
"Kau lihat dulu kamar nya, baru berkomentar." Kesal gibran ia menuruni kasurnya berlalu masuk menuju kamar mandi nya.
Abbey memandang kamar itu secara detail dan ternyata benar adanya ini bukan kamar hotel nya . Selain itu, tubuh nya ia baru menyadari tidak menggunakan sehelai benang pun.
"Astaga tubuh ku!" pekik Abbey terburu buru menyelimuti tubuh nya dengan selimut.
"Apa yang terjadi?" ucap Abbey dalam hati, ia begitu ketakutan akan terjadi hal hal yang ia pikirkan itu ternyata benar adanya.
ceklek pintu itu terbuka dari kamar mandi.
"Kamu kenapa?" tanya gibran. Ia baru keluar selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit pada pinggang nya.
"ti..dak. ap..akah kamu bisa mengambilkan pa...kaian ku dibawah sana." titah Abbey dengan jari telunjuknya kearah sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Tetapi karena ia malu dengan pria dihadapannya itu, itu sebabnya ia menyuruh gibran untuk mengambilkan nya.
"Kenapa harus aku, bukan nya kamu bisa ambil sendiri." jawab gibran ia memilih mengganti pakaian nya didepan Abbey.
Abbey membulatkan matanya, " tunggu! biarkan aku masuk ke dalam kamar mandi." seru Abbey ia berlari terbirit-birit menuju kamar mandi dengan selimut nya menutupi seluruh tubuhnya.
gibran hanya tersenyum penuh kejahilan.
__ADS_1
"Astaga pakaian ku," Abbey menjitak kepala nya sendiri. "ah sial gimana sekarang? masa harus menyuruh nya."
Abbey mencoba mengintip akan keberadaan gibran dari balik pintu. "kemana dia?" tanya Abbey tidak ada siapapun disana.
Dengan menjijikkan kakinya ia keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian nya dengan langkah cepat ia kembali menuju kamar mandi.
"mau ngapain?" tiba tiba gibran menyenderkan tubuhnya didepan pintu kamar mandi dan membuat Abbey terkaget - kaget.
"loh bukannya---" Abbey begitu bingung perasaan pria itu tadinya tidak ada didalam kamar itu dan muncul dari mana dia datang pikir nya.
"bukan nya apa hmm...?" gibran mendorong tubuh Abbey menjatuhkan pada kasur yang empuk itu dan kini mereka dalam posisi Abbey dibawah sedangkan gibran diatas.
"apa yang aku lakukan ya?" tanya gibran balik. Ia menyentuh kulit wajah Abbey dengan lembut dan menyelipkan rambut Abbey yang terurai kedepan itu pada belakang telinga nya.
"Aku maunya kamu---" senyuman Gibran terukir membuat Abbey menatap kearah bibir yang begitu ia anggap sedikit tebal itu.
"aku benar merindukan mu, aku sangat senang kamu kembali lagi. bertahun - tahun aku mencari mu," lirih gibran membuat hati Abbey tiba tiba merasa teriris.
"Apa kamu merindukan ku?" tanya gibran Menatap kedua manik mata milik Abbey yang masih membeku.
__ADS_1
"lepaskan dulu aku tidak bisa bernafas jika seperti ini." ucap Abbey mendorong tubuh gibran tetapi itu percuma karena gibran tidak ingin pindah posisi, posisi itu sungguh nyaman baginya.
"Jawab dulu pertanyaan ku, baru aku akan melepaskan mu." Ucap gibran.
"aku tidak merindukan mu." jawab Abbey ia lebih memilih memalingkan wajahnya.
"Kamu bohong kepada ku."
"aku jawab jujur, aku merindukan jadi cepat lepaskan aku."
"tidak. itu buktinya kamu tidak berani menatap ku, kamu pasti merindukan ku." Jawab gibran penuh percaya diri.
"aku bilang tidak! ya tidak!" bentak Abbey ia mendorong tubuh gibran dengan kasar dan berlalu pergi kedalam kamar mandi.
"huh(menghela nafas)"
"Maaf. aku juga merindukan mu. tapi aku tidak bisa mengatakan sejujurnya." ucap Abbey dalam hati.
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️
__ADS_1