
Gibran berlalu masuk kedalam kamar nya dan abbey mengetahui itu ia dengan cepat mendekati lelaki itu.
"Kenapa lama sekali pulang, aku menunggu mu"
"Kamu tidak perlu tahu. Terserah aku mau pulang atau tidak" Jawab gibran ketus.
Abbey mengerucutkan keningnya heran dengan sikap gibran seperti tidak biasanya. "baiklah, kalau begitu biarkan aku pergi dari sini. aku ingin kembali ke hotel." Jawab Abbey. Ia sebenarnya takut akan mengatakan itu tetapi ia mencoba memberanikan diri.
"Pulanglah. aku tidak peduli!" ketus gibran lagi ia memilih masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintu itu dengan keras membuat Abbey terlonjak kaget.
"Dia kenapa sih?!" Ucap Abbey heran.
"Baguslah jika dia mengusirku, aku lebih leluasa bisa keluar rumah tanpa harus dilarang ini itu." Ucap Abbey mengambil tasnya dan berlalu pergi dari apartemen itu. Ia tidak berpamitan langsung pergi begitu saja.
Setelah dibawah gedung apartemen.
Abbey berjalan menuju ke jalan besar yang dipenuhi dengan kendaraan berlalu lalang. Ia menghentikan salah satu taksi.
Dari kejauhan.
"loh itu bukannya Abbey? apa penglihatan aku saja yang rabun?" ucap Amira dari dalam mobilnya ia mencoba mengikuti mobil taksi itu pergi.
Setelah sesampainya disebuah hotel, Abbey langsung saja masuk ke dalam gedung hotel itu. Ia menaiki sebuah lift, dan lift itu berhenti tepat lantai tujuh ia segera menuju ke kamar nya.
__ADS_1
"Astaga aku lupa lagi kamar ku nomor berapa ya?" pikir Abbey. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tak merasa gatal.
tiba - tiba ada yang mennyentuh pundaknya membuat abbey terkejut. "Ha....ntu!" teriak Abbey ia berlari menuju kearah pintu lift dan bersembunyi disana.
"Kenapa dia lari?" ucap Amira. Ia tidak sengaja mengikuti perempuan yang ia ingin ketahui siapa perempuan itu apa benar Abbey atau bukan? tetapi ia malah melarikan diri.
"Heyyy tunggu!" teriak Amira ia mengikuti kemana perempuan itu pergi dan untungnya lift itu belum tertutup sempurna. Ia melihat perempuan itu berjongkok didekat dinding lift dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mbak?" panggil Amira ia menepuk bahu gadis itu sekali lagi.
"Jangan takuti aku! aku tidak salah apapun!" seru Abbey dengan ketakutan ia tidak berani membuka wajah nya.
"Heyyyy siapa menakuti mu!" seru Amira yang mulai kesal dengan perempuan yang belum ia lihat wajah nya itu.
Amira matanya membulat sempurna saat mengetahui siapa perempuan itu. Mereka kini saling memandang antara satu sama lain sejenak.
"abbey..?"
"Amira...?"
Ucap mereka bersamaan, Abbey berdiri dari tempat ia menyeimbangkan tubuhnya dengan Amira.
"Setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu kau kini baru terlihat,"
__ADS_1
"Kemana saja kau selama ini, gibran telah mencari mu kemana - mana kenapa baru muncul," seru Amira. Ia menguncang tubuh Abbey yang hanya terdiam membeku itu.
"Ak...u----"
"Sudahlah lebih baik sekarang kau temui lah gibran pasti dia akan senang. Aku akan mengantarmu." Ucap Amira dengan senang ia menekan tombol lift itu menuju kelantai bawah.
••
drt.. drt...
Ponsel gibran berdering diatas nakas dan Gibran mengambil ponselnya yang berdering itu.
"Ada apa?" tanya nya.
"Maaf tuan mengganggu. saya sudah mendapatkan informasi tentang nona." Ucap seseorang disebrang ponsel dan itu sekretaris nya.
"Katakanlah." Ucap gibran.
"Saya mendengar bahwa nona Abbey tinggal diingris dan ia tinggal bersama temannya bernama Clarissa dirumah yang sederhana dan ada satu nama gibey dan ternyata ia memiliki putra." Ucap nya menjelaskan panjang lebar.
Gibran membulatkan matanya kaget, "apa putra?!" seru gibran.
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️
__ADS_1