualan kue setiap bulan disebuah toko tempat nya ditengah kota Tante." Jelas Abbey. Karena ia tahu saat ayahnya sebelum memberitahukan bahwa kedua orang tuanya membongkar identitas aslinya, ia menjadi seorang karyawan toko penjual kue ditengah kota.


"Ayahmu bekerja ditoko kue? lalu sekarang ayah mu masih bekerja disnaa." Tanya ibu Merina.


"Sudah tidak lagi, soalnya ayah sudah bekerja disebuah perusahaan katanya sih ayah bilang dia jadi direktur di perusahaan. Kalau tidak salah namanya... Bimasakti." Ucap Abbey. Ia ingat kata ayahnya bahwa ayahnya itu adalah pemilik perusahaan Bimasakti group perusahaan terbesar dan terkaya diseluruh Indonesia dan cabang nya ada dimana - mana.


Ibu Merina begitu terkejut dengan perkataan Abbey sampai ia membulatkan matanya dengan sempurna.


"Apa?! Bimasakti group itu bukannya perusahaan yang paling terkaya itu jadi Abbey itu anak orang paling kaya melebihi kekayaan adikku." Gumam ibu Merina.

__ADS_1


"Ohhh begitu, Ya udah kalau gitu Tante harus pergi soalnya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dikantor sampai jumpa dilain waktu lagi." Ucap ibu Merina berlalu berjalan pergi.


"Ya Tante, hati - hati dijalan." Ucap Abbey dengan ramah.


*Didalam Mobil.


Ibu merina menyadarkan tubuh nya di kursi mobilnya dan bernafas dengan lega. Ia memijit kening nya itu dan kata - kata Abbey lontarkan tadi benar tergiang - giang dipikirannya.


"Aku harus melakukan sesuatu, ini peluang yang bagus untuk aku bisa mengalihkan perusahaan Zafano ke tangan Ryan. Aku bisa mengompori ayah Abbey dengan menjatuhkan nama baik Zafano."


"Meskipun dari awal memang Ryan mengalihkan perusahaan adekku tetapi perusahaan yang lainnya juga..."


"Kenapa ngak dari awal sih aku tahu ini semua."


Abbey yang masih mematung di taman itu melihat kepergian mobil ibu merina dan tanpa sadar bahwa gibran kini berada dibelakang nya.


"Abbey." Panggil gibran.


Abbey hanya terdiam tanpa menyautinya ia malah pergi meninggalkan gibran. Gibran yang merasa diacuhkan begitu kesal dan bergegas mengejarnya.


"Hai Abbey ada apa dengan mu?" Tanya gibran dengan menahan lengan Abbey.

__ADS_1


Abbey menepisnya, "Lepaskan tanganmu jangan sentuh aku!" Seru Abbey. Tanpa mereka sadari beberapa para murid - murid melihat mereka.


"Apa karena Amira?" Tanya gibran.


"Ya,"


"Oh soal tadi pagi itu kan? aku sama Amira itu hanya dua ingin mengajakku kekelas soalnya kelas kita juga sama."


"Meskipun kelasnya sama kamu itu kan harusnya tahu kita ini sudah menikah ngak seharusnya kamu dekat sama dia. Dia juga sudah janji ngak akan dekat kamu lagi.".


"Oh aku tahu kamu cemburu lihat aku sama Amira kan?" tebak gibran dengan menyenggol bahu Abbey.


"Ah, cemburu?!"





__ADS_1



Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️


__ADS_2