
...••••••••...
Taman
"Kamu ngapain ngajak aku kesini?"
"Tapi kamu suka kan? Apakah kamu ingat dengan tempat ini..."
Iya, Abbey baru ingat taman tempat mereka kunjungi saat ini. Ia ingat bahwa waktu kecil ia pernah kesana dengan sahabatnya yaitu Al. Mereka selalu menghabiskan waktu selalu bersama setiap pagi sampai sore dan saat menjelang pukul 17.00 mereka segera pulang.
Tapi dipikirannya sekarang mengapa Alden mengingat itu semua? apa jangan - jangan Alden tahu lagi bahwa dia adalah sahabat kecilnya!! bagaimana mungkin dia belum sama sekali menceritakan semuanya? hanya itu dipikiran nya.
"Hey Abbey kok bengong sih, lagi mikirin apaan sih?" Alden mengepak bahu sebelah kiri Abbey yang sedang melamun.
"Hah, aku cuma lagi... hah lupakan saja. Oh ya kenapa kamu bisa tahu aku ini sahabat kecilmu dan aku belum sama sekali mengetahui nya?" Tanya Abbey dengan raut wajah nya begitu penasaran.
"Iya.." Alden menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku tidak sengaja menceritakan nya kepada kakekmu dan ia menceritakan semuanya dan aku benar terkejut ternyata benar sahabat kecilku itu adalah kamu."
"Kenapa pikiran kita sama ya... hahaha " Ucap Abbey sedikit tertawa.
"Lupakan sajalah itu bagaimana kalau kita duduk Disini saja kita cerita - cerita yang lucu - lucu waktu kita kecil?"
"Hmm ... itu ide yang bagus."
|||||||||•|||||
__ADS_1
Dikediaman kakek Tama
"Ayah rasa antara Al dan Abbey seperti nya begitu sangat dekat." Ucap Kakek Tama basa basi. Namun tuan Bima hanya kebingungan dengan perkataan ayahnya.
"Apa maksud dari perkataan ayah?" Batinnya.
"Maksudnya?" Tanya ayah Bima dengan beraninya.
Mereka sekarang berada di ruang tamu sambil menyelipkan sedikit perbincangan antara anak dan ayahnya.
"Maksud ku, ayah ingin Abbey dijodohkan saja dengan Al. lagi pula mereka begitu sangat dekat dari kecil." Ujar kakek Tama. Ayah Bima mendengar nya begitu kaget. Ia harus mengatakan sejujurnya bahwa cucunya Abbey sudah menikah tetapi bagaimana caranya.
"Tapi... yah Abbey itu masih sekolah. dia harus menyelesaikan sekolah nya sampai sarjana nya untuk menggapai cita - citanya bukannya ayah ingin Abbey meneruskan bisnis ayah sebagai produser?" Ucap ayah Bima berusaha mengubah keputusan ayahnya itu.
"Keputusan ayah sudah bulat, al juga anak yang baik kok... nanti kita coba bicarakan baik - baik dengan Abbey bagaimana?"
"Tidak ada kata tapi - tapian kamu telpon sekarang juga anakmu itu yang sedang mengatar siapa itu?" seingatnya. "Temannya gibran untuk segera pulang untuk membicarakan nya." Ujar kakek Tama langsung berlalu pergi dari hadapan ayah Bima.
ayah Bima mengacak - acak rambutnya prustasi." bagaimana ini apa yang harus aku lakukan?" Gumam nya.
"Apa aku harus katakan sejujurnya saja bahwa Abbey telah menikah dengan gibran? iya aku harus mengatakan nya dari pada perjodohan ini harus terjadi..." Ucap ayah Bima dengan tegas.
...•••••••••••...
Suara ponsel Abbey berdering ia mengangkat nya dan dibalik nya terdengar suara dari ayahnya Bima.
__ADS_1
"Halo yah...? ada apa ?."
"Abbey cepat pulanglah. ada sesuatu yang ingin ayah katakan..."
"Baik yah... Sebentar lagi Abbey akan pulang,,"
Mereka mengakhiri ponselnya dan langsung saja Abbey menuju kerumahnya dan diantar oleh Alden dengan kendaraan mobilnya.
Sesampainya di rumah...
"Al terima kasih sekali lagi sudah mengatarkan ku pulang."
"Hmm... sama - sama. kalau begitu sampai jumpa nanti malam aku akan datang berkunjung kesini bersama orang tuaku."
"Oh jadi kedua orang tuamu sudah pulang ke Jakarta? Kalau begitu sampaikan salam ku ya... bye."
Abbey melambaikan tangan nya kepada Alden tanpa mereka ketahui ada sosok yang menatap mereka dari kejauhan.
•
•
•
•
__ADS_1
•
Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️