Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 71


__ADS_3

Gibran yang baru sampai di rumah sakit tempat Amira berada, ia langsung saja masuk kedalam ruangan kamar VIV ruangan tempat Amira ditempatkan.


"Amira?" Panggil gibran.


Langsung saja dibalas pelukan oleh Amira.


"Gibran? Aku takut gibran... aku takut... hiksss..." Amira memeluk tubuh gibran dengan meneteskan air matanya.


"Kamu ngak usah takut, sekarang ada aku disini..." Membalas pelukan Amira.


Dokter yang menangani Amira masuk kedalam ruangan untuk mengecek keadaan Amira.


"Permisi tuan,"


"Apakah tuan bisa keluar sebentar,"


"Bisa dok..." Gibran ingin keluar tetapi Amira menahan tubuhnya memeluknya dengan erat.


"Jangan tinggalkan aku..."


"Aku harus keluar cuma sebentar kok ya..."


"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan tinggalkan aku..."


"Hmm..."


Setelah dokter memeriksa keadaan nya.


"Bagaimana keadaan nya dok?"


"Tuan ikut saya sebentar ada yang saya ingin katakan dengan kondisi pasien..." Ujar pak dokter berjalan pergi.


Gibran mengikuti arah pak dokter dan kini mereka berada didalam sebuah ruangan dan gibran dipersilahkan duduk.


"Bagaimana dok dengan keadaan nya? Apa ada keluhan?" tanya gibran tanpa basa basi.

__ADS_1


"Sebenarnya pasien mengalami benturan keras, dia mengalami masalah dibagian ginjalnya."


"Dia harus segera dioperasi, apa keluarga nya ada disini?"


"Jika pihak keluarga nya ada yang cocok dengan ginjalnya maka operasi akan segera dilaksanakan.."


Gibran begitu kaget ia tak bisa berhenti berbicara dan ingatan tentang pembicaraan nya terhadap ayahnya kemarin malam membuat nya berubah pikiran.


"Bisa tolong periksa saya saj dok? jika cocok, donorkan punyaku saja" Jawab gibran tanpa berpikir panjang.


"Apa kamu serius? kamu sudah tau setelah pasca operasi apa yang akan terjadi pada dirimu?" Tanya pak dokter meyakinkan.


"Saya siap menerima sekuensi nya..."


"Baiklah, kalau begitu besok kamu datang lagi kesini melakukan tes untuk pencocokan nya..."


"Makasih dok..." Gibran pun pergi dari ruangan itu dan saat diluar ia menyadari bahwa Abbey tidak sengaja menguping pembicaraan nya.


Abbey yang mendengar nya begitu syok dengan apa yang telah ia dengar sampai bunga yang ia bawa itu terjatuh.


Gibran begitu kaget melihat keberadaan Abbey tiba - tiba berada dirumah sakit.


"Abbey dengar penjelasan aku dulu! Abbey tunggu!" Gibran ingin mengejar nya tapi ia kehilangan jejak nya.


Ia hanya bisa menyenderkan tubuhnya di tembok dengan memijit pelipisnya.


"Maafkan aku Abbey, tidak ada pilihan lain lagi aku harus melakukan ini... mungkin jika aku pergi dari sisimu kamu akan mendapatkan kebahagiaan... maafkan aku Abbey" Batinnya dengan tangisan.


Flashback....


Saat itu gibran dan tuan Bima sedang berduaan disebuah balkon rumah hanya ada empat pasang mata.


"Ada apa yah kenapa kita harus berbicara Disini.?" Tanya gibran penasaran.


"Sebenarnya... ayah ingin kamu mengabulkan permintaan ayah kali ini aja... apakah setelah ayah mengatakan nya kamu ingin menepati janji mu?"

__ADS_1


Gibran tak tahu apa yang ingin dibicarakan dalam ayah mertuanya itu tetapi iya atau tidak gibran harus menyetujui nya terlebih dulu.


"Baiklah gibran janji, memangnya ada apa?" tanya gibran heran.


"Sebenarnya... ayah ingin kamu meninggalkan Abbey untuk sementara... tapi ayah melakukan ini bukan karena kamu melakukan kesalahan"


Gibran begitu kaget mendengar perkataan ayah mertuanya. Meninggalkan Abbey? Ngak itu ngak mungkin! Gibran ngak bisa meninggalkan Abbey karena ia tidak bisa hidup tanpa Abbey. Hanya itu yang ada dibatin gibran.


"Maafkan ayah harus melakukan ini nak..." ucap tuan Bima.


"Tapi memangnya kenapa gibran harus meninggalkan Abbey?"


"Kamu tahu saat Abbey saat berada dirumah sakit saat itu?"


"Yah aku ingat memangnya ada apa?" Tanya gibran heran.


"Sebenarnya Abbey mengalami ngangguan pada kepalanya dan itu penyebab dari kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu dan jika sampai kepala Abbey kumat lagi dan itu menyebabkan nya amnesia"


"Dan dia akan melupakan semua orang yang ia kenal termasuk kamu, dan itu membuat ayah takut kamu akan merasa sedih..."


"Apa? jadi..."


"Gibran ayah mohon..." Mengenggam kedua tangan gibran.


"Baiklah akan gibran pertimbangkan..."






__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️


__ADS_2