Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Ch 195 - Tidak akan memaafkan


__ADS_3

"Tenanglah aku akan berbicara baik - baik dengan gibran, aku akan memberitahu sebenarnya bahwa dia adalah ayah dari anakmu."


"Jangan! Jangan beritahukan dia. Aku tidak mau jika gibran akan mengetahuinya lebih baik sembunyi kan dulu."


"Kenapa?"


"Aku takut jika anakku akan marah padaku, jika ia tahu bahwa ayahnya masih hidup. soalnya aku sudah banyak berbohong padanya." Abbey menundukkan kepalanya.


"Baiklah jika itu maumu. aku tidak akan memaksa."


"Tetapi bagaimana caranya kamu membuat gibran kembali kepada mu dia sudah marah besar." Tanya Amira.


"Aku tidak tahu." Abbey mengelengkan kepalanya.


"Baiklah aku akan membantumu. Ikut aku." Amira menarik lengan Abbey masuk kembali kedalam gedung apartemen itu dan berhenti tepat didepan pintu apartemen gibran.


"tunggu dulu," Cegah Abbey untuk Amira memencet bel apartemen itu.


"Kenapa lagi sih Abbey? kamu hanya perlu diam dan aku yang berbicara dengan nya. oke" Amira memencet tombol bell itu berkali - kali sehingga keluar lah gibran dari sana.


"Kau lagi!" seru gibran dan kini tatapan nya mengarah ke abbey. "Untuk apa kamu datang lagi kesini?! bukannya kamu sudah ku usir!" seru gibran darahnya kembali mendidih melihat keberadaan perempuan yang kini ia begitu benci.

__ADS_1


"Sayang apa ada tamu?" suara seseorang dari dalam apartemen dan seorang perempuan keluar dari apartemen itu.


"Entahlah seorang pengganggu," Ucap gibran memutar bola matanya malas.


"Gibran aku boleh berbicara dengan mu sebentar?" Amira menatap tajam kearah perempuan yang ia begitu sangat dikenalnya.


"Aku tidak bisa. aku sedang sibuk." Ketus gibran ia ingin menutup pintu nya kembali tetapi dicegah dengan tangan Amira.


"Pliss sekali saja. terus itu aku akan pergi." Ucap Amira mengatupkan kedua tangannya.


Gibran menatap kearah perempuan itu yang tak lain ialah sekretaris nya Vita. Tadi ia tidak sengaja memanggil sekretaris nya keapartemennya hanya sekedar ingin melampiaskan kekesalannya dengan seperti biasa patner ranjang. Mereka memang sudah dua kali berhubungan tetapi belum tentu gibran akan meniduri perempuan itu hanya membuat perempuan itu terangsang saja jika ia sudah puas ia akan menyuruhnya pergi.


"Cepatlah masuk berbicara didalam." Ucap gibran.


"Lalu Abbey apa dia di bolehkan masuk?" tanya Amira sembari menatap ke arah Abbey hanya menundukkan kepalanya sedari tadi.


"Tidak. dia tidak boleh masuk! biarkan dia disana."


"Plisss gib... kumohon bisa kan kamu sedikit aja berhati lembut... biarkan Abbey ikut masuk." Amira kembali mengatupkan kedua tangannya.


"Amira aku tunggu diluar saja. kalian berbicara didalam." Lirih Abbey. Ia memberanikan diri nya berbicara.

__ADS_1


"tuh kau dengar sendiri, orangnya aja ngak protes,"


"Baiklah jika ngak mau lebih baik kita berbicara disini saja."


"aku hanya ingin kau memberi Abbey maaf! alias aku ingin kau mau memaafkan Abbey apa yang telah terjadi kepada nya! apa kau bisa melakukan nya." tegas Amira. tiba - tiba ia mendapatkan cubitan dari Abbey.


"Kamu diam saja." Bisik Amira.


"Whattt! memaafkannya?!" pekik gibran.


"Itu tidak akan pernah! dia telah melukai hatiku! aku tidak akan pernah mau memaafkan nya, lagi pula aku sudah memiliki pengganti." Ucap gibran ia menyunggingkan senyuman nya.


"Secepat itu, jangan bilang dia perempuan itu!" seru Amira.


"Kalau iya emang kenapa?"


"Oke. Terserah kau mau memilih pilihan mu. tapi lihatlah apa yang akan aku lakukan kepada mu!" ancam Amira. Sehingga ia menarik lengan Abbey dari sana.


"Ayo kita pergi dari sini! dia tidak akan memaafkan mu." Ucap Amira.


Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2