Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 170


__ADS_3

Kini Abbey sedang berada didalam mobil, mereka akan pergi ke restoran terlebih dahulu untuk makan siang setelah nya baru ke taman hiburan.


"Asyik akhirnya bisa keluar lagi dari rumah." Ucap alira memandang ke arah jalanan yang dipenuhi dengan bangunan dan pepohonan lewat jendela kaca mobil.


"Oh ya kak. kalau boleh alira tahu, seperti apa sih diindonesia itu? aku jadi pengen kesana." Tanya alira membayangkan baginya Indonesia itu sama halnya dengan diamerika.


tiba - tiba Abbey begitu sedih mendengar kata 'indonesia' "memangnya kamu ngak pernah keindonesia?" tanya Abbey balik.


"tidak, mom dan dad mana mau mengizinkan nya? mereka selalu saja melarang ku." cemberut akan semua perintah mom dan dadnya selalu melarang nya ini itu termasuk keluar rumah seperti ini kalau tidak bersama kakak nya.


"Emang kenapa? bukannya kakakmu sering sekali ke Indonesia kenapa tidak ikut dia saja." Ucap Abbey matanya tidak henti menatap kearah jalanan.


Azka yang sibuk menyetir menatap kedua wanita yang sedang saling bertukar pembicaraan itu lewat kaca mengetahui bahwa Abbey masih tidak ingin mengingat tentang Indonesia lagi.


"kata Dady kakakku laki - laki sedangkan aku perempuan, itu aja sih dad bilang. tapi aku tidak mengerti apa maksud nya."


"alira kau itu masih kecil jadi kau tidak tahu apa - apa. lebih baik diamlah." Ucap Azka menimpali pembicaraan kedua wanita duduk di kursi belakang.

__ADS_1


"Ishhh kakak memang menyebalkan sama seperti dad dan mom." Kesal alira dengan menyilangkan kedua tangannya diatas perut dan memilih untuk membuka jendela kaca mobil sedikit menikmati udara segar.


"Alira tutup jendela nya apa kau tidak Kasihan kepada kak Abbey nanti dia masuk angin. apa kau lupa dia sedang hamil, kau mau bertanggung jawab atas bayinya." Seru Azka kepada adiknya sehingga mobilnya kini terhenti disebuah restoran.


air mata alira mulai berkaca - kaca dan Abbey lihat itu. "Sudah sudah Azka jangan marahi dia. lagian kita sudah sampai ayo kita turun."


"(menghela nafas)" Azka benar - benar tidak tahu hari ini emosi nya sering turun naik. entah ada apa yang merasuki pikiran nya.


"Ayo alira, jangan menangis." Ucap Abbey menghapus air mata alira yang mulai meneteskan air matanya. Entah alira tidak tahu pada diri nya dari dulu jika dibentak ujung - ujungnya akan menangis. {iya sama kaya aku huhu😭}


••


Bandung,


kali ini gibran sudah sampai dibandung kediaman tuan Zafano. sang nenek Ayse yang menunggu kepulangan putra, menantu dan cucunya itu duduk dikursi roda di depan pintu rumah.


putra dan mantunya itu memeluk nya satu persatu atas kedatangan mereka, sedangkan gibran masih terdiam berdiri sembari menatap kedua orang tuanya saling berpelukan dengan nenek Ayse.

__ADS_1


"Cucu nenek kemarilah," Panggil nenek Ayse mendapati cucunya hanya terdiam tidak seperti biasanya langsung memeluk sang nenek.


Gibran pun mengiyakannya dan memeluk sang nenek. "Hay cucu nenek lagi kenapa hm..? wajah nya sedih." Tanya nenek Ayse mengelus lembut wajah gibran yang kini berjongkok dihadapan nya. {karena nenek Ayse menggunakan kursi roda}


"Nenek..." Ucap gibran ia memeluk kembali neneknya dengan begitu erat. Ia menyembunyikan wajahnya pada bahu neneknya. Ia menangis.


Mama Adelia dan papa Zafano melihat itu mengerti akan putra nya rasakan. Tanpa berbicara sepatah pun, mereka berlalu masuk tanpa Gibran dan nenek Ayse tahu.






__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️🙏😘


__ADS_2