
*diruang tamu
Kini menunjukkan pukul setengah tujuh malam, kini hanya tertinggal Abbey dan kedua orang tuanya.
"malam ini kita akan pergi ke Jakarta, ayah mendadak menelpon tadi katanya ia pengen Abe pindah sekolah," ucap mama Ratna.
"whattt?! pindah sekolah?" ucap Abe.
Ia begitu kaget dan bangun dari duduknya, ini benar tidak adil untuknya.
"Abe kamu duduk dulu," perintah tuan Bima.
tuan Bima juga tidak ingin Abe pindah sekolah, tetapi mau bagaimana lagi ini perintah dari ayah mertuanya.
"baiklah, ayah akan secepatnya mengurus surat pindah Abe" ucap tuan Bima dengan tegas.
Abe membulatkan matanya, "ayah, Abe ngak mau pindah sekolah... lagi pun Abe sudah punya suami juga, lalu bagaimana dengan gibran yah?" ucap Abe dengan kesal.
"Abe kamu masuklah kekamar mu dulu ayah, nanti lagi kita bicarakan" ucap tuan Bima bangun dari tempat duduknya dan pergi menaiki tangga.
"ma, Abe ngak mau pindah sekolah... mama tahu kan Abe sudah punya suami, mama juga pernah bilang sama Abe kalau orang yang sudah menikah itu ngak boleh pisah" jelas Abe.
mama Ratna mengelus - elus rambut Abe dengan penuh kasih sayang, "nak, kamu turuti sekali lagi permintaan kakekmu... sebenarnya kakekmu dari dulu ingin kamu pindah sekolah ke Jakarta agar kamu bisa meneruskan perjalanan karir kakekmu, kakekmu itu sudah semakin tua... apakah kamu tidak ingin berbuat baik kepada kakekmu?" jelas mama Ratna.
Setelah mendengarkan penuturan mama Ratna, Abe menghela nafasnya.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu, terserah deh" ucap Abe berjalan pergi masuk kedalam kamar nya.
mama ratna hanya tersenyum sekilas.
*Dirumah sakit
pak Hendra dan Bu marwa setelah dari kediaman tuan Bima, mereka menuju ke rumah sakit untuk menjeguk anaknya lagi.
saat ia berada diruangan, ia menggenggam anaknya itu terus - terusan.
Tidak ada suara antara pak Hendra dan Bu marwa, sibuk dengan suara gelombang denyut jantung dari alat monitor hemodinamik dan saturasi.
tiba - tiba dokter Ridwan masuk untuk memeriksa kondisi si pasien.
"permisi," ucap Dokter Ridwan.
"bagaimana dok keadaan anak saya?" tanya ibu marwa.
dokter Ridwan melirik sekilas ke arah pak Hendra, ia begitu mendapatkan tatapan datar dari pak Hendra.
dokter Ridwan menghela nafas nya dan kembali tatapan nya tertuju ke arah pasien disamping nya itu.
"dia kondisi nya masih lemah tunggu saja dalam beberapa hari dia akan siuman," ucap tuan Ridwan dan diberikan anggukan oleh ibu marwa.
"baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter Ridwan memberikan senyuman kepada kedua paruh baya itu.
__ADS_1
Ibu marwa mendekati anaknya dan duduk disampingnya, mengusap pucuk kepala nya dengan pelan - pelan dan memberikan ciuman dikeningnya sebagai tanda rasa cinta seorang ibu.
"Arlan, ibu ada disini akan selalu menemanimu.. cepetan bangun ya nak, ibu sayang kamu" ucap ibu marwa dengan menatap wajah Arlan.
pak Hendra hanya duduk disofa paling pojok seperti sedang memikirkan sesuatu dengan tatapan begitu kosong. entah apa yang sedang ada dipikiran nya sekarang.
Dreet, dreeet...
suara ponsel milik Abe berdering terus dari atas nakas samping tempat tidur nya.
disana tertulis,
Alya.
"halo,"
"Abe, bisakan kamu datang ke kafetaria? ada yang ingin aku bicarakan ini penting,"
Alya mematikan nya begitu saja.
"memangnya ada apa sih? Alya tidak seperti biasanya? mematikan ponselnya sebelum aku menyarankan nya" ucap Abe turun dari tempat tidurnya.
**Jangan lupa like setelah membaca ๐โค๏ธ
masih perbaikan sampai sini tunggu untuk eps selanjutnya ๐
__ADS_1
mohon maaf jika ada kendala๐**