
"Kamu kenapa selalu menghindari papa. Apa karena kejadian beberapa tahun yang lalu?" tanya tuan Zafano.
"Tidak ada hubungannya dengan masalalu."
"Baiklah, jika kamu tidak ingin dipeluk papa. tapi papa hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Papa ingin kamu segera menikah lagi. papa ingin kamu bisa seperti dulu lagi, semenjak beberapa tahun ini kamu tidak pernah tersenyum."
"Whatt? papa aku tidak ingin menikah, sampai kapanpun itu. Gibran sudah berjanji pada diri sendiri, bahwa gibran tidak akan pernah menikah." Seru gibran.
"tapi setidaknya papa ingin memiliki seorang cucu pewaris." seru tuan Zafano.
"pokoknya gibran tidak akan menikah meski papa menginginkan seorang pewaris. mengerti." Seru gibran berlalu pergi dari sana.
"Ck.. anak itu." Kesal tuan Zafano.
••
Keesokan nya.
Sinar mentari pagi terlihat bersinar, memasuki celah - celah tirai. Membuat mata Abbey silau dan menyipitkan kedua matanya. Abbey terbangun dari tidurnya, ia menatap kearah sekeliling.
"Loh ngapain aku diapartemen ini lagi? bukannya aku kemarin sedang mengerjakan skripsi." Pikir nya.
"Astaga aku sampai lupa skripsi itu harus jadi sekarang bagaimana ini? aku harus mandi, semoga saja tidak telat lagi."
"Sialan, ini gara - gara semalam." abbey dengan cepat ia masuk kedalam kamar mandi. Ia tidak peduli jika gibran melarangnya untuk pergi nanti. Ia akan tetap memaksa dengan keras meski harus ada cekcok antara nya.
__ADS_1
Dan disaat Abbey selesai bersiap - siap dengan rapi ia segera menuju keluar apartemen.
"Selamat pagi nona" Sapa seseorang.
Abbey begitu kaget saat mendapati seseorang berada didepannya.
"Siapa kamu?"
"Kenalkan saya penggawal anda..."
"apa? saya tidak menyuruh Anda jadi pengawal saya." Jawab Abbey.
"tetapi saya diutus oleh tuan gibran untuk menjaga anda."
"Baiklah terserah," Ucap nya akan melangkahkan kakinya keluar pintu apartemen tetapi dihalangi oleh pengawal itu.
"Maaf nona, tuan melarang nona keluar dari apartemen selama tiga hari." Ucapnya.
"Apaan nih? kalau begitu gimana aku keluar dari sini." Gumam Abbey dalam hati.
"Kumohon biarkan saya keluar sebentar saja. Ini urusan pekerjaan penting " Mohon Abbey dengan mengatupkan kedua tangannya.
"tidak bisa nona. lebih baik nona tunggu tuan pulang saja dan sekarang nona masuklah." titah pengawal itu diselingi dengan senyuman.
"Huh (Menghela nafas) baiklah." Ucapnya terpaksa harus masuk lagi kedalam apartemen itu.
Sementara disisi lain.
__ADS_1
"Bagaimana apa dia tidak keluar dari apartemen itu." tanya gibran kepada pengawalnya lewat ponsel nya.
"tadi sebetulnya ia ingin keluar tetapi saya mencengahnya dan ia sekarang saya sudah menyuruh nya masuk kembali kedalam apartemen."
"Bagus. awasi saja dia.. jangan sampai dia melarikan diri. Jika tidak aku akan memecat mu!" ancam gibran dibalik ponsel.
"Jangan tuan." ucap nya takut.
"Itu sebabnya lakukan yang saya perintahkan, mengerti."
"Baik tuan."
Ponsel itu berakhir.
••
"Bagaimana aku harus keluar?" gumam Abbey dalam hati ia berdiri dibalkon apartemen menatap gedung - gedung disekitar nya.
tiba - tiba pikiran nya melayang.
"Bagaimana jika ada gempa? bagaimana aku akan keluar dari sini." pikir nya membuat nya ketakutan dan membayangkan yang tidak - tidak.
Abbey menghapus bayangan begitu mengerikan itu dari pikiran nya.
"tidak - tidak jangan berpikiran yang aneh - aneh."
"Gibey?" ia beralih menyebutkan nama putranya.
__ADS_1
"Astaga aku baru ingat menelpon Clarissa bagaimana dengan keadaan gibey apa dia baik - baik saja." ucap Abbey mencari ponselnya beberapa hari ini belum pernah ia sentuh.
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️