Pernikahan Pewaris Tunggal

Pernikahan Pewaris Tunggal
Part 90


__ADS_3

"Ya yah, aku harus pulang ini kemauan Abbey... Ia menyuruh ku untuk kembali," Gibran menjawab nya.


"Tapi kamu bisa tinggal selama beberapa hari disini dulu, ayah juga tidak melarang mu untuk bertemu dengan Abbey terkecuali kamu menculik nya secara diam - diam seperti tadi itu semua membuat ayah syok." Ayah Bima menekankan perkataan nya membuat gibran merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya.


Gibran hanya terdiam tanpa menjawab apapun. "Maafkan aku..." Cicitnya.


"Baiklah kamu datangi istrimu jika kamu ingin pulang seperti nya dia sedang sedih dikamar, mungkin dia mengira ayah nya melarangnya untuk bertemu dengan mu." Ujar Ayah Bima.


"Baik yah, kalau begitu Gibran permisi dulu." Pamit gibran menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan kerja ayah Bima.


•••••


"Al kenapa kamu bengong?" Tanya kakek Tama yang tiba - tiba datang dan duduk disampingnya.


Kini mereka berada di sebuah ruangan tempat istirahat. Ada sofa tempat seperti ruang tamu disana termasuk tempat bermain khusus seperti bermain bola tenis dan lainnya.


"Eh bapak, Ngak kok saya lagi memikirkan tentang ibu saya yang ada dibandung..." Ujar Alden berbohong.


Kakek Tama menghela nafasnya dan mengusap - usap bahu kiri Alden. "Saya tahu kamu sedang memikirkan sesuatu? Oh ya menurut mu cucu saya yang datang tadi seperti apa?" Tanya kakek Tama mengalihkan pembicaraan nya.


"Ah maksud bapak Abbey?" Tanya Alden dan menatap kearah kakek paruh baya itu yang ia anggap seperti kakeknya sendiri.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan Abbey?"


"Maksud bapak seperti apa maksud nya?" tanya Alden mengerutkan keningnya.


"Semacam cantik atau bagaimana gitu...?"


"Menurut saya Abbey itu cantik kok dan baik, tapi...?" Alden menurunkan perkataan nya dan menundukkan kepalanya ragu.


"Tapi apa?"


"Tapi..? Saya merasa nama Abbey itu begitu tidak asing dengan nama itu.." Ujar Alden.


"Maksud mu kamu mengenal Abbey sudah lama?"


"Sahabat kecil?" Kakek Tama mengingat - ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat Abbey masih menginjak usia anak - anak. Ya ia baru ingat, cucunya itu Abbey pernah memiliki teman kecil laki - laki yang selalu bersama nya saat itu, ia masih terlihat begitu ingat Wajah anak laki - laki itu. Dulu kakek Tama selalu menemani cucunya itu bermain ditaman hiburan sesama waktu dia masih muda karena sang ayahnya Bima pergi meninggalkan putrinya selama beberapa hari ke Bandung jadi ia menitipkan pada nya.


"Aku ingat..."


"Ingat apa? bapak ingat apa?" Tanya Alden binggung.


"Bapak ingat, saya pernah melihat sosok anak laki - laki saat waktu kecil ia selalu bermain dengan cucu saya,"

__ADS_1


"Memangnya siapa namanya?" Tanya Alden penasaran. "Kalau tidak salah namanya..? Cucu saya pernah manggil namanya Al... ya, Al" Kakek mengingatkan.


Gibran terlonjak senang bahwa benar ternyata Abbey sebenarnya sahabat kecilnya yang ia cari - cari sejak lama.


"Jadi Abbey itu sahabat kecilku? ya, tuhan..? aku benar - benar senang sekali.. Ternyata dugaan saya benar pak kalau Abbey itu sahabat kecil saya!"


"Maksud kamu itu Al kecil? Anak laki - laki berusia lima tahun beberapa tahun yang lalu...?" Tanya Kakek meyakinkan dengan ekspresi tidak percaya.


"Ya, ini saya Al... Sahabat kecil Abbey,"


"Ya, tuhan.. padahal aku Setiap hari bertemu dengan mu dan mengenalmu begitu sangat dekat kenapa aku baru menyadari bahwa kamu adalah Al bocah berusia lima tahun itu," Ujar kakek begitu terharu.






__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan dukung terus karya aku sekian terima kasih banyak ❤️


__ADS_2