
"Minta maaf apa...?" Gibran Mengerutkan keningnya. Amira menutup mulutnya dengan kedua tangannya keceplosan.
"Aduh gimana nih, aku keceplosan lagi.." Gumamnya dengan wajah nya kini mulai panik.
"Maksudnya minta maaf karena... karena kesalahan aku yang dulu karena buat kamu sama Abbey rumah tangga kalian berantakan.." Ujar Amira dengan terbata - bata. Ia berbohong, ia takut jika dirinya akan mengatakan sejujurnya pasti akan membuat gibran tidak akan memaafkan nya.
"hahaha, Amira... Lo ngak usah minta maaf segala kali, gue sudah maafin Lo dari awal kok.. tenang aja," Jawab gibran dengan tertawa melihat ekspresi wajah Amira yang ketakutan.
"Ehm.. kalau gitu aku pulang dulu, mau istirahat.." pamit Amira.
"Iya gue juga mau istirahat..."
Setelah berada diluar ruangan.
"Oh syukurlah.. hampir saja keceplosan ngomong nya" Amira berbicara dengan dirinya sendiri dengan memegang dadanya yang hampir jantungan.
"Keceplosan apa?" Amira yang mendengar suara tiba - tiba membuat nya terperanjat kaget dan menatap wanita yang berada dihadapannya itu yang begitu asing baginya.
"anda siapa?" Tanya Amira dengan menunjuk telunjuk nya kearah gadis itu.
"oh ya,," gadis itu mengulum senyumnya. "kenalkan gue kakak dari gibran,, panggil aja Lea.." Ucapnya mengulurkan tangannya.
"Ooh.. hai,, a..ku Amira" Jawabnya dengan gugup plus terkejut bahwa gibran punya saudara.
"Kenapa dia ngak bilang bahwa punya saudara?" Gumam Amira dengan mengaruk kepalanya yang tak gatal.
...••••••••••••••...
__ADS_1
"Dek..," panggil lea. Ia berlari kecil kearah adek kesayangannya itu berlalu memeluknya.
"Gib,, kakak kangen sama kamu tahu." lea memeluk gibran begitu sangat erat membuat nya susah bernafas.
"Ka..k gue n..ggak bisa... nafas..." Ucap gibran dengan nafas tertahan.
"Maaf,, hehe.. kamu sih kenapa sampai masuk rumah sakit segala.." Lea menepuk lengan gibran dengan sangat keras membuat nya meringis kesakitan.
"Aduh kak sakit..." Gibran mengelus - elus lengannya itu yang hampir memerah.
"Up sorry.." Ia mengelus lengan adeknya yang hampir kemerahan itu.
"lasingan kamu sih... apa kamu ngak lelah berada dirumah sakit terus..? kalau kakak sudah ngak tahan pengen pulang..."
"Yee.. emang kakak aja yang kayak gitu.. gue aja pengen pulang, ngak tahan sama bau obat rumah sakit.." Gibran mencibirkan bibir nya.
"Oh ya kakak ngapain kesini?"
"Itu.. eeee—"
"Kamu ini bicara yang benar dong... masa ae ae ngak jelas banget..." Lea mulai semakin kesal dengan adiknya itu.
"Dia kembali ke Jakarta..."
"Whattt! Ngapain ke Jakarta? oh tunggu - tunggu maksud nya kalian pisah gitu." tebak Lea.
"Ya gitu deh..." Jawab gibran dengan menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
"Kok bisa gitu!" teriak Lea tanpa ia sadari, ia berteriak di dekat telinga gibran.
"Aduh kak bisa ngak teriak ditelinga gue juga kali,," Gibran menutup telinga nya yang hampir pecah akibat teriakan sang kakak.
Kakaknya hanya Cegegesan tanpa merasa bersalah.
"Ceritanya panjang kak,, gue ngak bisa menjelaskan.."
"Kayak cerita dogeng aja panjang.."
"Ya udah kalau gitu, Kakak pulang dulu.. kamu diam disini yah byee.." Ucap Lea berdiri dari tempat duduknya.
"Ehh kak,, kok cepat pulang nya katanya mau nengok gue?"
"Kakak lagi pengen jalan - jalan keluar.. dahhhh... oh ya cium dulu.." tanpa kata dari gibran ia mencium kening adeknya dan berlari keluar.
"Kak!!!" gibran baru saja akan melempar buah apel yang ada dimeja samping tempat nya berada tidak sengaja mengenai seseorang.
"Upssss,,"
•
•
•
•
__ADS_1
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️