Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Ch 209


__ADS_3

Sore harinya..


Abbey terbangun dari tidur nya, ia menyipitkan kedua matanya berusaha mengembalikan kesadaran nya. Ia baru mengingat dengan kejadian tadi siang, ia membuka selimut nya matanya membulat dengan sempurna.


"Gibran!!!!!" teriaknya. Ia begitu kaget tubuhnya benar - benar tidak menggunakan sehelai benang pun.


"Benar - benar yah, dia telah memperkosaku sekarang dia malah meninggalkan ku sendirian. dasar suami brengsek!" teriak Abbey ia turun dari tempat tidurnya yang masih selimut itu membungkus pada tubuhnya.


"Akh, sakit sekali." Pekik Abbey ia begitu susah untuk bangun dari tempat tidurnya karena ini akibat ulah gibran. Ia telah melakukan nya semalam dengan paksa.


tok tok


"Sayang." Suara mama Adelia tiba - tiba muncul dari balik pintu kamar Abbey membuat Abbey terkejut dan ia cepat - cepat kembali tidur.


"Masuk saja ma, uhuk... uhuk..." Abbey pura - pura terbatuk - batuk.


Ceklek, mama Adelia membuka pintu kamar itu dan membawakan bubur dan minuman teh hijau hangat berisi nampan.


"Nak, kamu sakit ya sayang?" tanya mama Adelia ia menaruh nampan itu dimeja samping tempat tidur dan duduk disamping abbey tertidur.


"Dari mana mama tahu?"

__ADS_1


"tadi Gibran yang bilang, sampai dia buatin kamu bubur sama teh hangat." ucap mama adelia.


"Pintar juga dia buat alasan dan sejak kapan ia pintar masak?" gumam Abbey dalam hati. Tetapi ia menepis pikiran nya itu.


"Uhuk.. uhuk... iya ma.. entah kenapa, uhuk... uhuk... tenggorokan Abbey merasa gatal." Ucap Abbey berbohong, ia pura - pura semakin menyelimuti tubuh nya semakin atas dan mengingil kedinginan.


"Apa sakit nya parah? atau biar mama panggil kan dokter biar memeriksa kamu." Ucap mama Adelia begitu khawatir.


"tidak ma, besok juga sembuh." Ucap abbey dengan tertawa kecil.


"Baiklah kalau begitu, kamu makana dulu ya. biar mama soapin ya." Ucap mama Adelia ia menaruh nampan itu kini dipangkuan nya dan mengambil sesendok bubur.


"Jangan ma, nanti Abbey saja, mama mendingan beres - beres yang lain saja mungkin mama belum masak makan malam kan?" ucap Abbey membuat alasan.


Abbey hanya mengganggukan kepalanya.


Setelah kepergian mama Adelia dikamar nya Abbey menghela nafas lega. "Ah syukurlah ngak ketahuan, " Ucap Abbey, ia memilih lanjut memakan buburnya ketimbang harus menuju kamar mandi lagi pula ia tidak bisa berdiri toh. Gibran juga tidak ada disana, padahal ia ingin sekali meminta bantuan dari nya.


••


Sementara gibran yang ada dikamar nya kini hanya merenung, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu apa yang telah ia lakukan kepada Abbey.

__ADS_1


"Untung aku bisa sampai rumah."


"Jika tidak, aku akan terjebak bersama wanita licik itu.. bagaimana bisa ia memasukkan obat perangsang kedalam nya." Gumam gibran dalam hati.


Flashback...


Saat itu gibran baru selesai dari kamar mandi dan kini ia kembali menemui Vita sekretaris nya itu atau dibilang teman patnernya.


"Gibran ini aku tadi memesan kan minuman untuk mu, kamu bisa kan meminumnya?" Ucap Vita dengan Menyodorkan minuman berwarna kuning yang bersoda itu.


"Maaf tapi aku tidak bisa."


"Ayolah gib hanya sekali, kau pasti akan suka." ucap Vita memaksa.


"Hmmm... baiklah." Gibran pun meminum nya tanpa menaruh curiga.


Beberapa saat kemudian, ia merasakan sesuatu pada tubuhnya ada gejala ransangan. Entah yang gibran tidak tahu, sehingga Vita menyadari itu.


"Ada apa?"


"tidak tahu tubuhku rasanya----" Gibran memotong pembicaraan ia begitu tidak bisa menahannya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️


__ADS_2