
"Mengapa harus kita kesini?" Tanya Citra binggung.
"Hehehe, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian... mungkin ini sedikit menyedihkan bagi kalian." Raut wajah Abbey yang tadinya sedikit mulai ceria kini kembali muram dan ia menundukkan kepalanya sedih.
"Memangnya ada apa?" Tanya Alya yang semakin bingung dengan menatap ketiga sahabatnya itu dengan Secara bergantian.
Abbey menghela nafasnya dengan begitu berat, ia menyusun - yusun kata - kata yang ingin ia lontarkan.
"Se... benarnya aku... akan kejakarta malam ini dan akan pindah sekolah memilih menetap disana." Ucap Abbey.
Ketiga sahabatnya begitu syok mereka saling memandang Secara bergantian.
"Whattt...?" Bisik mereka agar tidak terdengar ketelinga penjaga perpustakaan.
"Kenapa tiba - tiba? lalu bagaimana dengan gibran apa dia ikut?" tanya Alya.
"Ini keputusan ayahku, aku harus menuruti kemauan nya dan gibran tidak ikut." Ucap Abbey.
"Lalu bagaimana dengan kita? Kamu tahukan kami itu sayang sama kamu..." Beo Indri.
"Abbey jika kamu pergi kita pasti akan kesepian..." Sahut Citra.
"Ya, aku tahu kalian sayang sama aku... tapi ini sudah keputusan aku, terlebih lagi aku ngak selamanya berada disana."
"Sekedar 5 tahun,"
"Mengapa harus lama sekali?" Ucap Indri.
__ADS_1
"Sudahlah jika itu sudah keputusan mu tapi kami akan tetap menunggu mu selama 5 tahun itu..." Ucap Alya pasrah.
Jika itu memang sudah keputusan nya mereka mau bagaimana lagi. Mereka hanya bisa menunggu selama 5 tahun.
Mereka saling memeluk bersama - sama sampai pada akhirnya mereka kini sudah berada dikelas memulai pembelajaran.
••••••••
Dimalam harinya kini Abbey sudah berada dibandara keluarga besar mengantarkan nya kebandara.
Mama Ratna menghujaminya ciuman bertubi - tubi.
"Sudahlah ma, ini terlalu banyak..." Abbey kewalahan dengan sikap mamanya.
"Nak, kamu selalu jaga kesehatan disana ya... jika kamu kecapean atau apalah jangan lupa istirahat kamu harus jaga dirimu jangan sampai sakit...," Ucap Nyonya Adelia ikut nimbrung.
"Abbey apakah kamu sudah siap?" Tuan Bima tiba - tiba datang dengan beberapa pengawal nya.
"Iya yah... tapi tunggu sebentar yah..." Abbey mendekati mamanya dan memeluknya.
"Ma, selalu telpon Abbey... oke"
"Hmm... Mama akan selalu menelpon mu setiap saat.." Kini Abbey memeluk kakaknya varrel.
"Kakak kenapa menangis? Jangan menangis..." Abbey menghapus air mata kakak nya yang ia tidak tahu sengaja meneteskan air mata nya.
"Ngak kok... kakak cuma kelilipan, Ingat kamu harus selalu nurut sama kakek dan ayah jika berada disana jangan pernah membantah. okey.." Pesan Varrel memeluk adeknya.
__ADS_1
"Iya, pasti Abbey akan selalu menurut. kakak tenang aja,"
Setelah itu Abbey memeluk kedua mertuanya itu dan mereka membalas pelukan nya.
"Ma, pa, ini berikan gibran amplop ini kepada nya... mungkin dia sedang marah dengan ku."
Abbey pun memberikan sebuah satu amplop yang berisikan kertas didalamnya. Mungkinkah surat terakhir untuk nya sebelum diri Abbey pergi jauh dari nya?
"Baiklah kalau begitu Abbey pamit selamat tinggal semuanya..." Ucap Abbey melambaikan tangannya berlalu pergi mengikuti langkah ayahnya menuju pesawat yang akan ia naiki.
Setelah diri Abbey dengan ayahnya termasuk pengawalnya itu tidak ada. Tiba - tiba gibran muncul ia terlambat.
"Mama, Abbey mana?!" Ucap gibran dengan nafas ngos ngosan.
"Kenapa kamu baru sampai abbey nya baru saja sudah pergi. tapi ini ada surat dari Abbey untukmu..."
•
•
•
•
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️
__ADS_1