Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 81


__ADS_3

"Bagaimana dok dengan keadaan putri saya apa ada keluhan mengenai kepala nya?"


Dokter Darren yang menangani Abbey tersenyum kepada nya, ia memegang sebelah pundak ayah Bima.


"Tuan tenang saja, putri anda dalam masa pemulihan... dia baik - baik saja, saya buatkan resep obat nya terlebih dahulu"


Ayah Bima yang mendengarnya pun menjadi tenang, yang tadinya gelisah. "ah, syukurlah kalau begitu..." tuan Bima kembali duduk.


"ini resep obat untuk penghilang pusing untuk nona Abbey, untuk sementara waktu... jika dalam waktu sebulan belum ada perkembangan apapun anda bisa datang lagi kesini" Ucap pak dokter Darren memberikan beberapa obat.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu..." Ucap ayah Bima menjabat tangan nya berterima kasih berlalu pergi menemui putri nya Abbey.


"Bagaimana yah...?" Ucap Abbey yang telah berdiri didekat ambang pintu tempat sang ayah keluar.


"Astaga Abbey, kamu buat ayah kaget saja..." Ucap ayah Bima memengang dadanya.


"Hehehe maaf yah..."


"Kamu cuma pusing biasa dan ini tadi resep nya sudah dibuatin... ayo kita pulang sekarang." Ucap tuan Bima melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Abbey menyeimbangkan langkah nya dengan langkah ayah nya, "Tunggu sebentar yah, ehm... Abbey pengen nanya sama ayah tentang om dan Tante" Seingat Abbey.


Ayah bima berhenti dan ia mengerutkan dahinya mengisyaratkan. "Kenapa kamu nanyain mereka?"


Abbey membungkam, pikiran nya melayang - layang seperti nya ia salah katakan.


"Ngak ada, ngak jadi... lebih baik kita pulang saja," lanjut Abbey berjalan mendahului langkah ayah nya.


"Tunggu sebentar memangnya kamu mau berbicara apa? kenapa dengan mereka hm...?" Tanya ayah Bima mengelus rambut putri.


"Sebenarnya siapa sih mereka yah? kenapa ayah bisa berteman dengan mereka?" Abbey begitu sangat ingin tahu. Karena yang ia lihat disaat melihat wajah kedua orang tua Alden, ia merasa seperti tidak asing baginya. seperti ia pernah melihat sosok kedua paruh baya itu beberapa tahun yang lalu tapi dimana ya? ia lupa.


Abbey begitu syok benar dugaannya selama ini, ia tidak salah orang lagi bahwa Alden itu Al sahabat kecilnya. Ia baru ingat nama seseorang yang sering dipanggil Al itu Alden iya Alden.


"Akhirnya aku menemukan nya... akhirnya dia beneran Al sahabat kecilku... aku harus memberitahukan nya besok." Batin Abbey terlanjur senang tanpa ia sadari sang ayah memanggil nya sedari tadi.


"Abbey! Kamu dengar ayah ngak?!" Teriak ayahnya.


Sampai sang ayah berteriak - teriak memanggil nya pun tak didengar oleh nya.

__ADS_1


"Eh iya, yah maaf... aku cuma kepikiran aja, kalau gitu kita lanjut aja pulang" Ucap Abbey terlalu bersemangat dan mengandeng lengan ayahnya berjalan menuju parkiran rumah sakit.


•••••••


Gibran berbaring ditempat tidurnya setelah kepulangan teman - temannya itu. Ia mengingatkan perkataan membuat nya tergiang - Giang diotaknya. Ia ingin menyusul Abbey ke Jakarta tapi ia takut bahwa sang ayah mertua akan mengetahui nya.


"Ah, gue tahu harus melakukan apa?" ide terbelesit diotak gibran Secara tiba - tiba.


Dihari Seninnya gibran pergi kesekolah siang - siang ia mencari guru kepala sekolah diruangan nya secara langsung meminta persetujuan untuk beberapa hari ia meminta untuk cuti. Ia ingin menyusul Abbey ke Jakarta tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya termasuk keluarga Abbey juga.






__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️


__ADS_2