
Gibran menghentikan langkahnya, "Ngak kayak gitu dong pa, ini ngak adil!" Seru gibran.
"Maka oleh sebab itu kamu harus memaafkan Abbey dan kembali lagi kerumah ini titik." Titah tuan Zafano lebih tegas berlalu pergi meninggalkan gibran yang hanya berdiri menatap kepergian papanya dengan begitu kesal.
"Ah sial ini semua pasti gara - gara Amira, dia kesini mengatakan sebenarnya pada papa." Kesal gibran ia mengacak - acak rambut nya prustasi.
Sementara di kediaman ryan.
Kini Clarissa dan Ryan telah sampai dimansion cukup megah. Mereka pun menuruni mobil dan masuk kedalam mansion itu.
"Selamat malam tuan muda," Sapa bi minah pembantu rumah tangga yang ada dimansionnya.
"Selamat malam bi."
"Oh ya ini bi, kenalkan namanya Clarissa adik Ryan yang pernah ku ceritakan waktu itu pada bibi." Ya Ryan pernah bercerita tentang Clarissa pada bi Minah bagaimana ia mulai kehilangan adik kecil nya, ia sangat begitu terpukul.
"Dia sangat cantik." Ucap bi minah dia begitu senang bahwa adik tuan mudanya begitu telah kembali.
__ADS_1
"Terima kasih bi," Jawab Clarissa.
"Ini siapa adik kecil ini sangat mengemaskan dan tampan." Tanya bi Minah menatap kearah gibey yang ada digendongan Clarissa.
"Namanya gibey. Dia putra dari temanku, mama nya menitipkan nya padaku selama beberapa bulan karena mamanya sedang pergi bekerja keluar kota." Ucap Clarissa menatap gibey yang sudah tertidur digendongannya.
"Ya udah kalau gitu bi, antarkan mereka ke kamar nya. dan kamu Clarissa istirahatkan lah gibey dulu. nanti temui kakak ke kamar," Ucap Ryan mengelus rambut adiknya itu.
"Iya kak." Ucapnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Ayo non bibi antar." Ucap bi minah terlebih dahulu berjalan menaiki tangga.
Malam ini Abbey duduk dibalkon, ia menatap kearah bintang - bintang yang begitu banyaknya dilangit. Entah kenapa kali ini ia merindukan seseorang yang beberapa hari ini tidak pernah ia temui. Ia ingin sekali memeluk nya.
"Gibey kamu sedang apa sekarang sayang?"
"Mom kangen sekali padamu." Gumam Abbey dalam hati nya. Ia tidak hentinya kepalanya mendongak keatas langit menatap bintang bertebaran dilangit.
__ADS_1
"Jika sedang merindukan seseorang lihatlah bintang dilangit itu terus menerus itu akan menghilangkan rasa rindumu." Tiba - tiba dari belakang suara seseorang mengejutkan Abbey membuat nya membalikkan badannya menatap seseorang itu.
"Kamu sedang merindukan seseorang ya?" ternyata itu tuan Zafano ia mengelus rambut menantunya itu ikut duduk dibalkon mansion itu.
"eh enggak pa. Abbey cuma pengen lihat bintang aja." Ucap Abbey kembali menatap bintang dilangit.
Tuan Zafano tersenyum kecut, "Kamu hampir sama dengan ayahmu Bima, jika malam - malam begini disaat sedang kesepian ia menatap bintang itu selalu." Ucap tuan Zafano. Ia tidak menyadari telah membuat Abbey meneteskan air mata nya.
"Kamu menangis sayang?" ucap tuan Zafano yang kini menyadari itu.
Abbey menganggukkan kepalanya, Ia memeluk tuan Zafano. "Pa, Abbey kangen banget sama ayah sama mama. Sekarang keadaan mereka membahagiakan atau tidak ya?" ucap Abbey dari Isak tangis nya.
"Maafkan papa ya sayang, papa lupa kamu belum bertemu kedua orang tua mu sejak menghilang." Ucap tuan Zafano mengelus lembut surai rambut menantunya.
"tidak apa - apa. Abbey masih kuat menahan rasa rindu ini." Ucap Abbey menghapus air matanya berusaha tersenyum.
"Tenang saja nak, papa akan berusaha menemukanmu dengan keluarga mu. Agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." Gumam tuan Zafano dalam hati.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️