Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Ch 193 - Marah besar


__ADS_3

Gibran memijit keningnya yang hampir berpikir terlalu keras. Ia mengingat - ingat kejadian beberapa tahun yang lalu disaat Abbey hamil.


"Ini ngak mungkin Abbey memiliki anak? Setahu aku, Abbey telah digugurkan bayinya entah aku tidak tahu siapa orang nya." gibran mengepalkan kedua tangannya mengingat itu semua.


Ya beberapa tahun yang lalu ia mencoba beberapa pengawal nya lagi untuk mencari keberadaan Abbey sampai keluar negeri karena saking gila nya merindukan perempuan itu. Sampai beberapa bulan kemudian salah satu pengawal mengatakan bahwa diri nya mendapatkan kabar bahwa Abbey bayinya telah digugurkan oleh seseorang.


"Jangan - jangan Abbey menikah lagi! dan menghianati ku! atau kata sayang itu adalah panggilan suaminya!" seru gibran.


Tubuh nya seakan bergetar dan dia meremas apa yang ia pegang begitu kuat sampai ponsel yang ada ditangannya itu pecah.


Pikiran dan hatinya sedih, rapuh, dan hancur membayangkan bahwa semua yang ada didalam pikiran nya benar adanya.


"Abbey! kau telah menghianatiku!!!" teriak gibran melempar semua barang yang ada didalam kamar nya.


"Arrghhhhhhhh!!" teriaknya. Matanya sudah menetes dan ia hanya bisa melampiaskan rasa kesedihan yang membuncah dihatinya dengan cara melempar semua barang yang ada dikamar nya meskipun benda itu sangat berguna baginya.


"Abbey dimana kau! aku akan mencari mu!! kau harus menjelaskan ini semua kepada ku!!!" teriak gibran.

__ADS_1


Ting tong (Bell apartemen langsung berbunyi dan gibran mendengar itu langsung saja membuka pintu apartemen nya)


"Tada..." Seru Amira dengan menampakkan gigi ratanya nan putih masih terlihat sangat cantik jika tersenyum.


"Kau?" Gibran mengerutkan keningnya. Ia berusaha menstabilkan emosinya. "Ngapain kau kesini?" seru gibran.


Tanpa gibran sadari Abbey bersembunyi sedari tadi dibalik punggung Amira.


"hey, kenapa ketus begitu. aku kesini memangnya tidak boleh." Cemberut Amira.


"Perasaan aku selalu setiap hari kesini, kau tidak pernah seketus itu kepada ku." Pura - pura sedih.


"Aku ada sesuatu ingin aku perlihatkan kepada mu." Ucap Amira membuat gibran semakin mengerutkan keningnya.


"Tada..." Amira menjauhkan tubuhnya dari Abbey yang sembunyi dibelakang nya sedari tadi dan mendorong tubuh Abbey lebih dekat lagi pada gibran dan tepat disampingnya.


"Siapa yang aku temui." Tebak Amira.

__ADS_1


Gibran matanya membulat sempurna dan kini darah nya semakin mendidih. Dia perempuan ini yang ia cari, ingin meminta penjelasan lebih detail lagi. Apa yang dikatakan oleh sekretaris nya benar adanya atau tidak?!


"Hey kenapa diam? ayo tebak!" seru Amira ia begitu kesal dengan sikap gibran masih terlihat dingin dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Baiklah kau bisa pergi sekarang dan aku ingin berbicara dengan nya." Ucap gibran menyeret lengan Abbey masuk kedalam apartemen nya lagi dan mengunci pintu apartemen nya rapat - rapat.


"Gibran!!! hey jawab dulu pertanyaan ku!!" teriak Amira dari luar ia memencet bell itu berkali - kali.


"Ah sial, benar - benar yah sudah aku tolongin secara baik - baik dia malah membalasnya dengan sangat dingin. lain kali aku tidak mau berteman dengan nya lagi!" seru Amira menghentakan kakinya pergi dari sana.


Sementara didalam.


Gibran menghempaskan Abbey ke tempat tidur nya dengan begitu sangat kasar.


"Aw, kamu bisa pelan - pelan ngak sih! tangan aku sakit!" seru Abbey begitu kesal dengan gibran sangat kasar dengannya ini pertama kalinya.


"Katakanlah sejujurnya! katakanlah apa kau memiliki seorang anak! cepat katakan!!" teriak gibran menguncang tubuh Abbey dengan begitu keras.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️


__ADS_2