
"Hallo yah," Suara gibran terdengar.
"Gibran? Ada apa?" Tanya ayah Tama kaget bahwa gibran menelpon nya.
Gibran sedari tadi mencoba menghubungi nomor ayah mertuanya tidak ada Jawa apapun sampai ia meminta bantuan kepada varrel untuk mencoba menghubungi tuan Tama. Pada akhirnya nomor telpon nya terjawab.
"Gibran mau nanya keadaan nya Abbey, apakah dia baik - baik saja yah?" Tanya gibran.
Ayah Tama melihat sekeliling nya tidak ada siapapun hanya para pelayan yang sedang bersih - bersih.
"Kamu tenang saja dia sedang baik - baik saja," Balas ayah Tama.
"Owh, yah sampai kapan Abbey akan disana?" Tanya gibran lagi.
"Ayah," panggil Abbey.
Ayah Tama kaget melihat keberadaan putri nya sudah ada dibelakang nya. Gibran mendengarnya dibalik seberang ponsel.
"Saya tutup dulu telponnya yah..." Ucap ayah Tama dengan begitu gugup dan kembali memasukkan nya kedalam kantong bajunya.
"Siapa itu yah?" Tanya Abbey melihat ekspresi ayahnya mencurigakan.
"Hmm...? itu cuma karyawan hotel ayah... cuma memerintahkan mereka untuk mennda pekerjaan selama beberapa hari..." Ucap ayah Tama berbohong.
"Owh..." Abbey mengganggukan kepalanya percaya begitu saja.
__ADS_1
ayah Tama mendekat kearah Abbey dan memengang kedua pundak putrinya.
"Sekarang kita lebih baik kerumah sakit, dokter nya sudah menunggu disana..."
"Iya yah..."
Mereka pun pergi menuju rumah sakit dan perasaan ayah Tama begitu lega bahwa sang anak percaya dengan katanya.
•••••
"Bagaimana?" Tanya varrel.
Gibran mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya dan ia duduk disamping temannya. Mereka sekarang sedang berada di balkon rumah nya tepatnya lantai tiga dekat kamar tamu.
"Mengapa sebentar ngomong nya?"
"Padahal aku ingin sekali berbicara dengan nya tapi aku takut nanti nya ayah akan marah."
"Lo beneran pengen ngomong sama Abbey?" Tanya varrel.
"Iya, aku beneran rindu sekali dengan suaranya..." Ucap gibran kembali sedih.
Gibran memegang kedua tangan varrel, matanya begitu sayu. Ada kerinduan didalam mata itu. "Rell apa Lo bisa bantu gue, untuk bilang sama ayah bahwa gue pengen ngomong sama Abbey sekali aja... pliss gue mohon ya... Lo mau kan bantu gue" Mohon Gibran.
Varrel melihat itu menjadi kasihan dan iya mengiyakan nya.
__ADS_1
"Lo tenag aja gue akan ngomong sama bokap gue bahwa Lo pengen banget ngomong sama Abbey bagaimana pun caranya, okay..." Kini varrel menepuk pundak Gibran.
"Terima kasih yah, Lo memang bukan sahabat yang terbaik doang tapi sudah menjadi kakak ipar terbaik buat gue... sekali lagi terima kasih ya?"
Tanpa dari kedua sahabat nya itu termasuk Ryan sadari Gibran mendiamkan mereka, hanya menonton mereka sedari tadi tidak ada lontarkan perkataan dari mulut mereka.
"Gib lo seperti nya udah semakin cinta aja sama Abbey..." Ucap Ryan mengalihkan pembicaraan mereka yang duduk berada didekat balkon - balkon.
"Iya, kayak nya gue sudah jatuh cinta sama dia..." Jawab gibran.
"Kalau Lo memang sudah jatuh cinta kepada Abbey... kapan lo nyatain cinta sama dia...?" Ucap Oliver.
"Gue juga ngak tahu kapan, tapi gue bakalan tunggu dia pulang kembali ke Bandung... kapanpun itu..." Gibran merasa pasrah ia tidak akan tahu kapan Abbey akan pulang dan kapan ia bisa berani akan mengungkapkan perasaan nya bahwa dirinya jatuh cinta kepada Abbey.
"Whattts Lo bakalan nungguin dia selama itu? kalau Lo menunggu tanpa tahu pasti kapan abbey pulang malahan perasaan Abbey akan berpindah ke lain hati..." Ucap Oliver.
•
•
•
•
•
__ADS_1
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️