
Sekarang mereka ada didalam mobil Lucas hanya terdiam tanpa berkata sepatah katapun. Menanyakan keadaan nya sekalipun ia tidak berani. Ia hanya bisa mencuri - curi pandang lewat kaca mobil di atasnya.
"tuan sedari tadi hanya diam, apa yang terjadi padanya?" gumam Lucas dalam hati.
Sesampainya di apartemen.
"tuan kita telah sampai. apa tuan sudah mendingan ?" tiba - tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Lucas, membuka pintu mobil untuk tuannya.
"Hem.." dan jawaban gibran lagi - lagi berdehem.
"Tuan apa kau butuh sesuatu? agar aku belikan." ucap Lucas dengan hati - hati takut tuannya akan marah padanya. Ia mengikuti langkah tuannya itu memasuki lift.
"Hem.." Jawab gibran.
lagi - lagi Lucas hanya menghela nafas nya dengan kasar. Ia tidak habis pikir apa tuannya itu sedang bisu. Entahlah, sedari tadi hanya itu yang ia dengar dari mulut tuannya.
Sesaat ia masuk kedalam ruangan apartemen nya begitu sangat berantakan barang - barang berserakan sana - sini, siapa lagi yang berulah selain dirinya sendiri. Ia ternyata tidak bisa mengontrol rasa emosinya.
"Ck.. aku males lagi harus bersih - bersih." gumam gibran dalam hati.
Ia kini menatap sekretaris nya Lucas yang berdiri di samping nya.
"Ada apa tuan?" tanya Lucas yang merasa ditatap.
__ADS_1
"kau bereskan ruangan ini Sampai bersih dan dalam waktu beberapa menit harus bersih tidak ada debu sekali pun. Saya mau istirahat dulu diruang kerja." Gibran melangkahkan kakinya berlalu pergi dari hadapan sekretaris nya yang hanya menggerutu kesal terhadap tuannya.
"ck... selalu saja suka memerintah. aku kan bukan asisten nya, aku ini sekretaris mu tuan." gerutu Lucas dengan terpaksa membersihkan ruangan itu satu persatu.
Sementara didalam ruang kerja gibran kini mendudukkan dirinya dikursi putar kerjanya. Sembari memejamkan matanya sejenak.
"Abbey?" tiba - tiba pikiran nya menyebut nama perempuan itu. yang selalu merusak suasana hatinya menjadi kacau.
"baiklah. tenangkan dirimu gib, aku akan melakukan sesuatu. Ya, aku akan melakukan sesuatu." Gumam nya dalam hati. Ia mencoba menegarkan dirinya sendiri.
"Jika memang abbey telah memiliki suami dan anak, aku bisa saja mengambil Abbey. aku akan menjadi kan Abbey milikku Seutuhnya bagaimana pun caranya.. aku akan melakukan sesuatu." gumamnya dalam hati ia tersenyum penuh arti masih menutup kedua matanya.
"Seorang gibran Baron Alexi pewaris tunggal Zafano tidak akan mudah lemah dan putus asa. aku akan bisa memiliki semua yang ku inginkan." gumamnya dalam hati lagi.
Lucas baru menyelesaikan semua pekerjaan nya dengan terpaksa.
"Akhirnya beres juga bersih dan kinclong." Ia merengangkan otot - ototnya yang hampir terasa remuk.
"Aku harus menemui tuan pasti dia akan merasa berterima kasih kepada ku." ucapnya berjalan menuju ruangan tuannya.
tok tok Lucas mengetuk pintu itu tetapi tidak ada jawaban dari siapapun. "tuan," panggil nya.
Sekali lagi ia mengetuk pintu itu tidak mendapatkan jawaban juga.
__ADS_1
"ck.. jika aku buka nanti dia akan marah." pikir nya.
"Ah masuk aja lah ngak apa - apa dimarahi yang penting pekerjaan sudah kelar pasti dia akan senang." Ucap Lucas membuka pintu nya.
Ia melihat tuannya sedang duduk santai dikursi kerjanya dengan menutup kedua matanya.
"Astaga dia tidur? pantas saja dia tidak mendengarnya." Ucap Lucas ia mendekati tuannya itu.
"Tuan.." Bisiknya.
Gibran terlonjak kaget. "Astaga Lucas ngapain kau ada disini? keluarlah! kau benar tidak sopan masuk keruangan ku tanpa mengetuk pintu terdulu." seru gibran.
"Maaf tuan, tadi saya sudah mengetuknya berkali - kali tetapi tuan tidak mendengar nya. jadi saya terpaksa masuk." Jawab Lucas dengan santainya.
"Oh jadi gitu ya." gumam gibran dalam hati.
"Apa kau sudah menyelesaikan tugas mu itu?"
"Sudah tuan."
"Bagus, baiklah kau boleh pergi."
"hah hanya itu, dia mengusirku? dasar punya tuan tidak ada berterima kasih nya sama sekali." gumam Lucas dalam hati berlalu pergi.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️