Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
part 42


__ADS_3

Plakkk!


Sebuah tamparan secara tiba - tiba dari tuan Zafano, Gibran tidak habis pikir papanya menamparnya. Ia tidak tahu apa dengan papanya hari ini.


Gibran memegang pipinya yang memerah itu, "Kenapa papa menampar gibran?" tanya gibran dengan polos.


"Apa ini?! apa ini gibran?!" teriak tuan Zafano melempar berkas yang berisikan foto pernikahan gibran dengan Amira dan terlihat jelas disana juga ada Abe berdiri menonton pernikahan itu juga dia terlihat begitu sedih.


Gibran melihat berkas itu, saking terkejutnya ia tidak tahu harus bercerita dari mana kepada papa nya. Ia benar - benar tidak tahu jika pernikahan nya bersama Amira bakalan tersebar ke keluarga nya pasti nya nanti akan tersebar juga ke keluarga Abe.


"ini kesalah pahaman jadi biar gibran jelaskan ya pa," ucap gibran.


"Ngak ada yang harus dijelaskan lagi, papa ngak bisa lagi harus berkata apa - apa lagi sama kamu... Kamu sudah menghancurkan hidup Abe dan keluarga mu, papa tidak habis pikir dengan otakmu itu! Sebelum nya kamu jika ingin menikahi Amira secara langsung, kamu pikir - pikir dulu sebelum bertindak!" jelas tuan Zafano.


Gibran hanya menundukkan kepalanya merasa bersalah, jika ia harus menceritakan semuanya juga percuma. Pastinya papanya akan tetap tidak percaya.


"iya, papa benar aku ngak pakai otak yang hanya menyetujui nya secara langsung," ucap gibran berlalu pergi.


"gibran kamu mau kemana itu?! papa belum selesai bicara sama kamu!"

__ADS_1


"Males ngeladenin papa, lagi pula papa ngak akan percaya jika gibran ceritakan yang sebenarnya," ucap gibran berlalu pergi keluar dari rumah nya.


"gibran!!!" teriaknya.


Tiba - tiba terasa begitu sesak dengan jantungnya membuat nya pingsan. Disana tidak ada siapa - siapa istri nya dan nenek ayse sedang keluar kota sedangkan pak Hamid sedang menyelesaikan tugasnya.


Beberapa jam kemudian suara bel rumah tuan Zafano berbunyi, dari gerbang rumah terlihat mobil hitam berhenti disana. Ryan beberapa hari ini pergi mengikuti


ajang perlombaan kompetisi bola basket di luar kota jadi karena mumpung hari libur nya ia akan pergi mengunjungi paman Zafano nya dan ingin melihat keadaan nya yang telah dikabarkan beberapa hari ini sakit - sakitan.


"permisi pak saya kesini mau bertemu dengan tuan Zafano," ucap Ryan kepada pak satpam penjaga rumah.


"terima kasih pak, saya kedalam dulu mari," ucap Ryan sopan.


Saat Ryan akan masuk kedalam, ia melihat tuan Zafano sudah pingsan disana. Ia berlari kearahnya.


"paman!" teriak nya.


Ryan membopongnya membawanya ke sofa diruang tamu dan mengecek detak jantungnya. Setelah itu ia menelpon dokter untuk memeriksa kondisi tuan Zafano.

__ADS_1


Dikediaman tuan Bima Satria putra


Didalam kamar Abe dan Alya mereka sudah sampai. Alya yang sedari tadi ingin menanyakan masalah tentang Amira dan gibran itu merasa takut nantinya Abe akan salah paham.


Abe yang melihat Alya merasa gelisah mencoba duduk disampingnya.


"Alya kamu sedang memikirkan apa? kalau ada apa - apa cerita ke aku dong? hmm?" tanya Abe.


raut wajahnya semakin sedih dan ia menundukkan kepalanya, ini pertama kalinya dirinya merasa malu dan canggung berbicara dengan Abe.


"s- sebenarnya Amira dengan gibran ada hubungan apaaan sih?" tanya Alya menyelidiki.


Abe menghela nafas nya, ia benar - benar sedih harus menceritakan nya padahal dirinya ingin sekali melupakan gibran tapi ia tidak tega jika menutupi ini semua dari sahabat nya sendiri.


Abe terbangun dari tempat duduknya dan membelakangi Alya, "sebenarnya gibran dan Amira mereka sudah menikah makanya tadi siang itu dia meminta aku bercerai dengan gibran," jelas Abe.


Alya yang mendengar penuturan Abe begitu kaget, "apa?!"


Jangan lupa like setelah membaca 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2