
"Hah takut? maksud nya Miranda takut ketemu Abbey? hahaha kamu ada - ada saja. Memangnya Abbey mengigit kamu?" Ucap mama Ratna dengan gelak tawanya.
"Sebenarnya Tan kami itu melakukan kesalahan,," Ucap Miranda menatap kearah temannya Dika untuk mengisyaratkan untuk berbicara.
"Sebenarnya Tante kami saat mengajak Abbey bertemu teman - teman SMP, salah satu teman kami tidak sengaja---bla - bla" Setelah Dika menjelaskan tentang kejadian di kafe saat Miranda dan Dika ingin membantu Dika menyatakan cintanya kepada Abbey. Mama Ratna begitu kaget dengan apa yang ia dengar.
"Itu sebabnya Tante kami ngak berani ketemu Abbey.. kami bersalah, pasti Abbey marah sama kita.." ucap Miranda.
"Itu sebabnya kami menjauh dari Abbey.." Sambung Dika.
"Oh pantesan kalian pergi menghilang tanpa kabar.. baiklah kalian ikut saja dibelakang Tante nanti tante bilang sama Abbey baik - baik agar kalian dimaafkan.. okey" Ucap mama Ratna yang kini memanggil pelayan yang ada dikantin rumah sakit itu untuk membayar makanan nya dan makanan yang ia bungkus untuk membelikan mama Adelia dan gibran juga Abbey.
"Baiklah kalau begitu kita jenguk Abbey.." Ajak mama Ratna dan dengan cepat Miranda, Dika mengiyakan nya dengan wajah yang begitu pucat pasi.
Berbeda di sebuah mansion mewah itu ibu merina dengan yoga sedang sibuk berbincang - bincang di ruang tamu hanya berdua tanpa ada gangguan siapapun terkecuali salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menyiapkan minuman khusus tamunya dan langsung pergi dari sana.
"Ekhem, ada apa kamu kesini? jangan bilang kamu hanya ingin memberikan ide tentang menghancurkan pembunuh itu lagi?" Ucap ibu merina dengan raut wajah dengan penuh kebencian. (pembunuh itu orang yang dimaksud tuan Zafano).
__ADS_1
"Tidak nyonya, kini saya ingin memberikan sebuah kabar tentang putranya gibran dengan Abbey menantunya termasuk istri dari gibran.." ucap yoga dengan senyuman liciknya.
"terus..? jika kabar nya ngak bermanfaat untuk saya, lebih baik jangan sekali - kali menceritakan tentang mereka, saya muak dengar cerita mereka lagi." Ucap ibu merina yang kini mulai meminum teh hangat nya.
"ini sangat bermanfaat nyonya dan yonya bisa memanfaatkan istri dari gibran putra tuan Zafano dan menjatuhkan harga diri tuan Zafano lewat putranya dan ancam saja nona Amira untuk mendekatkan gibran kembali." Ucap yoga dengan membayangkan kehancuran keluarga tuan Zafano.
"Maksud mu bagaimana? saya tidak mengerti.." Ucap ibu merina dengan kesal, iya tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh yoga anak buahnya yang dari awal untuk mendekati Lea putri pertama tuan Zafano.
"Nona Abbey sedang mengandung cucu pewaris,," Ucap yoga.
"terus..?"
"Apa? kamu bilang saya bodoh begitu?!" emosi ibu merina dengan tatapan mata tajamnya.
"ti...dak nyonya. ah biarkan saya menjelaskan nya" yoga menelan salivanya dalam - dalam, ia begitu ketakutan.
"Begini, bagaimana---" Yoga membisikkan sesuatu kepada ibu merina dengan rencana ia berikan. dan ibu merina tersenyum begitu sangat licik.
__ADS_1
"bagaimana nyonya?" tanya yoga yang kini ia tahu dari senyuman nyonya nya setuju dengan rencana nya.
"Ehm, menarik juga. baiklah aku akan menyuruh Amira terlebih dahulu kesini setelah itu aku akan pergi ke Jakarta hari ini dan kamu pesankan saya tiket pesawat menuju Jakarta." perintah ibu merina.
"Eits nyonya ini tidak gratis, bayaran saya mana? yang kemarin belum loh.."
"Ck... oke, ini kartu debit ATM saya, kamu bisa mengambil uang sepuasnya disana tetapi ingat jika gagal maka saya tidak segan - segan untuk menjebloskan mu kepenjara." Ancam ibu merina.
yoga dengan cepat menganggukkan kepalanya dengan menelan salivanya ketakutan dengan ancaman ibu merina.
•
•
•
•
__ADS_1
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️🙏😘