
Dibandara internasional Indonesia.
Bandung.
Seorang perempuan terbilang masih muda itu terbilang cukup muda seumuran dengan Abbey. Ia sedang berdiri disana bersama dengan anak kecil yang kini berada digendongan nya menunggu keberadaan seseorang.
"Clarissa!" teriak seseorang dari kejauhan, ia melambaikan tangannya dan berlari kearah nya.
Dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nya, "Kakak!" teriaknya.
Ia begitu senang bertemu dengan kakak kembarnya itu. Bertahun - tahun lamanya tidak pernah bertemu dan menjalin komunikasi karena sebuah alasan menyebabkan mereka harus berpisah juga.
"apa kau lama menunggu kakak?" tanya Ryan. tatapan nya kini menatap kearah bocah laki laki yang ada di gendongan Clarissa.
Ya dia Ryan alveno Vallen. Ia selama ini telah memiliki seorang adik kecil, mereka sengaja dipisahkan oleh kedua orang tua mereka. Tetapi karena sebuah insiden antara keluarga tuan Zafano dan keluarga kedua orang tua nya terutama ibunya Merina membuat nya diam - diam melarikan diri keluar negeri saat itu usia nya terbilang 11 THN.
"dan siapa bocah kecil ini?" disaat gibey mengetahui ia ditatap oleh pria begitu asing bagi nya, ia menyembunyikan wajahnya di leher Clarissa.
"Ibeyyy takut. paman itu menatap ibey" Bisiknya pada Clarissa.
__ADS_1
"Katakan siapa dia?" tanya Ryan kembali ia begitu sangat marah pada adiknya itu. Ia takut apa yang ada dalam pikiran nya benar adanya.
"Apa kau sudah menikah dan ini anakmu?" tanya Ryan kembali penuh menyelidik.
"Kak kau keterlaluan sekali mengatakan itu, dia anak teman aku. Dia menitipkan putra nya padaku hanya itu jangan selalu berbicara aneh - aneh aku ngak mungkin akan menikah jika sudah waktunya." Seru Clarissa.
"Maaf. kakak tidak tahu. kalau begitu sini peluk kakak. kakak kangen kamu," Ucap Ryan Merentangkan kedua tangannya memberikan Clarissa untuk memeluknya.
"Gibeyyy turun sebentar ya." Menurunkan gibey dari gendongan nya.
"Tapi ante ibey takut sama paman itu." Ucap ibey yang kini memeluk kaki Clarissa yang kini hanya tertawa kecil.
"Kak, clarissa kangen banget sama kakak. Gimana kabar ibu apa dia baik - baik saja?" tanya Clarissa. Ini pertama kalinya ia menanyakan kabar ibunya.
Ryan menghembuskan nafasnya dengan kasar melepaskan pelukan adiknya itu.
"Ada apa? apa ada sesuatu terhadap ibu?" tanya Clarissa begitu khawatir karena terlihat begitu jelas dari kedua bola mata kakak nya ada kesedihan.
"Ibu sekarang sakit - sakitan entahlah aku tidak tahu kapan sembuh nya. kakak sudah berkali - kali mengobati ibumu tetap saja ia tidak bisa sembuh dan sekarang ia hanya mengurung dirinya dikamar dan tidak ingin berbicara dengan siapapun." Ucap Ryan dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jadi pengen ketemu ibu."
"Jadi kalau begitu kita pulang sekarang saja. mungkin jika ibu melihat mu dia akan senang." Ucap Ryan.
"Baiklah," Ia mengendong gibey.
"Ante Isa kita mau kemana? apa mau bertemu mom?" tanya nya dengan menampakkan gigi susunya yang akan tumbuh itu.
"Tidak sayang, kita kerumah paman ini ya. nanti mom ibey pasti datang menjemput mu disana, Tante sudah menelponnya barusan." Ucap Clarissa berbohong.
"Benarkah? asyikkk ketemu mom. pasti mom akan membelikan ibey es klim dan mainan balu.".
"Iya sayang." Ucap Clarissa mencium pipi gibey gemas.
Mereka kini dalam perjalanan menuju kediaman Ryan tinggal.
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️
__ADS_1