
"hei, Abbey" panggil Alya yang berada tak jauh darinya.
tatapan Abbey begitu kosong, berjalan ke arah ketiga temannya "kamu kenapa sih, kok ngak seperti biasanya?" tanya Alya dengan mengerutkan keningnya.
"ya, nih bengong aja... ntar kesambet jin Loh" Sahut citra.
"ngak ada apa - apa, kok" jawabnya.
Gibran dan ketiga sahabatnya berjalan dan Indri, citra melihat keberadaan mereka melambaikan tangannya.
"Gibran!" teriaknya.
Gibran, yang dipanggil hanya cuek tanpa menyapanya.
Alya benar - benar tidak suka dengan sikap kedua temannya yang genit itu.
Alya menjitak kepala kedua sahabatnya, "eh sakit tahu! kenapa sih sukanya jitak kepala kita" ucap Indri kesal.
citra membalas nya dengan memencet hidung Alya, "rasain tuh, sebagai balasan nya" ucapnya.
"eh, sudah berani ya " ucapnya sambil mengacak - acak rambut citra.
"blek, biarin" ucap Citra sambil menjulurkan lidahnya.
Abbey yang baru menyadari keberadaan Gibran ada disana mulai panik. Gibran hanya berdiri dipinggir - pingir tembok dan hanya cuek melihat keberadaan abe.
"kenapa sih, dimana - mana harus ketemu dia terus... enek lama - lama ketemu cewek pemarah itu" batin gibran.
Abbey yang merasa dilirik oleh Gibran berlari untuk menjauh dari nya dan Gibran berusaha ingin mengejar nya.
"Abbey mau kemana?!" teriak Alya yang melihat Abbey sudah berada jauh.
Ia melangkahkan kakinya, "eh, ada apa dengan kaki gue, jangan kejar dia" batin gibran.
"ah, sudahlah" ucapnya langsung menyusul Abbey.
"eh, gib Lo mau kemana?" panggil Bastian.
__ADS_1
"biarin sajalah," ucap Oliver.
saat Abbey akan berjalan tiba - tiba saja dari balik tembok ada seseorang menariknya, ia memojokkan Abe ketembok dengan kasar, Abbey membulatkan matanya, "kamu!" ucapnya dengan keras.
Gibran menutup mulut Abbey dengan tangan nya, ia melihat sekeliling nya.
"sttt, bisa gak Lo diam..."
"kamu mau ngapain lagi sih? kenapa suka banget ikutin aku? jangan - jangan kamu suka lagi sama aku ya?" tebak Abbey sambil menunjuk telunjuknya kepada nya.
"eh, Geer banget gue suka sama lo... ih amit - amit dah" ucapnya dengan merinding.
ya, udah kalau gitu" ucap Abbey berjalan pergi.
Gibran, menahan lengan nya kembali dan memojokkan nya Kedinding tembok lagi tanpa memberikan nya celah untuk pergi.
"oh ya, seperti nya lo sudah tahu tentang masalah perjodohan itu, jadi bagaimana lo setuju?" ucapnya sambil menyelipkan anak rambut Abbey kebelakang telinganya.
Abbey terkejut, "dari mana kamu tahu aku akan dijodohkan?" ucap Abe heran.
Gibran mendekatkan wajahnya ke Abbey membuat manik mata mereka saling memandang, "tidak ada sih, tapi gue peringatin baik - baik... lo jangan harap akan bisa bahagia jika menerima perjodohan itu mengerti," ucap gibran. Menjauhkan wajahnya lagi dan berjalan pergi meninggalkan Abbey sendirian Disana.
"apa maksud dia?" ucapnya masih berdiri mematung.
Sementara itu Amira yang berada di Singapura masih sibuk dengan kegiatan sekolah nya dan ia akan mengikuti debut menyanyi, Amira harap ia akan lolos dan bisa mewujudkan impian nya.
"bagaimana kamu siap kan?" tanya seseorang kepada Amira yang masih berdiri dipojok ruangan dengan mengatur nafasnya agar tidak merasa gugup.
"aku sudah siap kok," ucap Amira dengan gugup.
"kamu gugup ya?" tanya seseorang itu.
Amira hanya menganggukkan kepalanya, "kamu tidak usah gugup, lagi pula kamu sudah latihan dengan keras pasti kamu bisa lolos... yakinlah sama paman kamu pasti bisa," ucap paman Amira.
dreet dreeet
beberapa pesan masuk berita mengenai pernikahan Gibran Baron Alexi telah menyebar dimana - mana sampai kekasihnya yang meneruskan studinya disingapura mendengar nya menjadi sedih.
__ADS_1
"beberapa hari yang lalu dia mengajak ku menikah, apa mungkin ada kaitannya dengan ini" gumam Amira.
"Ini tidak boleh terjadi," gumam Amira.
....
Abbey disekolah sedang berpikir saat teman - temannya datang dan mengejutkan nya. Teman - temannya membicarakan pernikahan gibran.
"ngapain harus ada perjodohan? emangnya ini jaman Siti Nurbaya apa?" ucap Citra kesal.
"beruntung banget wanita yang dijodohkan itu, andai aku wanita yang akan dijodohkan dengan Gibran," ucap indri dengan membayangkan dirinya menikah dengan Gibran.
Citra menjitak kepala Indri dengan kesal, "jangan mimpi, kita itu hanya orang biasa"
"hmm... betul tuh," sambung Alya dengan menganggukkan kepalanya.
sedangkan Abbey hanya meruntuki dirinya tentang perjodohan nya.
"apa yang harus aku lakukan?"
"bagaimana jika seseorang yang akan dijodohkan oleh ayah dengan ku sudah tua? jangan - jangan om - om lagi?" begitu banyak pertanyaan dalam hatinya membuat nya gelisah.
Alya melihat Abbey kembali terdiam dan tidak berbicara sedikit pun pertanyaan mereka, "hei, Abe kamu kenapa sih? dari tadi pagi bengong terus?" tanya Alya menyadarkan lamunannya.
"kalau ada masalah cerita ke kita, mungkin kita bisa bantu kamu?" sambung indri.
"Nggak ada apa - apa kok," Ucap Abbey terpaksa tersenyum.
•
•
•
•
•
__ADS_1
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak 🤍