
Malam harinya Abbey dan gibran telah kembali pulang ke kediaman tuan Bima.
"Gibran kamu ikut aku masuk kedalam ya, kita jelaskan sama ayah dan mama baik - baik pasti mereka akan mengerti" Dengan abbey menarik lengan Gibran secara paksa masuk kedalam rumahnya.
"Tidak Abbey, lebih baik aku pulang ya... pasti ayah nanti marah dengan ku karena telah membawamu kabur" Tolak gibran.
Abbey yang tetap saja memaksa kini mengalah ada benarnya juga. Tetapi sudah terlambat sang ayah tuan Bima melihat kedatangan mereka dan kini berada tepat dihadapan nya dengan menyilangkan kedua tangannya diatas perut nya.
"a– ayah" Ucap gibran gugup.
"Gibran kamu masuk aja, ada yang mau ayah bicarakan dua mata sama kamu" Ucap tuan Bima dengan datar.
"Ini pasti karena aku telah membawa Abbey kabur dari rumah, matilah aku" batin gibran dengan mengatur nafasnya yang merasa ketakutan dimarahi abis - abisan.
"Ayo gibran kenapa diam saja," Ucap Abbey.
"Ah, iya..." Ucap Gibran berlalu masuk diikuti oleh Abbey dibelakang.
*Didalam ruangan tamu.
Sekarang hanya gibran dan tuan Bima, sebelumnya suara begitu hening antara menantunya dan mertuanya itu. Kini tuan Bima memulai pembicaraan nya dengan yang ringan.
__ADS_1
"Ehmm, Ada yang mau ayah tanyakan padamu?" Ucap tuan Bima.
"Me– memangnya apa yang ingin ayah tanyakan ?" tanya gibran dengan begitu gugup tanpa memandang mertuanya.
"Apakah kamu benar - benar mencintai Abbey?" Tanya tuan Bima menyelidiki.
"Ya ayah, gibran mencintai Abbey..." Jawab gibran dengan kepala masih menunduk.
"Apakah kamu mau kembali lagi bersama Abbey?" Tanya tuan Bima lagi.
"Hmmm, gibran mau yah... tapi kan ayah belum mau memaafkan gibran" Jawab gibran dengan hati - hati takutnya salah kata yang ia lontarkan kepada mertuanya yang terlihat galak itu.
Gibran yang mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya itu tidak salah, yang benar saja ia telah memaafkan gibran. Ini sebuah kegembiraan untuk hubungan rumah tangga nya.
Senyum ceria gibran begitu terukir di bibirnya, ia begitu senang dirinya seperti sedang melayang diudara.
"Maksudnya ayah memaafkan gibran begitu? Akhirnya makasih yah, makasih sudah mau memaafkan gibran... makasih banyak yah" Ucap gibran dengan memeluk mertuanya itu.
"Ya, sama - sama nak. Kalau begitu sana kamu samperin Abbey ke kamar nya pasti dia lelah menunggu mu" Ucap ayah dengan mengembangkan senyumnya itu.
Gibran hanya mengganggukan kepalanya dan pergi ke kamar Abbey. Tetapi sebelum itu ia pura - pura raut wajah begitu sedih dulu mau ngefrank dia dulu, mau lihat gimana reaksinya.
__ADS_1
"Hey Abbey.... kenapa sih dari tadi ku lihat wajah mu itu cemberut terus...?" Ucap gibran duduk disamping Abbey yang masih mematung dipinggir tepi tempat tidur nya.
"Eh gibran, kamu itu kagetin aku aja... aku cuma kepikiran kamu pasti dimarahin sama ayah abis - abisan karena telah bawa aku kabur" Tanya Abbey pada gibran.
"Ngak kok ayah ngak marahin aku kok cuma diberikan nasehat aja kok..." Ucap gibran dengan berpura - pura raut sedih.
Abbey mengerutkan dahinya melihat ekspresi dari wajah gibran, "aku tahu kok pasti kamu abis dimarahin, lihat aja dari muka mu itu" Ucap Abbey dengan memayunkan bibir nya.
"Ngak, ayah ngak marahin kok" Ucap gibran lagi dengan tertawa dalam hatinya melihat ekspresi abbey yang begitu menggemaskan disaat sedang sedih.
•
•
•
•
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak 🤍💜
__ADS_1